Tokoh agama Husein Ja'far Al Hadar menyoroti pentingnya hilirisasi sebagai solusi strategis untuk menghadapi bentuk kolonialisme modern. Ia menyampaikan pandangannya di Jakarta, Minggu (08/3), dalam sebuah acara buka puasa bersama Grup MIND ID dan media. Menurutnya, praktik hanya menjual bahan mentah tanpa pengolahan lebih lanjut dapat menjebak suatu bangsa dalam ketergantungan.
Husein Ja'far menekankan bahwa kemandirian sejati sebuah bangsa akan tercapai melalui pengelolaan kekayaan alam secara mandiri. Hal ini bukan berarti menutup diri dari dunia, melainkan tetap berinteraksi dan bekerja sama dengan kendali penuh atas sumber daya sendiri. Konsep ini menjadi langkah krusial menuju kedaulatan ekonomi.
Ia menegaskan bahwa ukuran utama dari setiap kebijakan dan aktivitas ekonomi haruslah manfaat yang dihasilkan bagi banyak pihak. Dengan demikian, hilirisasi bukan sekadar strategi industri, tetapi juga ikhtiar bangsa untuk menghadirkan nilai tambah dan maslahat yang lebih luas bagi seluruh masyarakat.
Advertisement
Advertisement
Hilirisasi sebagai Kunci Kemandirian Bangsa
Husein Ja'far Al Hadar menjelaskan bahwa kolonialisme modern dapat terjadi ketika suatu bangsa hanya berfokus pada penjualan bahan mentah. Tanpa adanya pengolahan lebih lanjut, potensi nilai tambah dari sumber daya tersebut tidak dapat dinikmati secara maksimal oleh negara pemiliknya. Ini mengindikasikan bahwa bangsa tersebut belum sepenuhnya menjadi tuan di negerinya sendiri.
Langkah menuju kemandirian, menurutnya, adalah dengan memulai proses hilirisasi. Konsep ini memungkinkan suatu negara untuk mengelola sumber daya alamnya dari hulu hingga hilir. Dengan demikian, nilai tambah ekonomi akan tercipta di dalam negeri, memperkuat posisi bangsa di kancah global.
Kemandirian yang dimaksud bukan berarti mengisolasi diri dari dunia internasional. Sebuah bangsa tetap diharapkan untuk berinteraksi dan menjalin kerja sama dengan negara lain. Namun, interaksi tersebut harus didasari pada kendali penuh atas pengelolaan kekayaan alam sendiri, memastikan manfaatnya kembali kepada bangsa.
Advertisement
Husein Ja'far menegaskan, "Mandiri bukan berarti sendiri. Kita tidak bisa hidup sendiri, tetapi kita harus menjadi tuan di negeri sendiri. Mengelola dari hulu sampai hilir untuk kebaikan bangsa." Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya kolaborasi yang seimbang dengan tetap menjaga kedaulatan ekonomi.
Advertisement
Manfaat dan Maslahat Hilirisasi Berdasarkan Ajaran Agama
Dalam pandangan Husein Ja'far, ukuran utama dari setiap kebijakan dan aktivitas ekonomi adalah manfaat yang dihasilkan. Ia mengutip sabda Nabi Muhammad SAW, "Khairunnas anfa’uhum linnas," yang berarti sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. Prinsip ini menjadi landasan etika dalam pengelolaan sumber daya.
Manfaat yang dimaksud tidak hanya terbatas pada kelompok tertentu atau agama tertentu, melainkan harus mencakup seluruh manusia dan bahkan seluruh alam. Oleh karena itu, pengelolaan sumber daya alam melalui hilirisasi harus diniatkan sebagai bentuk syukur atas karunia Tuhan. Proses ini harus dijalankan dengan cara yang benar dan ditujukan untuk maslahat bersama.
Hilirisasi yang benar adalah yang mampu menghadirkan tambahan manfaat secara signifikan. Ini berarti tidak hanya meningkatkan angka ekonomi, tetapi juga memberi nilai tambah bagi bangsa secara keseluruhan. Kebijakan ini juga harus memperkuat kedaulatan nasional dan tetap menjaga keberlanjutan.
Advertisement
Lebih dari sekadar strategi industri, hilirisasi dipandang sebagai bagian dari ikhtiar bangsa untuk menghadirkan nilai tambah dan maslahat yang lebih luas. Dengan mengelola sumber daya alam di dalam negeri, manfaat yang tercipta akan menguatkan kemandirian nasional dan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Sumber: AntaraNews