Trivia Militer: China Pamerkan Kekuatan Pertahanan Terkini Termasuk Rudal Hipersonik di Parade Peringatan 80 Tahun Kemenangan Perang.
Saksikan bagaimana Parade Militer China memamerkan teknologi pertahanan terbaru, dari rudal hipersonik hingga senjata laser, menandai 80 tahun kemenangan perang dan menegaskan komitmen damai.
China baru-baru ini menggelar parade militer megah di Lapangan Tiananmen, Beijing, pada Rabu, 4 September. Acara ini diselenggarakan untuk memperingati 80 tahun kemenangan Perang Rakyat China Melawan Agresi Jepang. Peringatan ini menjadi momen penting bagi Beijing untuk menunjukkan kemajuan militernya.
Dalam parade tersebut, Beijing memamerkan berbagai teknologi pertahanan terbarunya, menegaskan posisi sebagai kekuatan militer global. Presiden Xi Jinping turut hadir, memberikan pidato yang menekankan komitmen China terhadap perdamaian dunia. Ia menyatakan, "Rakyat China dengan teguh berpihak pada sisi sejarah yang benar, kemajuan peradaban manusia, berkomitmen pada jalan pembangunan damai."
Sebanyak 26 pemimpin negara dan pemerintahan, termasuk Presiden Prabowo Subianto dari Indonesia, Presiden Rusia Vladimir Putin, dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, menyaksikan langsung demonstrasi kekuatan ini. Kehadiran mereka menyoroti pentingnya acara tersebut di mata dunia internasional dan hubungan diplomatik China.
Teknologi Pertahanan Canggih dalam Parade Militer China
Parade militer ini menampilkan persenjataan terkini yang dimiliki dan diproduksi oleh China, termasuk rudal dengan kendaraan luncur hipersonik (Hypersonic Glide Vehicle atau HGV). Rudal ini mampu membawa hulu ledak dengan kecepatan lebih dari lima kali kecepatan suara, serta memiliki lintasan terbang yang tidak teratur. Kemampuan ini dirancang untuk mengganggu pertahanan rudal lawan dan menghancurkan kapal di laut secara efektif.
Selain itu, berbagai jenis rudal pertahanan udara dari keluarga Hongqi juga dipertunjukkan, seperti Hongqi-20, Hongqi-19, dan Hongqi-29. Rudal-rudal ini merupakan generasi baru yang dirancang untuk menembak jatuh pesawat tempur, pesawat siluman (stealth), rudal jelajah, dan rudal balistik jarak menengah. Kehadiran mereka menunjukkan kemampuan China dalam menjaga wilayah udaranya.
China juga memamerkan rudal nuklir peluncur udara Jinglei-1, Julang-3, Dongfeng-61 (DF-61), dan Dongfeng-31. Senjata-senjata ini adalah rudal balistik antarbenua (intercontinental ballistic missile atau ICBM) dengan basis peluncuran yang berbeda. Julang-3 berbasis di kapal selam, sementara Dongfeng-61 dan Dongfeng-31 berbasis di darat, dan Jinglei-1 di udara, menunjukkan kemampuan serangan strategis yang komprehensif.
Inovasi Senjata dan Kendaraan Tempur Terbaru
Defile pasukan Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) menampilkan berbagai unit dari Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, Angkatan Roket, hingga pasukan penjaga perdamaian PBB. Mereka juga memamerkan kendaraan amfibi roda lapis baja, kendaraan tempur infanteri, dan howitzer, yang merupakan meriam berat untuk tembakan tidak langsung.
Berbagai jenis tank dari beberapa generasi turut dipamerkan, seperti tank 99B dan tank 100, beserta kendaraan pendukung 100. Kendaraan-kendaraan ini dirancang untuk mendukung kemampuan mobilitas tinggi, merebut titik-titik penting, dan memiliki daya tembus pertahanan yang kuat. Hal ini menunjukkan fokus China pada modernisasi kekuatan daratnya.
Di sektor udara, keluarga pesawat tempur siluman canggih seperti J-16D, J-20, J-35A, J-20S, dan J-20A tampil dalam dua formasi yang mengesankan. Selain itu, helikopter tanpa awak yang cocok untuk serangan jarak jauh maupun dukungan logistik juga turut diperlihatkan. Ini menandakan kemajuan signifikan dalam teknologi penerbangan militer China.
Yang menarik perhatian adalah kehadiran senjata laser, yang termasuk dalam kelas "senjata energi terarah" dan mencakup sistem gelombang mikro berdaya tinggi. Senjata ini mengandalkan energi elektromagnetik untuk melumpuhkan target melalui panas, gangguan pada sistem kelistrikan internal, atau pembutaan sensor seperti optik dan radar. Senjata energi terarah ini berpotensi lebih murah dibandingkan senjata kinetik dan lebih mudah diangkut karena tidak memerlukan proyektil logam berat.
Sumber: AntaraNews