Elite politik diingatkan tak 'goreng' isu SARA di Pilkada Serentak

Selasa, 30 Januari 2018 19:24 Reporter : Didi Syafirdi
Elite politik diingatkan tak 'goreng' isu SARA di Pilkada Serentak anti sara. ©2012 Merdeka.com/arie basuki

Merdeka.com - Media sosial di tahun politik bakal dipakai sebagai alat untuk memenangkan calon tertentu di Pilkada. Namun para elite diimbau tidak memanfaatkannya untuk menyebar isu SARA.

Masyarakat juga diingatkan agar bijaksana memanfaatkan media sosial. Ketika ada informasi tidak menelan mentah-mentah sebelum mengetahui secara jelas asal-usulnya.

"Agar kita tidak mudah membuat berita hoax, apalagi yang bertujuan untuk memecah belah. Ini akan gawat sekali bangsa kita nantinya kalau masyarakatnya terpecah belah," ujar Wakil Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Waryono Abdul Ghofur dalam keterangannya, Selasa (30/1).

Dia sangat khawatir penggunaan isu SARA di dunia maya dimainkan oleh kelompok-kelompok yang ingin membuat masyarakat resah. Bukan tidak mungkin, lanjutnya, kelompok radikal dengan membawa-bawa agama menyusupinya.

"Ini yang harus kita waspadai. Dalam berbagai kesempatan saya juga sering menyampaikan bahwa tidak perlu menggunakan isu agama dalam pilkada nanti. Karena sangat sensitif dan takutnya bisa salah gunakan oleh kelompok-kelompok tertentu," tuturnya.

Menurutnya, orang akan mudah tersentuh dan mungkin juga akan sangat emosional ketika agamanya itu merasa disinggung. Diakuinya selama ini isu SARA paling mudah digunakan oleh kelompok-kelompok tertentu untuk memecah belah masyarakat.

"Karena memang isu SARA itu yang paling laku. Kalangan elite pun sebenarnya paham bahwa kalau sudah pakai isu SARA itu 'sumbunya pendek'. Itu harus dihindari oleh kalangan elite," ujarnya.

Menurutnya, masyarakat harus tetap kritis karena isu yang dimunculkan bisa menguntungkan pihak tertentu. Untuk itu, menurutnya, diperlukan peran pemerintah untuk lebih tegas dalam menindak jika penyebar isu SARA baik di dunia maya atau dunia nyata.

"Itu penting sekali, pemerintah harus tegas karena regulasinya sudah ada, yang mana hate speech itu harus ditindaklanjuti. Karena kalau orang yang menyebarkan hate speech itu tidak ditindaklanjuti maka orang akan terus memproduksinya," tuturnya.

"Dalam situasi normal pun menurut saya harus dipantau agar masyarakat awam tidak mudah terpengaruh," tandasnya. [did]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini