Yenny Wahid Sebut Huruf Arab Pegon Bentuk Perlawanan Terhadap Politik Aliran

Sabtu, 13 April 2019 23:23 Reporter : Ya'cob Billiocta
Yenny Wahid Sebut Huruf Arab Pegon Bentuk Perlawanan Terhadap Politik Aliran Deklarasi kader Gus Dur dukung Jokowi-Maruf Amin. ©2018 Liputan6.com/Herman Zakharia

Merdeka.com - Penggunaan huruf Arab pegon bertuliskan 'Tetap Jokowi' pada ikat kepala maupun kaos selama masa kampanye, bukan merupakan simbol dari politik aliran. Koordinator Rumah Pergerakan Gus Dur (RPGD) Yenny Wahid mengatakan, huruf pegon justru dipakai sebagai perlawanan terhadap penggunaan aksara Arab, yang selama ini dianggap simbol politik aliran atau politik identitas.

Yenny menyatakan hal itu untuk merespons pertanyaan seputar penggunaan huruf Arab pegon pada ikat kepala dan kaos, yang selama masa kampanye Pilpres 2019 sering dipakai relawan RPGD. Termasuk Yenny Wahid yang kerap tampil berkaos atau berjaket dengan ciri desain bertuliskan Arab pegon.

"Ada kesengajaan dari pihak-pihak tertentu yang menggunakan aksara Arab untuk memecah belah bangsa, bukan mempersatukan seperti asalnya. Atribut bertuliskan huruf Arab yang dibawa massa dipakai sebagai penunjuk politik aliran. Bahkan, persaingan kedua calon presiden pun dinilai dari identitas keislamannya," urai Yenny di sela Konser Putih BerSatu di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta, Sabtu (13/4). Dikutip dari Antara.

Padahal dalam sejarahnya, huruf atau aksara Arab adalah salah satu dari ribuan aksara dari berbagai bangsa di dunia yang oleh bangsa Arab digunakan tidak hanya untuk kepentingan agama. Tetapi juga keperluan ekonomi, politik dan urusan kehidupan lainnya.

Istilah Arab pegon itu sendiri, kata Yenny, berawal dari modifikasi huruf Arab untuk menuliskan bahasa Melayu, bahasa Jawa, bahasa Sunda, serta bahasa daerah lainnya. Tulisan ini berkembang setelah Islam menjadi agama mayoritas rakyat Nusantara.

"Sebelumnya suku-suku bangsa di kepulauan Nusantara menggunakan aksara Pallawa dari bahasa Sansekerta yang berasal dari India Selatan," ujar putri Presiden ke-3 RI, KH Abdurrahman Wahid ini.

Diakui Yenny, penggunaan ikat kepala dan kaos 'Tetap Jokowi' dalam huruf Arab pegon memang upaya untuk mengingatkan kembali pada sejarah yang hilang.

"Sejarah ketika banyak suku bangsa di Indonesia menggunakan huruf Arab untuk menuliskan bahasa daerahnya bagi keperluan sehari-hari. Masa sebelum huruf Latin diperkenalkan oleh penjajah Belanda seperti yang dipakai sampai sekarang," tuturnya.

Pada masanya, lanjut Yenny, huruf Arab pegon sempat dipakai meluas di kalangan pesantren, untuk menulis terjemahan Alquran, menulis naskah-naskah khutbah, hingga menulis adaptasi karya-karya sastra dari Persia, Arab maupun negara-negara Timur Tengah lainnya.

"Meskipun kegiatan literasi masih hidup di pesantren-pesantren, namun huruf Arab pegon sudah semakin jarang digunakan. Ini yang kemudian mengilhami teman-teman relawan RPGD untuk memakai Arab pegon, sekaligus sebagai kritik terhadap penggunaan aksara Arab yang keliru dan salah kaprah," tegas Yenny.

Dalam pemaknaan yang lebih luas, menurut Yenny, penggunaan Arab pegon dalam konteks kekinian tidak lepas dari upaya melestarikan kekayaan budaya Nusantara. "Kita dituntut sigap mengantisipasi perubahan cepat yang muncul sebagai dampak Revolusi Industri 4.0. Namun, kita tetap tidak boleh menanggalkan kearifan lokal, bahkan hingga ke tingkat penggunaan Arab pegon," ujarnya.

Yenny berpendapat, esensi dari Revolusi Industri 4.0 bukan sekadar revolusi teknologi. Tetapi juga revolusi budaya. Revolusi manusia dalam berbagai aspek kehidupan. "Revolusi yang membawa nilai dan norma baru dalam kehidupan sehari-hari, namun tetap memberi ruang bagi setiap upaya menjaga warisan budaya," pungkasnya. [cob]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini