Bupati Banyuwangi & Boven Digoel Cerita Arahan Megawati dalam Membangun Daerah

Jumat, 9 Agustus 2019 17:17 Reporter : Moh. Kadafi
Bupati Banyuwangi & Boven Digoel Cerita Arahan Megawati dalam Membangun Daerah Bupati Banyuwangi dan Bupati Boven Digoel di Kongres V PDIP. ©2019 Merdeka.com/Kadafi

Merdeka.com - Dua kepala daerah dari PDIP bercerita soal bagaimana membangun daerahnya kepada kader di Kongres V PDIP. Mereka adalah Bupati Boven Digoel Benediktus Tambonop dan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

Benediktus mengawali pemaparan. Dia mengungkapkan, Boven Digoel dulunya adalah hutan rimba. Di era perjuangan kemerdekaan, kata dia, Boven Digoel dijadikan tempat pembuangan dua tokoh pejuang seperti Sutan Sjahrir dan Mohammad Hatta.

Dia bercerita usahanya membangun Boven Digoel sebagai situs sejarah yang terabaikan menjadi destinasi wisata. Upaya membangun Boven Digoel pun masih berlanjut.

"Sehingga saat kami diberikan kepercayaan menjabat kita diberi kesempatan bagaimana mengembangkan Boven Digoel sebagai situs wisata sejarah. Kini sedang dibangun dan saya belum bisa cerita lebih banyak," kata Benediktus di Denpasar, Bali, Jumat (9/8).

Selain pengembangan sektor wisata, kata Benekdiktus, infrastuktur transportasi di Boven Digoel juga telah dibenahi. Sekarang, layanan penerbangan Jakarta-Boven sudah tersedia. Bahkan, Jakarta-Boven Digoel saat ini bisa ditempuh hanya dalam waktu satu hari.

"Hari ini Boven Digoel setiap hari ada pesawat. Dahulu lima hari baru sampai Jakarta. Sekarang hanya sehari bisa ke Jakarta. Baik dari Jayapura dan Merauke sudah masuk ke Digoel," ujarnya.

Dia mengakui kerja kerasnya membangun Boven Digoel tidak lepas dari arahan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Megawati meminta kader yang menjabat kepala daerah untuk turun ke kampung-kampung menyerap aspirasi rakyat.

"Perintah Ibu Mega untuk selalu turun ke akar rumput kampung-kampung ditempuh jalan kaki sampai tiga hari. Itu kampung pas perbatasan," kata dia.

Anas tak mau ketinggalan bercerita sepak terjangnya membangun Banyuwangi. Dia mengaku selalu diminta Megawati memperhatikan nasib wong cilik di Banyuwangi. Salah satu pesan Megawati yang selalu dia ingat adalah Banyuwangi boleh berkembang, tapi rakyatnya tetap harus dibela.

"Saya tidak pernah dimintain uang oleh Ketua Umum PDIP Bu Megawati. Tapi Bu Mega selalu berpesan saya diminta untuk memperhatikan warga miskin. Banyuwangi boleh maju dan berkembang, tapi rakyat atau wong cilik tidak boleh digusur oleh perkembangan itu. Ini sesuai pesan Bu Mega untuk membela hak wong cilik," paparnya.

Lebih lanjut, Anas menuturkan, PDIP selalu memberikan ruang kepada kadernya untuk berbagi pengalaman dan ilmu untuk mengembangkan daerahnya masing-masing. Dia mencontohkan Wali kota Surabaya, Tri Rismaharini dan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Prabowo serta Bupati Boven Digoel Benediktus.

"PDIP memberikan ruang kepada kami untuk presentasi kepada teman-teman bupati lain. Dari sana saya melihat PDIP memberikan ruang yang terbuka bagi kepala daerah seperti Bu Risma Pak Ganjar dan kepala-kepala daerah lain seperti dari Boven Digoel," jelasnya.

"Ini adalah kepala daerah yang dilahirkan dari PDIP dengan dukungan luar biasa sehingga memberikan inovasi dan upayanya sesuai harapan partai," tandas Azwar Anas. [ray]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini