Politikus NasDem Sindir AHY: Siapa yang Tak Pakai Buzzer dalam Berpolitik?

Sabtu, 11 September 2021 20:20 Reporter : Muhammad Genantan Saputra
Politikus NasDem Sindir AHY: Siapa yang Tak Pakai Buzzer dalam Berpolitik? AHY Tanggapi Keputusan Menkumham yang Tidak Akui Kepengurusan Kubu Moeldoko. ©2021 Liputan6.com/Faizal Fanani

Merdeka.com - Ketum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyoroti hadirnya pendengung atau buzzer di media sosial yang dianggapanya sebagai perusak tatanan demokrasi akibat penyebaran hoaks politik. Bahkan, AHY menilai serangan buzzer tersebut kerap diterima Partai Demokrat yang bertujuan untuk membungkam dan memecah belah.

Politisi Partai NasDem Irma Suryani Chaniago, menilai bahwa penggunaan buzzer wajar dalam berpolitik. Terlebih, Demokrat sudah pasti paham karena pernah menjadi partai penguasa.

"Pertanyaannya siapa yang tidak menggunakan buzzer dalam berpolitik? Buzzer bisa dari kader fanatik maupun dari profesional. Enggak perlu lempar batu sembunyi tangan, bagi semua orang politik, apa lagi orang-orang yang pernah berada dalam kekuasaan pasti mahfum dengan perilaku ini," katanya lewat pesan, Sabtu (11/9).

Menurutnya, sosialisasi, provokasi, agitasi dan propaganda adalah bagian yang tidak terpisahkan dari perilaku politik. Kata dia, siapapun dan partai manapun tidak lepas dari perilaku tersebut. Baik untuk pencitraan maupun untuk mendowgrade lawan politik.

"Makanya kalau enggak gatal jangan digaruk, kalo tidak mau dicubit ya jangan mencubit, jika tidak ingin dikritik ya jangan mengkritik! kalau tidak ingin dikimentari ya jangan mengomentari! Tak akan ada asap jika tidak ada api," sambungnya.

Menurutnya, negarawan harus lapang dada dan bijak. Dia mencontohkan Presiden Jokowi yang dihina secara fisik, dicaci maki, difitnah dan bully tetapi tetap santai.

"Tetap tenang dan tidak mendendam, karena beliau sadar bahwa untuk menjadi bapak bangsa harus punya mental baja," kata Jokowi.

"Sebagai rakyat wajar jika curhat ke presiden misalnya menagih janji-janji presiden dan mengkritisi presiden, tetapi jangan sampai presiden malah curhat pada rakyat, tidak boleh kebalik, kasihan rakyat sudah susah malah dicurhati," ujarnya.

Irma menyarankan kepada calon pemimpin indonesia masa depan untuk meniru sikap gentle dan bijak Presiden Jokowi dalam menghadapi para lawan politik dan para pembenci nya. Serta tiru sikap legowo dan gentle Ketum Gerindra Prabowo Subianto yang kini bergabung ke pemerintah.

"Demi persatuan dan kesatuan bangsa beliau ikhlas bahu membahu dengan lawan politik nya," pungkas eks anggota DPR ini.

Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyoroti hadirnya pendengung atau buzzer di media sosial dianggapanya sebagai perusak tatanan demokrasi akibat penyebaran hoaks politik.

“Saat ini kita hadapi perilaku-perilaku buruk para buzzer yang memang pekerjaan utamanya adalah untuk memproduksi dan menyebarluaskan hoaks politik,” kata AHY saat sanbutan pada perayaan HUT ke-20 Partai Demokrat, Kamis (9/9).

Bahkan, lanjut AHY serangan buzzer tersebut kerap diterima Partai Demokrat yang bertujuan untuk membungkam dan memecah belah.

“Mereka sebenarnya adalah perusak demokrasi dan telah memecah belah bangsa. Kita harus waspada dan kita harus berani tegar untuk menghadapi itu semua,” katanya.

Oleh karena itu, putra sulung Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meminta kepada seluruh kader untuk tetap waspada dan menjadi garda terdepan dalam melawan hoaks.

"Kita arus waspada dan kita harus berani tegar untuk menghadapi itu semua. Karena kita ingin menjadi garda terdepan dalam merawat dan memperjuangkan demokrasi," paparnya.

AHY memastikan terhadap seluruh kader Partai Demokrat untuk senantiasi memperjuangkan dan menjaga demokrasi.

"Hari ini dan 20 tahun selanjutnya ini yang disampaikan tadi, oleh kita pak SBY. Demokrat harus konsisten dalam perjuangan menjaga demokrasi seperti tadi yang saya cintai dan banggakan," jelasnya. [ray]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini