Hot Issue

Demokrat Era AHY, Hambar atau Panen?

Jumat, 17 April 2020 11:30 Reporter : Wilfridus Setu Embu
Demokrat Era AHY, Hambar atau Panen? AHY. ©2018 Merdeka.com/istimewa

Merdeka.com - 'Petualangan seribu mil dimulai dengan satu langkah pertama', pepatah itu yang tengah dilakukan Ketua Umum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Dia baru saja mengumumkan struktur DPP Demokrat periode 2020-2025.

Regenerasi partai menjadi ide besar yang dibawa AHY. Kader muda dan orang baru dengan latarbelakang mumpuni jadi prioritas. Wajah-wajah muda dan segar mengisi pos-pos penting di struktur partai mercy tersebut.

Yang juga menarik perhatian, yakni masuknya Siti Nur Azizah dalam kepengurusan partai. Nur Azizah ditunjuk oleh AHY sebagai Wakil Sekjen Demokrat di kepengurusan periode baru tersebut.

Nur Azizah merupakan putri dari Wakil Presiden Ma'ruf Amin. Tak hanya itu, Nur Azizah sedang menyiapkan ‘amunisi’ untuk bertarung di Pemilihan Wali Kota Tangerang Selatan.

Banyak wajah-wajah beken dan populer di media tak lagi menghiasi kepengurusan inti Demokrat di bawah komando AHY. Sebut saja Hinca Panjaitan. Sebelumnya Hinca menjabat sebagai Sekretaris Jenderal.

Kemudian, nama Wakil Ketua MPR Syariefuddin Hasan juga tak terlihat dalam struktur inti. Syarief pada periode sebelumnya menjabat sebagai wakil ketua umum. Nama Nurhayati Ali Assegaf juga tak muncul. Sebelumnya, menjabat wakil ketua umum.

Tidak hanya yang tua, tokoh muda Partai Demokrat yang kerap muncul membela partai seperti Rachland Nashidik tidak masuk daftar pengurus inti. Orang yang paling bersuara di pilpres lalu, Ferdinand Hutahaean juga tak tampak di deretan kepengurusan inti.

"Hampir sama dengan usia saya sebagai ketua umum, dengan rentang usia termuda 22 tahun dan usia tertua 60 tahun. Saya juga merekrut beberapa kader muda yang potensial, dari berbagai lulusan universitas terbaik dalam negeri maupun luar negeri dari master sampai doktoral," kata AHY.

Beragam respon dilontarkan terhadap susunan pengurus baru Demokrat. Ada pihaknya yang memandang miris dan melayangkan kritik. Ada pula yang mendukung langkah regenerasi yang dijalankan AHY. Ada yang menyebut struktur partai ‘hambar’ tanpa orang kuat. Ada yang justru memandang, sudah saatnya Demokrat dipimpin generasi kedua.

1 dari 3 halaman

Hambar

Hilangnya nama sejumlah politisi senior yang disebut-sebut sebagai langkah regenerasi Demokrat di bawah kepemimpinan AHY tak serta merta menuai pujian. Susunan kepengurusan DPP Partai Demokrat bahkan dinilai tidak proporsional.

"Komposisi struktural Demokrat terkesan tidak proporsional, idealnya jumlah Waketum dan Wasekjen sama agar memiliki fokus pada masing-masing ruang kerja," kata Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah, kepada merdeka.com, Kamis (16/4).

Sekedar informasi, dalam struktur kepengurusan DPP Demokrat 2020-2025 terdapat enam orang Wakil Ketua Umum. Sementara posisi Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) partai diisi oleh sepuluh orang.

"Terlebih membaca nama-nama yang dipilih kurang kuat mewakili keberagaman kader Demokrat. Terkesan hanya lingkaran terdekat Ketua Umum," lanjut Dedi.

Menurut dia, dalam kondisi seperti saat ini, sosok yang memiliki pengaruh politik amat dibutuhkan partai. Mereka yang berpengaruh secara politis dan memiliki kapasitas mumpuni.

"Tetapi mungkin karena AHY adalah tokoh baru dalam kancah politik, sehingga mempengaruhi dalam menyusun struktur," ujar dia.

Masuknya putri Wapres Maruf Amin, Siti Nur Azizah sebagai Wasekjen Demokrat era AHY juga mendapatkan sorotan. Nama Maruf Amin, kata dia, masuk dalam pertimbangan AHY. Langkah AHY menarik Nur Azizah ke pengurus Demokrat dilakukan dengan harapan dapat ikut menarik pengaruh Maruf Amin.

Meskipun demikian, status Nur Azizah sebagai putri wakil presiden tidak cukup memberikan kontribusi banyak bagi Demokrat. Dengan kata lain tidak ada pengaruh signifikan bagi Demokrat.

Pengaruh Wapres (Maruf Amin), jelas dia, terbatas dalam ruang politik tanah air, sulit direplikasi oleh putrinya sendiri. Karena ketokohan Maruf Amin adalah ulama, berbeda dengan tokoh nasionalis yang bisa saja menularkan pengaruh ke lingkaran keluarga.

"Dengan kondisi itu, putri Wapres bukan siapa-siapa. Bahkan dalam politik belum dan sulit membuktikan punya pengaruh," imbuhnya.

Karena itu, dalam pandangan dia, masuknya Nur Azizah dalam kepengurusan partai mercy tersebut juga memunculkan dilema.

"Munculnya nama putri Wapres ini dilema, satu sisi tidak memiliki jejaring yang kuat, sisi lain Demokrat inginkan kebangkitan. Tentu potensi lebih baik di 2024 menjadi lebih kecil dibanding potensi turun atau sekurang-kurangnya stagnan," tandasnya.

2 dari 3 halaman

Panen Raya

Tak semua pihak mengkritik kebijakan AHY. Apresiasi dan dukungan juga diberikan pada langkah regenerasi. AHY, dipandang sedang memulai sesuatu yang baru di Demokrat.

"Kayaknya AHY ini ingin memulai sesuatu yang baru di Demokrat dengan menampilkan wajah-wajah baru kader-kader Demokrat," kata Direktur Eksekutif Parameter Indonesia Adi Prayitno, kepada merdeka.com, Kamis (16/4).

Jika ditelisik lebih jauh, maka kader-kader muda yang dipilih AHY untuk mengisi jabatan strategis di DPP bukanlah sosok yang benar-benar baru di Demokrat. Mereka merupakan orang-orang yang selama ini 'dibesarkan' partai.

Nama-nama seperti Teuku Riefky Harsya (Sekretaris Jenderal), Andi Arief (Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu sekarang) hingga Jansen Sitindaon (Wasekjen) sesungguhnya merupakan anak-anak muda yang merupakan orang lama di Demokrat. Ini bisa dibaca sebagai salah satu bentuk ikhtiar politik Demokrat untuk memunculkan sosok-sosok muda untuk berada di level puncak kepengurusan.

"Di posisi Waketum itu hanya Benny K Harman yang senior. Selebihnya anak muda," ujar dia.

Adi, dengan menggunakan analogi pertanian, mengatakan bahwa munculnya nama-nama kader muda di kepengurusan partai merupakan tanda bahwa Demokrat sedang melakukan 'panen raya' kader di bawah kepemimpinan Putra Sulung SBY. Para kader muda itu selama ini telah disemai dan tumbuh di ladang Demokrat. Kini saatnya AHY menuai hasilnya.

"Kalau mau disebut, ini adalah generasi kedua Partai Demokrat yang sedang memimpin. Kalau generasi pertamanya Pak SBY, sekarang generasinya AHY. Jadi wajar kalau posisi kepengurusan sekarang adalah generasi kedua yang didominasi oleh anak-anak muda," terang dia.

Masuknya nama Nur Azizah dalam kepengurusan inti Demokrat dipandang sebagai langkah politik biasa juga masuk akal. Mengingat Nur sedang mempersiapkan diri untuk bertarung dalam Pilkada Tangerang Selatan. Sayangnya, sejauh ini, Nur belum memiliki partai.

"Saya kira ada mutual understanding-lah antara Siti Nur Azizah dengan Demokrat. Satu sisi Siti Nur Azizah ini kan sudah memutuskan untuk terjun ke politik, dia digadang akan maju di Pilkada Tangerang Selatan cuma sejauh ini kan belum dapat partai," kata Adi.

Keputusan politik menetapkan Nur Azizah menjadi pengurus inti Demokrat tentu dibuat dengan dasar perhitungan politis juga. Nur Azizah, lanjut Adi, harus diakui punya bekal politik yang cukup untuk melenggang masuk ke partai Mercy. Status Nur Azizah sebagai putri Wapres Ma'ruf Amin, orang nomor dua di republik ini sudah barang tentu menjadi pertimbangan Demokrat.

"(Demokrat) Mau dengan Nur Azizah tentu saja Nur Azizah ini punya political resources. Punya resource politik, calon kepala daerah dan paling penting dia adalah anak Kiai Ma'ruf Amin," urai dia.

3 dari 3 halaman

Tunggu Gebrakan

Tentu ada banyak harapan juga pertanyaan terkait kiprah pengurus muda lima tahun ke depan. Setidaknya terkait keberhasilan meraup dukungan masyarakat untuk Demokrat.

Mungkinkah Demokrat bisa tampil baik tanpa kehadiran sosok senior. Jika Pilpres 2024 masih terlampau jauh, bagaimana dengan pilkada serentak 2020.

Dedi mengatakan, di tengah kontestasi politik terakhir, jelang pilkada serentak 2020 hingga Pilpres 2024 setiap partai tentu memperkuat internal partai. Salah satunya dapat dilihat dalam penentuan struktur kepengurusan partai.

Tentu menggelisahkan, ketika Parpol lain miliki struktur dengan tokoh mapan secara kapasitas, juga intelektual politik, Demokrat muncul dengan struktur yang menurut dia hambar. Hal ini tentu menjadi persoalan bagi Demokrat.

AHY seperti kurang melihat sejarah. Cerita bahwa kemenangan Demokrat di masa lalu tidak lepas dari nama besar pengurus, lalu transisi ini diisi oleh tokoh biasa, tentu sangat berat meningkatkan perolehan suara 2024.

"Andai internal Demokrat solid hingga 2024, harapan terbaiknya adalah menjaga suara perolehan 2019 agar tidak turun. Tetapi jika stabilitas organisasi tidak terjaga, potensi semakin tertinggal itu ada," tandasnya.

Sebaliknya, Adi justru berpandangan Demokrat bisa tetap menjaga kiprah. Meski dipimpin anak muda. Alasannya, mereka yang baru memimpin pun sesungguhnya sudah lama berada di Demokrat. Jadi tidak perlu terlalu dicemaskan.


"Posisi Andi Arief ditunjuk sebagai Ketua Bapilu bukan tanpa alasan. Andi Arief dinilai selama ini memiliki visi politik yang bisa menerjemahkan keinginan Demokrat terutama SBY. Kenapa Andi Arief diposisikan di situ karena Andi ini salah satu orang yang bisa menerjemahkan secara langsung visi dan kemauan politik Demokrat. Ini kan soal regenerasi saja," jelas Adi.

Sementara untuk pilkada serentak, lanjut Adi, Demokrat tentu tidak hanya mengandalkan pengaruh DPP. Yang paling penting yakni kiprah para kader dan tokoh Demokrat di daerah.

"Kalau soal Pilkada anatomi politiknya bukan hanya di DPP tapi kekuatan-kekuatan figur di daerah.

Demokrat juga banyak itu di daerah yang menang. Jadi murni pertarungan kekuatan wilayah. Tetapi yang mengkoordinasi di pusat yang menjadi motor ya Andi Arief ini," tandasnya. [rnd]

Baca juga:
Demokrat Era AHY Dinilai Hambar, Dipenuhi Orang Dekat Ketum
Putri Ma'ruf Amin Dinilai Butuh Demokrat Agar Diusung di Pilkada
Pengurus Diisi Kader Muda, Demokrat Sedang 'Panen Raya'
Pengurus Era AHY Diisi Kader Muda, Demokrat Ingin Tunjukkan Regenerasi
Tak Masuk Pengurus Demokrat, Rachland Nashidik Bilang 'Capek di Garis Depan'
Demokrat: Siti Nur Azizah yang Menyatakan Ingin Bergabung

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini