Trivia: Kostum dari Kardus! Lapas Kediri Fasilitasi Adu Kreativitas WBP Peringati HUT RI

Merayakan HUT ke-80 RI, Lapas Kediri sukses memfasilitasi adu Kreativitas WBP dalam peragaan busana adat dan teaterikal, membuktikan bakat tak terbatasi jeruji. Penasaran kostumnya?

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Trivia: Kostum dari Kardus! Lapas Kediri Fasilitasi Adu Kreativitas WBP Peringati HUT RI
Merayakan HUT ke-80 RI, Lapas Kediri sukses memfasilitasi adu Kreativitas WBP dalam peragaan busana adat dan teaterikal, membuktikan bakat tak terbatasi jeruji. Penasaran kostumnya? (Merdeka.com)

Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Kediri, Jawa Timur, baru-baru ini menjadi saksi bisu dari gelaran adu kreativitas yang luar biasa. Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di sana menunjukkan bakat terpendam mereka dalam peragaan busana adat dan pertunjukan teaterikal. Kegiatan ini diselenggarakan untuk memeriahkan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia.

Inisiatif positif ini bertujuan untuk memberikan wadah bagi WBP menyalurkan ide, bakat, dan keterampilan secara konstruktif. Kalapas Kelas II A Kediri, Solichin, turut mengapresiasi semangat para warga binaan yang mampu menciptakan karya-karya menarik. Semangat kemerdekaan dan kebersamaan begitu terasa di balik tembok lapas.

Acara yang berlangsung pada Jumat (22/8) ini tidak hanya melibatkan WBP, tetapi juga para pegawai lapas yang turut berpartisipasi. Mereka berkolaborasi menciptakan suasana perayaan yang meriah dan penuh makna. Berbagai kostum unik dari bahan daur ulang menjadi daya tarik utama.

Kreativitas Tanpa Batas: Dari Teaterikal hingga Kostum Daur Ulang

Sebelum peragaan busana dimulai, suasana Lapas Kediri dibuat tegang sekaligus menghibur dengan pertunjukan teaterikal yang memukau. Warga binaan menampilkan kisah heroik kemenangan Garuda yang berhasil meluluhlantakkan penjajah. Adegan ini dikemas dengan semangat perjuangan yang tinggi, sarat akan makna kemerdekaan dan nasionalisme.

Pertunjukan teaterikal ini dipimpin langsung oleh Kepala Seksi Bimbingan Narapidana dan Anak Didik (Kasi Binadik) Lapas Kelas II A Kediri, Harry Suryadi. Keunikan utama dari pagelaran ini terletak pada kostum yang digunakan. Seluruh kostum dibuat sendiri oleh WBP dari barang-barang sederhana yang ditemukan di lingkungan lapas.

Berbagai material seperti plastik dan kardus disulap menjadi busana dan atribut panggung yang luar biasa. Contohnya, ada barong yang terbuat dari kardus, topeng penthul hasil karya tangan WBP, hingga atribut lain yang tampil sangat unik. Sorak penonton menyambut setiap penampilan, menunjukkan apresiasi terhadap kreativitas WBP Lapas Kediri.

Karya-karya ini membuktikan bahwa kreativitas tidak pernah "terpenjara", bahkan dalam keterbatasan sekalipun. Semangat para WBP dalam menciptakan busana dan properti panggung dari bahan daur ulang patut diacungi jempol. Mereka berhasil mengubah sampah menjadi karya seni yang memukau.

Pesona Busana Adat dan Kreasi Unik WBP

Setelah pertunjukan teaterikal yang mengesankan, giliran para peserta peragaan busana mengambil alih panggung. WBP menampilkan busana-busana unik yang terbuat dari bahan-bahan sederhana seperti plastik, kardus, dan kertas. Barang-barang bekas yang mudah dijumpai di lingkungan lapas berhasil disulap menjadi kostum penuh warna dan memikat perhatian juri.

Beberapa kostum yang menarik perhatian antara lain kostum Gatot Kaca dari kardus, lengkap dengan ornamen bertema kemerdekaan Indonesia. Ada juga kreasi yang memanfaatkan tutup botol sebagai hiasan busana, serta berbagai bentuk lain dari kardus yang dibentuk menjadi kostum unik. Semua karya ini berhasil memukau penonton sekaligus para juri yang hadir.

Tidak hanya warga binaan, para pegawai Lapas Kediri juga turut memeriahkan acara dengan mengenakan busana adat Nusantara. Mereka tampil menawan dengan pakaian adat dari berbagai daerah, mulai dari Jawa, Bali, hingga Dayak. Kolaborasi antara kostum kreasi WBP dan pakaian adat pegawai menciptakan suasana perayaan yang semakin berwarna dan semarak.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang adu bakat, tetapi juga simbol kebersamaan dan keceriaan di balik tembok lapas. Kalapas Solichin menegaskan bahwa kegiatan positif seperti ini sangat penting. Ini adalah bukti nyata bahwa bakat dan ide dapat terus berkembang, bahkan dalam lingkungan pemasyarakatan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi