Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Toleransi Kuat dari Gang Kecil di Sudut Kota Bandung

Toleransi Kuat dari Gang Kecil di Sudut Kota Bandung Gang Ruhana di Bandung. ©2019 Merdeka.com/Aksara Bebey

Merdeka.com - Setara Institute mencatat, Provinsi Jabar mendapat indeks terburuk provinsi paling intoleran di Indonesia. Namun, keberadaan warga di Gang Ruhana seakan menjadi oase di tengah skor yang diberikan oleh lembaga survei tersebut.

Bagaimana tidak, warga lintas agama di kawasan Kelurahan Paledang, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung itu sudah hidup rukun dan saling menghargai. Apabila ada momen besar, seperti Natal, warga muslim dan hindu ikut membantu mempersiapkan segala kebutuhan agar peribadatan berjalan khidmat. Perlakuan itu pun berlaku saat ada hari besar keagamaan yang lain.

Warga kristiani akan menghentikan latihan paduan suara jika azan berkumandang. Muslim pun tidak merasa terganggu dengan wangi dupa dari vihara atau mendengar senandung dari gereja.

Gang Ruhana sudah dijuluki sebagai kampung toleransi pada 11 Mei tahun 2018. Namun, sikap toleransi warganya sudah ada jauh sebelum itu. Suasana toleransi warga yang kuat sudah terasa sejak memasuki kawasan tersebut.

Mural warna-warni tiga wajah dengan berbagai simbol agama menjadi gerbang pembuka. Lalu, hal itu dikuatkan dengan keberadaan tiga tempat ibadah yang terletak berdekatan. Di sana terdapat Masjid Al-Amanah yang berdiri sejak tahun 2015, Vihara Girimetta sudah ada sejak tahun 1946, dan Gereja Pantekosta menjadi salah satu bangunan tertua karena sudah ada pada tahun 1933.

Di momen natal, sejak pagi, hampir semua tokoh masyarakat ikut membantu persiapan ibadah di gereja yang akan berlangsung pada pukul 18.00 WIB. Persiapan yang matang sangat penting mengingat jumlah jemaat yang datang hampir 1.000 orang seperti tahun-tahun sebelumnya.

Ibu Gembala dari Gereja Pantekosta, Peggy Sriyoto menyatakan warga yang beragama islam maupun Buddha membantu mengatur kendaraan sekaligus menjadi penjaga malam.

"Kami juga dibantu ketika memasang hiasan pohon natal. Ini sudah dilakukan secara turun temurun. Jadi semuanya sangat alamiah," kata dia, Rabu (25/12/2019).

Baginya, selaku generasi yang mewarisi tradisi, menjaga keberagaman yang terjalin adalah dengan komunikasi yang baik. Saat bertetangga ataupun bersosialisasi, interaksi yang terjadi tidak membahas agama yang berbeda. Masing-masing warga sudah memahami bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang berlaku baik terhadap sesama manusia.

"Kami saling menerima dan menghargai, itu namanya toleransi dalam relasi, dalam apapun terutama bermasyarakat," kata dia.

Sementara itu, Ketua DKM Masjid Al-Islam Sugandi mengatakan warga yang berada di Gang Ruhana tidak hanya memahami konsep komunikasi yang baik dan saling menghargai. Lebih jauh, mereka bisa mempraktikannya. Jika hal itu bisa berjalan baik, maka muaranya adalah saling menyayangi.

"Yang paling penting, apalagi dalam Islam itu karena kita saling menghormati dan menyayangi," imbuhnya.

(mdk/ded)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP