Ferdinand Demokrat: SBY Tidak Sedang Kritik Pemerintah

Rabu, 8 Januari 2020 17:08 Reporter : Ahda Bayhaqi
Ferdinand Demokrat: SBY Tidak Sedang Kritik Pemerintah Pidato SBY Refleksi Akhir Tahun. ©2019 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Merdeka.com - Politikus Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean menjelaskan maksud Presiden RI Keenam Susilo Bambang Yudhoyono menyelipkan masalah kesulitan ekonomi hingga tindakan represif penguasa di tahun 2019, saat mengomentari isu Geopolitik Iran-AS yang memanas.

Ferdinand mengatakan, SBY tidak sedang menyoroti Indonesia. Tetapi menyoroti gejolak di Timur Tengah.

"Yang disampaikan oleh pak SBY itu bukan sedang menyoroti Indonesia tapi sedang menyoroti situasi Timur Tengah yang sedang bergolak pasca terbunuhnya Sulaimani," ujar Ferdinand melalui pesan singkat, Rabu (8/1).

Dia mengatakan, SBY bicara terkait muncul gelombang protes karena utang merupakan gambaran yang terjadi di belahan dunia. Begitu pula tentang masalah ketidakadilan dan kecurangan Pemilu. Itu, menurut Ferdinand, SBY tidak sedang mengkritik pemerintah.

"Kita mendengar krisis politik di Brasil contohnya akibat Pemilu. Jadi yang disampaikan pak SBY itu bukan tentang Indonesia tapi tentang lebih dari 30 negara yang mengalami gangguan stabilitas politik akibat ketidakadilan, kemiskinan dan pemilu," tegas Ferdinand.

Ferdinand menyebut, kondisi tidak stabil itu muncul pula di Timur Tengah, benua Amerika, hingga Afrika. Tren global itu sama terjadi juga di Indonesia.

"Jadi yang disampaikan pak SBY tersebut bukan sedang bicara tentang Indonesia, meski Indonesia juga bisa mengalami hal yang sama kemudian bila ketidakadilan dan kemiskinan serta utang menumpuk terus menjadi masalah. Namun sekali lagi, yang disampaikan oleh pak SBY bukan tentang Indonesia tapi tentang geo politik global saat ini," ujarnya.

Diberitakan, hubungan Iran dan Amerika Serikat (AS) kian panas. Hal ini terjadi usai serangan udara militer AS di Baghdad yang menewaskan jenderal top Iran, Qasem Soleimani. Iran bersumpah akan membalas serangan itu.

Kondisi panas ini membuat Presiden ke enam RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ikut berkomentar. SBY menulis kondisi timur tengah yang kembali membara.

SBY mengatakan, bagi yang berharap tahun 2020 ini dunia kita menjadi lebih aman dan damai, harus bersiap untuk kecewa. Bahkan frustrasi. Tidak ada tanda-tanda untuk itu. Yang terjadi, di awal tahun baru ini kawasan Timur Tengah kembali membara.

"Tahun 2019 yang baru kita tinggalkan ditandai dengan maraknya gerakan protes sosial. Kemarahan dan perlawanan rakyat terjadi di lebih dari 30 negara. Mereka melawan pemimpin dan pemerintahannya karena merasa tidak mendapatkan keadilan, ekonominya sulit dan ruang kebebasan untuk berekspresi dibatasi," tulis SBY dalam akun Facebooknya, dikutip merdeka.com, Selasa (7/1).

SBY menganalisis, gerakan protes itu muncul dipicu dari beragam persoalan. Mulai dari sulitnya mendapatkan pekerjaan, harga-harga naik sementara daya beli rakyat turun, hingga pemerintahnya dinilai korup sementara beban utang negara meningkat tajam. [bal]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini