Umat Islam dan Kristen di Aceh investigasi bersama kasus pemurtadan

Kamis, 9 April 2015 11:23 Reporter : Afif
Umat Islam dan Kristen di Aceh investigasi bersama kasus pemurtadan Buku pemurtadan yang beredar di Aceh. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Tokoh lintas agama di Aceh, yaitu umat Islam dan Kristen melakukan investigasi bersama, menelusuri isu 13 warga Aceh murtad dan 15 warga menjadi pendeta. Isu tersebut awalnya diduga disebarkan oleh seorang penceramah. Hasil investigasi, dipastikan isu tersebut hoax alias palsu.

Isu ini awalnya disampaikan oleh penceramah berinisial IRM, warga Kecamatan Delima, Kabupaten Pidie, Aceh. Isu ini lantas menyebar melalui pesan berantai BlackBerry.

Menyikapi hal itu, lintas tokoh agama kemudian duduk bersama membahas perihal itu pada tanggal 30 Maret 2015. Pertemuan ini difasilitasi oleh Kanwil Departemen Agama Aceh, yang dihadiri oleh tokoh agama Islam dan juga pendeta yang ada di Banda Aceh.

Perwakilan Gereja Protestan Indonesia Bersatu (GPIB) Banda Aceh, Idaman Sembiring mengatakan, tidak benar ada upaya misionaris untuk memurtadkan umat Islam di Aceh. Apa lagi penceramah itu disebutkan sebagai presiden misionaris.

"Saya tegaskan bahwa presiden misionaris dalam struktur kekristenan tidak ada, jadi itu tidak benar," kata Idaman Sembiring kepada wartawan di Banda Aceh, Kamis (9/4).

Lanjutnya, apapun yang dituliskan oleh IRM tidak benar. Termasuk adanya pengakuan selaku pendeta besar di Asia. Dalam ajaran Kristen, sebutnya, hanya Yesus Kristus yang besar.

"Jadi kami meminta umat beragama di Aceh untuk tidak terprovokasi, karena bisa menimbulkan perpecahan kehidupan beragama, marilah kita menjaga kerukunan dan keharmonisan hidup beragama yang sudah terjalin baik di Aceh," tukasnya.

Perwakilan muslim Ustaz Tarmizi mengatakan, apapun yang disampaikan oleh IRM tidak benar. Masyarakat diminta untuk tidak terprovokasi dengan ucapan tersebut. Termasuk sebaran nama-nama orang Aceh yang sudah menjadi pendeta dan murtad di Aceh.

"Isi ceramah yang disampaikan itu tidak benar, termasuk tuduhan ada 13 orang murtad, 15 orang Aceh jadi pendeta, semua itu tidak benar, saya sudah cek semua itu, (IRM) juga mengaku dirinya mualaf," tegas Ustaz Tarmizi.

Kata Ustaz Tarmizi, indentitas IRM pun hasil investigasi yang dilakukannya berubah-ubah. IRM pun ada 8 nama yang sering digunakan secara bergantian. Bahkan IRM itu mengaku sebagai Prof Dr Gusti.

"Bagaimana ini, satu orang ada dua marga, sudah saya cek sama orang Batak, tidak ada orang Batak memiliki dua marga, ini juga banyak kejanggalan, bilang profesor, padahal dia tamat SMU," tukasnya.

IRM juga memiliki indentitas tanggal lahir dan masuk Islam berbeda-beda. Pertama dia dapatkan dari KTP yang dikeluarkan di Kecamatan Delima, Kabupaten Pidie lahir Medan, 31 Desember 1977.

Kemudian ada juga indentitas lainnya bahwa IRM lahir Binjai 31 Desember 1980 sesuai dengan surat mualaf. Selain itu juga terdapat lahir di Nusa Dua Bali tahun 1969.

"Saya sudah cek sampai ke Bali indentitas dia, bagaimana dia bisa lahir dua kali, ini juga janggal, sedangkan tanggal masuk Islam juga berbeda-beda yaitu tanggal 11 Juni dan 12 Juni 2007," imbuhnya. [cob]

Topik berita Terkait:
  1. Aceh
  2. Penistaan Agama
  3. Banda Aceh
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini