Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Wajah Kotor Pantai Tanah Merah Samboja

Wajah Kotor Pantai Tanah Merah Samboja Pantai Tanah Merah Samboja. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Sebagian kawasan Samboja di Kutai Kartanegara dan Penajam Paser Utara, jadi kawasan calon ibu kota negara baru. Ada sederetan pantai di Samboja, yang bakal jadi salah satu tempat wisata bagi warga ibu kota baru. Seperti Pantai Tanah Merah di Tanjung Harapan, Samboja.

Merdeka.com berkunjung ke Pantai Tanah Marah. Lokasinya sekitar 98 kilometer dari Samarinda, ibu kota provinsi Kalimantan Timur. Melalui Tol Samarinda-Balikpapan, memakan waktu hampir 1,5 jam. Tentu itu lebih singkat apabila tidak melalui jalan tol.

Menuju jalan masuk ke pantai itu, ada deretan tanaman bakau dan permukiman di kiri dan kanan jalan. Sebagian mereka bekerja sebagai petani dan juga nelayan.

Masuk ke pantai pengunjung akan disambut oleh rimbunnya pohon pinus, di tengah hamparan pasir putih berdesir suara ombak. Namun sayang pantai itu nyaris tidak terurus. Sampah pengunjung berserakan di sana sini.

Layaknya tempat wisata, ada fasilitas kamar kecil, sekaligus kamar ganti dan wadah berbilas. Sepoi-sepoi angin pantai layak menjadikannya tempat wisata, maupun hanya sekadar melepas penat. Namun saat merdeka.com berkunjung, pantai relatif sepi dari pengunjung.

"Kalau di sini ramainya di akhir pekan, Sabtu dan Minggu. Sampai lima ribu orang di akhir pekan," kata Hendra Suherman (26), pedagang kaki lima yang juga warga Tanjung Harapan, saat mengawali perbincangan bersama merdeka.com, Selasa (3/3).

Hendra menerangkan, pantai Tanah Merah dahulunya hanya semak belukar, hingga menjadikannya obyek wisata yang layak dikunjungi. "Pantai ini buka dari jam 7 pagi sampai jam 6 sore. Ada karcis masuk kalau motor Rp10 ribu, kalau mobil Rp20 ribu," ujar Hendra.

Hendra memang tidak memungkiri pantai Tanah Merah memang kotor oleh sampah. "Untuk sekarang ini, pengelolaan pantai oleh pemerintah desa. Kalau benar nanti Samboja jadi IKN, kami harap bisa dongkrak perekonomian masyarakat Samboja," ungkap Hendra.

Memang, sejak merdeka.com masuk ke wilayah kecamatan Samboja, setelah keluar dari gerbang tol Samboja, nyaris tidak terlihat wilayah Samboja sebagai calon ibu kota baru. Meski melewati depan kantor kecamatan. Aktivitas warga masih berjalan seperti biasa.

"Tapi di tempat saya tinggal ini tanah jadi mahal. Dulunya sebelum pengumuman ibu kota baru, 1 hektare Rp20 juta-Rp30 juta, sekarang jadi Rp50 juta-Rp60 juta. Sudah ada yang pasang patok-patok lahan, supaya nanti mungkin tinggal bangun saja," ujar Hendra.

(mdk/cob)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP