Wamena, pusat pemerintahan Provinsi Papua Pegunungan dan Kabupaten Jayawijaya, memiliki ikon modern yang sarat makna, yaitu Tugu Salib Wio Silimo. Berada di ketinggian 1.600-1.800 meter di atas permukaan laut, kota ini menawarkan keindahan alam dan kekayaan adat istiadat yang terjaga.
Tugu setinggi 54 meter ini dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Jayawijaya pada tahun 2016 dan diresmikan pada Desember 2020, menjadi penanda masuknya Injil pertama kali di Lembah Baliem pada tahun 1954. Bangunan megah ini dilengkapi lift, memungkinkan pengunjung menikmati pemandangan Kota Wamena dari puncaknya.
Lebih dari sekadar objek wisata rohani, Tugu Salib Wio Silimo Wamena berfungsi sebagai simbol keagungan spiritual masyarakat, pusat aktivitas sosial, serta harapan bagi peningkatan pendapatan asli daerah dan daya tarik wisatawan. Keberadaannya mencerminkan kerukunan dan toleransi antarumat beragama di wilayah tersebut.
Advertisement
Advertisement
Keunikan Wamena dan Sejarah Tugu Salib
Kota Wamena, yang namanya berasal dari bahasa Dani berarti "tempat babi" (Wamena), merupakan daerah terisolasi yang kaya akan keunikan adat istiadat dan religiusitas masyarakatnya. Dikelilingi deretan pegunungan dengan puncak tertinggi Trikora, Wamena memiliki lanskap yang memukau dan dijuluki "kuali raksasa". Masyarakat di dataran tinggi Pegunungan Tengah Papua ini teguh memegang adat istiadat serta ritual agama, dengan mayoritas penduduk beragama Kristen.
Pemerintah Kabupaten Jayawijaya berinisiatif membangun Tugu Salib Wio Silimo sebagai manifestasi keimanan masyarakat. Pembangunan tugu setinggi 54 meter ini dimulai pada tahun 2016 dengan anggaran mencapai Rp150 miliar. Angka 54 meter memiliki makna historis, merujuk pada tahun 1954 ketika Injil pertama kali masuk ke Lembah Baliem, atau yang juga dikenal sebagai Kota Wamena.
Peresmian Tugu Salib Wio Silimo dilakukan pada Desember 2020, menjadikannya salah satu bangunan modern yang menonjol di pedalaman Papua. Tugu ini tidak hanya menjadi penanda sejarah, tetapi juga simbol kuat bagi identitas spiritual masyarakat Jayawijaya. Keberadaannya menunjukkan perpaduan antara kekayaan budaya lokal dan nilai-nilai keagamaan yang dianut.
Advertisement
Advertisement
Tugu Salib Wio Silimo: Simbol dan Pusat Aktivitas
Tugu Salib Wio Silimo berdiri megah tepat di tengah Kota Wamena, berhadapan langsung dengan Kantor Bupati Jayawijaya, menyimbolkan keagungan bagi masyarakat yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan ketinggiannya yang menjulang, tugu ini dapat terlihat dari kejauhan, bahkan dari puncak-puncak pegunungan yang mengelilingi kota. Bupati Jayawijaya Atenius Murib menyatakan bahwa daerah ini sangat indah karena berada di pedalaman Pegunungan Tengah Papua.
Lebih dari sekadar landmark, Tugu Salib Wio Silimo telah menjadi pusat kegiatan sosial dan hiburan bagi kawula muda maupun orang tua di Kota Wamena, terutama dari sore hingga malam hari. Di tengah suhu udara dingin yang bisa mencapai 12-14,5 derajat Celcius, tugu ini menjadi tempat berkumpul yang ramai di kota berjuluk "Kota Kulkas" ini. Pancaran lampu dari tugu juga menjadi simbol harapan kemajuan bagi daerah tersebut.
Pemerintah daerah terus mengingatkan masyarakat untuk menjaga kebersihan dan ketertiban di sekitar Tugu Salib Wio Silimo. Wakil Bupati Jayawijaya Ronny Elopere menekankan pentingnya menjaga lingkungan tugu dan tidak melakukan aktivitas negatif di area tersebut. Pemerintah Kabupaten Jayawijaya bersama TNI-Polri secara rutin menggelar razia di beberapa lokasi, termasuk Tugu Salib Wio Silimo, guna memastikan ketertiban umum terjaga.
Advertisement
Advertisement
Harapan dan Peran Tugu Salib bagi Wamena
Tugu Salib Wio Silimo dirancang bukan hanya sebagai simbol daerah dan objek wisata rohani, melainkan juga sebagai sarana strategis untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Dari puncak tugu, pengunjung dapat menikmati panorama keindahan Kota Wamena dari ketinggian, yang diharapkan dapat menarik lebih banyak wisatawan. Ini menunjukkan potensi tugu sebagai motor penggerak ekonomi lokal.
Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Kabupaten Jayawijaya, Herman Doga, juga menyampaikan harapan agar seluruh masyarakat ikut serta menjaga dan melestarikan Tugu Salib Wio Silimo. Tugu ini menjadi dasar kerja bagi program "DANI" (Damai, Aman, Nyaman, dan Indah) yang diusung oleh Bupati Atenius Murib dan Wakil Bupati Ronny Elopere. Program ini bertujuan mewujudkan Wamena sebagai kawasan modern yang aman dan nyaman.
Sebagai daerah dengan mayoritas penganut Kristen, keberadaan Tugu Salib Wio Silimo diharapkan dapat memperkuat fondasi keimanan masyarakat serta menjaga keamanan dari segala gangguan. Kebersihan lingkungan juga menjadi bagian integral dari program "DANI" ini, menggenapi visi untuk menjadikan Kota Wamena sebagai kawasan modern di lembah Pegunungan Tengah Papua yang didasari oleh nilai-nilai spiritual.
Advertisement
Sumber: AntaraNews