Cerita SBY sering merasa sendiri ketika hadapi gempuran politik

Senin, 29 September 2014 11:53 Reporter : Laurencius Simanjuntak
Cerita SBY sering merasa sendiri ketika hadapi gempuran politik Presiden SBY. ©2012rumgapress/abror rizki

Merdeka.com - Presiden sekaligus Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kini tengah menjadi sasaran kritik dan kecaman atas pengesahan RUU Pilkada oleh DPR. Pasalnya, akibat sikap Fraksi Partai Demokrat yang walk out dalam sidang paripurna DPR, opsi pilkada langsung kalah dalam voting dan pilkada lewat DPRD menjadi disahkan.

Kemarahan publik atas sikap SBY yang dinilai tidak tegas diluapkan lewat berbagai cara. Mulai dari media sosial maupun demonstrasi langsung ke jalan-jalan. Pers pun tak sedikit yang mengkritik sikap politik sang presiden tersebut.

Beberapa hari ini tagar #ShameOnYouSBY, yang kemudian disusul #ShamedByYou dan #ShamedByYouAgainSBY, menjadi topik terpopuler (trending topic) di media sosial Twitter. Bahkan, demonstrasi tidak hanya dilakukan di Jakarta, tetapi juga di depan Hotel Willard Intercontinental, Washington DC, tempat SBY menginap saat menghadiri Sidang Majelis Umum PBB. Beberapa hari terakhir headline media massa dalam negeri juga terus mengkritik SBY.

SBY kini boleh jadi sedang menghadapi gempuran politik di sisa masa jabatannya yang tinggal menghitung hari. Dalam bukunya 'Selalu Ada Pilihan', SBY menulis kerap merasa sunyi jika mengalami kondisi seperti ini.

"Arena lain yang saya sering merasa sunyi dan sendiri adalah ketika saya harus terus-menerus menghadapi gempuran politik dari banyak kalangan. Juga dari serangan dari pers dan media yang terus berlangsung," tulis SBY lewat bukunya di halaman 278 itu.

SBY mengatakan, sebenarnya jika dikatakan seorang presiden sering merasa sendiri (feel alone) itu tidak berarti secara fisik harus betul-betul sendiri.

"Saya sering merasa sendiri ketika tanggung jawab terhadap apa yang saya putuskan dan lakukan itu tidak berada di orang lain. Tetapi, pada diri saya sendiri," kata SBY.

SBY menyadari bahwa pikiran, keputusan dan tindakan seorang pemimpin politik tertinggi, seperti presiden, sangat bisa mengubah jalannya sejarah. "Baik sejarah yang membawa kebaikan bagi bangsanya, ataupun sebaliknya," kata SBY.

"Dalam sejarah peperangan di seluruh dunia, sering sebuah bangsa hancur dan mengalami penderitaan yang luar biasa akibat peperangan yang diputuskan oleh pemimpinnya," kata SBY.

Dari bukunya, SBY tampak menyadari betul dampak keputusan seorang pemimpin terhadap rakyatnya. Semoga polemik UU Pilkada ini juga menjadi bahan permenungan SBY dalam kesendiriannya untuk memutuskan yang terbaik bagi rakyatnya. [ren]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini