Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Usir kawanan kera, petani Boyolali minta bantuan warga Suku Dayak

Usir kawanan kera, petani Boyolali minta bantuan warga Suku Dayak Monyet pemetik kelapa muda di Padang Pariaman. ©AFP PHOTO/TANHAR

Merdeka.com - Serangan kawanan kera liar di sejumlah wilayah di Kabupaten Boyolali terus mengganas. Berbagai upaya dilakukan untuk mengusir kera agar tak menjarah lahan pertanian maupun permukiman penduduk. Termasuk di antaranya mendatangkan seratusan penembak jitu dari TNI/Polri maupun Perbakin.

Namun berbagai upaya yang dilakukan warga Karanggede dan Kemusu tersebut belum membuat jera kawanan kera. Mereka masih datang dan menjarah ladang serta pemukiman. Kini warga akan meminta bantuan warga Suku Dayak.

"Kami akan minta bantuan Suku Dayak. Saya yakin mereka memiliki keahlian khusus dalam menangani kawanan kera yang sudah meresahkan warga. Kami memilih Suku Dayak dipilih karena rekomendasi dari sejumlah daerah yang mengalami serbuan kera," ujar Kepala Desa Karanggede, Sukimin, Sabtu (5/8).

Sukimin mengatakan, pihaknya akan menyerahkan semuanya ke Suku Dayak tentang teknik pengusiran kawanan kera. Ia mengaku telah berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boyolali untuk mendatangkan Suku Dayak ke desanya.

Sebelumnya, sejak Kamis (3/8) lalu, warga Karanggede dan Kemusu sudah mendatangkan puluhan penembak jitu untuk mengusir dan menangkap kera. Petugas dari TNI, Polri, Perbakin, dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) bahkan telah membuka posko dan berjaga selama 24 jam

Namun, sampai saat ini mereka belum berhasil menangkap seekor pun kera. Selain keberadaan kawanan kera yang sulit diketahui, wilayah sebaran kera juga semakin meluas. Kawanan kera itu bisa datang kapanpun dan langsung menjarah ladang dan sawah.

"Kamu juga meminta bantuan Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) Solo untuk mendatangkan beberapa ekor kera kedini untuk memancing kedatangan kawanan kera. Kawanan kera nantinya akan dikurung kemudian diletakkan di tempat terbuka dengan harapan kawanan kera liar akan mendatanginya.

“Sebenarnya kalau muncul langsung didor. Tiga hari ini petugas sudah melihat beberapa kera yang muncul, tapi belum berhasil ditembak karena begitu mencium bau manusia mereka langsung lari,” imbuh Sukimin.

Slamet Sukeri dari BKSDA Jawa Tengah, memperkirakan kawanan kera masih akan turun gunung hingga musim kemarau berakhir. Pasalnya, pada musim kemarau hutan kekurangaan air dan makanan akibat rusaknya habitat kera.

"Untuk mengantisipasi kawanan kera masuk pemukiman, kami meminta warga mengandangkan ternaknya. Kami juga meminta agar warga tidak sendirian jika menggarap ladang dan sawah untuk menghindari serangan kera," katanya.

Slamet menambahkan, BKSDA sedang memikirkan solusi Jangka panjang agar serangan kera tak terjadi lagi. Ia mengatakan, habitat kera harus diperbaiki, salah satunya dengan cara menanam tanaman buah.

"Sebenarnya itu cara efektif dan aman, habitat akan terjaga dan kera-kera tidak punah karena ditembaki,” pungkas Slamet.

(mdk/msh)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP