Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Gerindra sebut koalisi Jokowi bisa pecah karena berebut Cawapres

Gerindra sebut koalisi Jokowi bisa pecah karena berebut Cawapres Ferry Juliantono. ©2017 merdeka.com

Merdeka.com - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Ferry Juliantono menilai jika Joko Widodo salah mengambil keputusan soal calon Wakil Presiden akan berpengaruh terhadap kesolidan koalisi pendukungnya. Sebab, tiap partai pendukung Jokowi mulai bermanuver menawarkan kader mereka menjadi pendamping di Pilpres 2019.

"Ya bisa jadi. Makanya menurut saya itu akan jadi masalah," kata Ferry di Kampus UI, Salemba, Jakarta, Jumat (20/4).

Kemudian, Ferry menyebut, partainya, PAN dan PKS sudah teruji menyelesaikan perbedaan-perbedaan sikap politik. Sementara, dia mengklaim, koalisi Jokowi belum teruji terkait hal tersebut.

"Kalau di Gerindra-PKS-PAN ini kan masalah perbedaan pendapat ini sudah biasa, dilatih. Dalam kasus Pilkada kita sudah biasa latihan kerjasama politik. Tapi kalau Jokowi di kubu mereka kan belum pernah," klaimnya.

Lebih lanjut, dia menyebut, koalisi partai pendukung Jokowi juga belum kompak. Semua partai poros Jokowi, lanjut Ferry, belum pernah berkumpul membahas konsolidasi koalisi.

"Ya pasti kan karena koalisi Jokowi kan baru sebatas dukungan partai A B C ke Jokowi tapi pembicaraan diantara parpol yang mendukung Jokowi kan belum ada," tegasnya.

"Malah kelihatan terjadi persaingan antara PPP Rommy dengan Cak Imin, sementara kita semua tahu bahwa PDIP kemungkinan akan usulkan nama tertentu, Golkar akan usulkan nama tertentu. Kalau kami di kubu Gerindra, PKS, PAN relatif lebih progresif," tandas Ferry.

Sebelumnya, Pakar Komunikasi Politik Effendi Gazali menilai Joko Widodo harus benar-benar tepat dalam memilih cawapres. Terlebih situasi politik saat ini terbilang rumit lantaran mengarah dua pasang atau satu pasang saja.

"Ini suatu yang tidak gampang. Saya saja enggak gampang menebaknya. Terutama karena begini, persaingan itu dibuat begitu terbatas, jadi orang seakan-akan sedang mengarah ke dua calon ya satu saja. Jadi ini demikian rumit," kata Effendi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (19/4).

Dia menyebut elektabilitas Jokowi tidak setinggi mantan Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY sebagai calon presiden atau capres petahana saat Pilpres 2009. SBY kala itu, lanjut dia, memiliki elektabilitas di atas 60-70 persen sehingga sangat mudah dipasangkan dengan siapa saja.

(mdk/fik)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP