Ketum PPP Sebut Puisi Fadli Zon Bikin Solid Santri Dukung Jokowi
Merdeka.com - Ketua umum Partai Persatuan Pembangunan atau PPP Romahurmuziy mengatakan puisi Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon yang berjudul 'Doa Yang Ditukar' menyatukan seluruh santri di Tanah Air. Puisi tersebut dianggap menghina KH Maimoen Zubair atau Mbah Moen.
"Puisi dia mensolidkan seluruh santri," kata Romi di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (13/2).
Romi juga memprediksi para santri akan memilih mendukung capres dan cawapres nomor urut 01, Jokowi-Ma'ruf Amin di Pilpres 2019 karena puisi 'Doa Yang Ditukar'. Besar kemungkinan, kata dia, sikap para santri menggerus elektabilitas Prabowo-Sandiaga.
"Sekaligus mengurangi elektabilitas Pak Prabowo dalam angka yang signifikan. Ketika dia bilang membela ulama tetapi satu sisi yang lain dia menista ulama yang paling tua, paling sepuh, paling bijaksana dan paling dihormati di Republik Indonesia," ujarnya.
Tak hanya menggerus elektabilitas Prabowo-Sandiaga, kata Romi, puisi 'Doa Yang Ditukar' akan mendegradasi kualitas Fadli Zon sebagai Wakil Ketua DPR.
"Itu akan semakin mendegradasi kualitas dia sendiri sebagai pimpinan dewan."
Sebelumnya, ribuan santri berasal dari pondok pesantren se-Kudus yang tergabung dalam Aliansi Santri Bela Kiai (ASBAK) menggelar demonstrasi di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, Jumat (8/2). Demo ini merupakan buntut dari puisi Fadli Zon berjudul 'Doa yang Tertukar'.
Juru Bicara dan Koordinator Aksi M Sa'roni mengatakan, Maka, jika ada politisi menghina kyai, sama saja dengan menghina santri. Bantahan Fadli bahwa ia tidak bermaksud menghina mbah Moen, merupakan bentuk ketakutan sekaligus ingin lepas dari tanggung jawab.
"Walaupun politisi tersebut sudah memberikan penjelasan, bahkan saking takutnya kemudian memposting foto bersama, bahwa yang dimaksud dalam puisi Mbah Moen, bukanlah syaikhona, namun publik dan santri pada khususnya bukanlah orang bodoh dan ber-IQ rendah tidak bisa membaca kias siapa yang dituju," kata Sa'roni dalam keterangannya.
Menurutnya, kiai merupakan panutan bagi masyarakat khususnya para santri. Dengan kealimannya dan sikap tawadlu yang diperlihatkan, mencerminkan tingginya ilmu seorang kiai.
Dia menegaskan, ungkapan dalam puisi tersebut jelas menyayat kaum santri dan para muhibbin dengan mengidentikkan derajat kealiman seorang ulama besar. Sebagai seorang politisi sekaligus publik figur harusnya Fadli Zon, menjadi contoh yang baik bagi masyarakat.
"Entah mungkin politisi tersebut tidak pernah mengaji 'al adab fauqa al ilm' yang selama ini menjadi pedoman dasar bagi seorang santri ketika menimba ilmu di pesantren," sindir dia.
(mdk/eko)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya