4 Pesan penting dari tokoh-tokoh agama jelang Pilpres
Merdeka.com - Menjelang pemilihan presiden (Pilpres) situasi politik Indonesia mulai memanas. Saling serang antar kubu capres mulai terdengar. Hal ini tentu memicu perpecahan jika tidak bisa diredam.
Oleh karena itu beberapa tokoh agama memberikan pesan jelang pertarungan Pilpres. Berikut pesan dari tokoh-tokoh tersebut.
Pesan Maruf Amin
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comKetua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kiai Ma'ruf Amin berpesan agar semua pihak menjaga situasi agar Pemilu 2019 berjalan aman dan lancar. Dia juga menyampaikan bagi umat Islam di Indonesia, khususnya warga NU jangan terprovokasi dengan isu SARA atau yang dapat memecah belah bangsa Indonesia.
"Kita jangan mau, terprovokasi dengan isu-isu SARA, yang bisa membuat umat saling bermusuhan, atau membuat umat bermusuhan dengan pemerintah dan memecah ulama dengan pemerintah," tuturnya.
Said Aqil
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comKetua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj berpesan kepada capres Prabowo agar agama tidak dijadikan alat politik pada Pilpres mendatang. Menurut Said Aqil, apapun alasannya, agama tidak boleh dijadikan komoditas politik untuk kepentingan golongan tertentu.
"Apapun alasannya, agama tidak boleh menjadi alat politik, betapa naif, betapa konyol apa ya nila-nilai universal, nilai illahiah," katanya, di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Senin (16/7/).
Pesan Aa Gym
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comAbdullah Gymnastiar atau Aa Gym berpesan kepada semua pihak agar ulama tidak dijadikan alat untuk mendongkrak elektabilitas para calon pemimpin negara. Menurutnya, ulama adalah bagian dari kehidupan nyata bernegara dan sejarah.
"Dan yang penting ulama ini jangan dipakai mendorong mobil, ketika mobil maju ketinggalan ulamanya. Ini saya tidak setuju jika ulama dipakai untuk ngedorong terpilihnya seseorang tapi udah kepilih lewat. Makanya jangan nyari ulama yang cuma bisa ngedorong tapi ulama yang bisa nyetir di dalam. Jangan salah nyari ulamanya di dalam itu membantu supirnya," katanya dalam acara ILC, Selasa (7/8).
Haedar Natsir
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comKetua Umum PP Muhammadiyah Haedar Natsir berpesan supaya masjid tidak dijadikan pusat politik praktis. Masjid memang sebuah wahana yang dapat menampung semua orang dengan keragamannya masing-masing. Namun Muhammadiyah dengan tegas menyatakan jika masjid bukan pusat untuk berpolitik.
"Muhammadiyah paling depan, sejak dulu untuk mengajak masyarakat tidak menjadikan masjid sebagai pusat politik praktis dan politisasi," kata Haedar di Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Kamis (5/7).
Â
(mdk/has)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya