Gusdurian sebut Pilkada Jabar 2018 paling rawan ujaran kebencian

Rabu, 3 Januari 2018 22:31 Reporter : Purnomo Edi
Gusdurian Petakan Pilkada Jabar 2018. ©2018 Merdeka.com/Purnomo Edi

Merdeka.com - Jelang Pilkada serentak 2018 yang akan digelar di sejumlah wilayah di Indonesia, Gusdurian melakukan pemetaan wilayah-wilayah mana yang rawan terhadap ujaran kebencian. Dari hasil pemetaan ini Pilkada Jawa Barat dianggap yang paling rawan terhadap ujaran kebencian.

Koordinator Gusdurian, Alissa Wahid menyampaikan pemetaan dilakukan dengan melihat konten-konten di dunia maya. Dari pemetaan itu, Jawa Barat menjadi daerah berwarna merah atau rawan politik dengan memainkan ujaran kebencian.

"Berdasarkan capture dari arus pembicaraan online di dunia maya, Jawa Barat menjadi daerah yang berwarna merah. Ujaran kebencian di Jawa Barat paling tinggi dibandingkan daerah lainnya," ujar Alissa Wahid usai diskusi terbatas di Westlake, Sleman, Rabu (3/1).

Alissa Wahid menerangkan selain di Jawa Barat, dari hasil pemetaan Gusdurian daerah yang masuk kategori rawan lainnya adalah sepanjang pantai timur Pulau Sumatera. Dari Lampung, kata Alissa Wahid, hingga Riau. Kemudian diikuti daerah Kalimantan Barat terutama Kota Pontianak. Sedangkan untuk daerah dengan kategori sedang untuk ujaran kebencian adalah daerah Makassar dan tapal kuda di Jawa Timur.

"Sebagian besar hate speech (ujaran kebencian) mengandung unsur (sentimen) agama. Termasuk di dalamnya memecah belah bangsa dengan membawa kesukuan dan etnies dengan membawa ayat-ayat Quran," urai Alissa Wahid.

Alissa Wahid menjabarkan ujaran kebencian ini harus dikhawatirkan. Pasalnya para tim sukses menggunakan ujaran kebencian ini dengan memainkan sentimen keagamaan dan kebencian untuk memenangkan calonnya.

"Gubernur atau politisinya sudah terpilih tapo sampah kebenciannya masih terjadi. Kita harus berkaca pada Pilkada DKI Jakarta," ulas Alissa Wahid.

Alissa menambahkan untuk mengatasi politik yang memainkan ujaran kebencian ini, pertemuan-pertemuan dan acara-acara kebangsaan harus sering digelar. Tujuannya agar bisa meredam ujaran kebencian yang memainkan sentimen keagamaan dan kesukuan di Indonesia.

"Pertemuan lintas elemen masyarakat harus didorong agar lebih solid. Pertemuan-pertemuan dengan tema kebangsaan harus diperkuat," tutup Alissa Wahid. [fik]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini