Hasil survei bakal dijadikan bahan koreksi Tim Pemenangan Ahok

Selasa, 4 Oktober 2016 22:42 Reporter : Rizky Andwika
Hasil survei bakal dijadikan bahan koreksi Tim Pemenangan Ahok Mega dampingi Ahok-Djarot daftar ke KPUD. ©2016 merdeka.com/muhammad luthfi rahman

Merdeka.com - Wakil Ketua Tim Pemenangan Ahok-Djarot, Dono Prasetyo mengakui elektabilitas Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang disebut terus menurun menjadi bahan koreksi oleh Tim Pemenangan. Dia mengatakan, hasil survei Lingkaran Survei Indonesia yang menyebut elektabilitas Ahok turun perlu diwaspadai.

"Kita ambil hikmahnya dan kita ambil untuk bisa mewaspadai. Semua hasil survei untuk koreksi diri juga," kata Dono di KPU DKI Jakarta, Selasa (4/10).

Meski demikian, Dono tak terlalu membesar-besarkan elektabilitas Ahok yang disebut menurun tersebut. Dia pun menegaskan Ahok maupun Tim Pemenangan tak akan meminta mantan Bupati Belitung Timur tersebut untuk merubah karakternya yang keras yang menjadi salah satu alasan elektabilitas Ahok menurun.

"Itu ciri khas Pak Ahok dan kita tidak akan melakukan intervensi ke arah sana," ujarnya.

Sementara, alasan lain yang menjadi penyebab elektabilitas menurun dikarenakan selama menjadi gubernur, Ahok acapkali melakukan penggusuran. Dono menjelaskan penggusuran merupakan salah satu pekerjaan dari seorang gubernur untuk melakukan penataan kota. Ahok, kata dia, tak akan menghentikan penggusuran hanya demi mengambil hati warga Jakarta.

"Kalau itu bagian dari pekerjaan, dia tidak akan jaim dan dilaksanakan. Jadi tidak ada satu ketakutan bahwa pak Ahok dengan masa kampanye gini berhenti. Dia tetap melakukan apa yang harus dia lakukan sebagai Gubernur," katanya.

Selain itu, Dono menjelaskan terpenting tingkat kepuasan kinerja terhadap Ahok tak pernah menurun. Dia meyakini tingkat kepuasan kinerja merupakan hal yang paling krusial dalam membawa Ahok mengarungi Pilkada DKI Jakarta.

"Kita tidak lihat elektabilitas, kita lihat kepuasan kerja. Indeks itu yang kita ingin tonjolkan karena sekarang Pak Ahok petahana ini ingin tunjukkan kinerjanya," ujarnya.

Lingkaran Survei Indonesia (LSI) melakukan kajian terkait Pilkada DKI Jakarta 2017. Dari hasil survei, LSI menyimpulkan jika pasangan bakal calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Syaiful Hidayat tetap kuat, namun popularitasnya terus menurun.

Tim peneliti LSI Adjie Alfaraby mengatakan berdasarkan catatan survei yang dilakukan sejak Maret sampai Oktober 2016 elektabilitas Ahok terus merosot. Di mana elektabilitas Ahok pada Maret silam mencapai 59,3 persen, namun pada Oktober turun menjadi 31,4 persen.

"Survei Maret 2016 elektabilitas Ahok mencapai 59,3 persen. Tapi pada survei Oktober 2016 elektabilitas Ahok turun jadi 31,4 persen," kata Adjie di Kantor LSI, Jakarta, Selasa (4/10).

Selain elektabilitas, daya tarik Ahok di mata warga Jakarta ikut-ikutan merosot. Dijelaskan Adjie, dari hasil survei Maret 2016, kesukaan masyarakat Jakarta terhadap gaya kepemimpinan Ahok mencapai 71,3 persen.

"Namun pada survei Oktober 2016 kesukaan masyarakat terhadap Ahok menjadi 58,2 persen," ujar Adjie.

Dia menjelaskan alasan elektabilitas ataupun kesukaan masyarakat terhadap Ahok terus turun. Di antaranya, isu kebijakan perihal penggusuran di beberapa wilayah di Jakarta dan kebijakan reklamasi teluk.

Kemudian isu personal menyangkut karakter Ahok yang kasar, congkak dan tidak konsisten. Selanjutnya, isu primordial di mana sebagian warga Jakarta menolak dipimpin oleh agama non muslim dan perbedaan etnis.

"Keempat ada alternatif cagub yang fresh yaitu Anies Baswedan dan Agus Harimurti Yudhoyono," pungkas Adjie. [gil]

Topik berita Terkait:
  1. Pilgub DKI
  2. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini