KPU Minta Jangan Persepsikan Catatan Capres Saat Debat Sebagai Contekan
Merdeka.com - Catatan yang dibawa pasangan capres-cawapres saat debat pertama pada Kamis (17/1) malam lalu ramai diributkan publik. Kedua paslon membawa contekan karena terlihat membaca kertas saat debat berlangsung.
Komisioner KPU RI Wahyu Setiawan meminta kepada publik agar jangan berasumsi bahwa catatan yang dibawa paslon itu adalah contekan.
"Perlu kami sampaikan, kalau menurut saya janganlah kemudian dipersepsikan setiap catatan itu contekan," kata Wahyu dalam diskusi yang diselenggarakan Perludem di D'Hotel, Jakarta Selatan, Minggu (20/1).
Wahyu mengatakan, para calon pemimpin harus berbicara berdasarkan data. Apalagi data yang berkaitan dengan angka sulit dihafal sehingga tak dipermasalahkan membawa catatan.
"Bisa jadi paslon itu membawa catatan. Para pemimpin itu kan harus berbicara berdasarkan data. Kalau kemudian data dari BPS, BPS dalam angka itu bagaimana cara menghafalkan? Jadi menurut saya kita tak perlu berlebihan melarang paslon bawa dokumen-dokumen yang diperlukan," jelasnya.
Dalam debat kedua, paslon tak akan diberikan abstraksi atau kisi-kisi materi debat. Dan dengan format baru ini, Wahyu mengatakan perdebatan telah selesai. Namun demikian, paslon dipersilakan membawa data yang dibutuhkan agar memudahkan mereka menyampaikan gagasannya.
"Dengan abstraksi kisi-kisi tak diberikan artinya sudah selesai perdebatan. Tetapi bahwa apabila paslon butuh data untuk menjelaskan pada rakyat gagasannya, itu boleh," jelasnya.
Dalam kesempatan ini, Wahyu juga mengungkapkan bahwa pihaknya merasa kecewa dengan para elit yang berisik saat debat berlangsung. Padahal debat ini adalah untuk rakyat.
"Debat ini milik rakyat, bukan milik elit politik. Kita juga kecewa elit itu berisik. Kenapa kami kecewa? Karena KPU itu tidak melayani elit politik. KPU itu melayani rakyat, pemilih untuk menggunakan hak politiknya, kalau rakyat terganggu, tidak nyaman mendapatkan informasi dalam debat itu, maka KPU juga terganggu karena kami pelayan rakyat untuk gunakan hak politiknya," kata dia.
KPU pun mengimbau para elit tak mengganggu jalannya debat yang dapat mengurangi kenyamanan rakyat menonton acara tersebut.
"Kita akan memastikan hei para elit, sopan lah di depan rakyat. Rakyat itu pemilih di negeri ini, buatlah rakyat nyaman menonton, nyaman menyimak, tetapi hal lain yang perlu saya sampaikan adalah bahwa debat capres cawapres itu adalah satu dari sembilan metode kampanye," jelasnya.
Ada delapan metode kampanye lainnya yang sejauh ini kurang dimanfaatkan kubu paslon. Seharusnya kedua kubu tak hanya fokus mempersiapkan debat tapi juga menggunakan metode kampanye lainnya. Karena jika mengharapkan debat bisa memberikan informasi utuh terkait visi misi serta program paslon, maka itu tak bisa tercapai karena durasi debat yang pendek.
"Kami kaji bahwa paslon, TKN (Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf), BPN (Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi) belum memanfaatkan metode kampanye yang lain oleh karena itu berlebihan kalau semua bisa dikomunikasikan melalui debat karena pastilah waktunya terbatas," ujarnya.
(mdk/eko)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya