Tingkatkan Literasi Lewat Masagi

Minggu, 13 Oktober 2019 05:04 Reporter : Mochammad Iqbal
Tingkatkan Literasi Lewat Masagi Metode Masagi untuk tingkatkan literasi di Garut. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Tahun 2014, Sekolah Tinggi Agama Islam Persis (STAIPI) Garut melakukan survei di salah satu kecamatan tentang kemampuan masyarakat akan literasi. Hasil dari riset yang melibatkan ribuan responden tersebut cukup mencengangkan, karena 43,34 persen masyarakat buta aksara.

Berawal dari survei tersebut, setelah melewati sejumlah fase muncul metode pengajaran literasi bernama Masagi (Maca Sakali Ngarti). Dalam Masgi sendiri terdapat 12 metode pembelajaran literasi yang memadukan sistem budaya lokal Sunda.

Koordinator Perumus metode literasi Masagi, Heri M Tohari menyebut bahwa terdapat 12 teknik pembelajaran literasi dalam metode Masagi.

"Mulai dari sakali moyeg, sakali guyub, sakali nempo, sakali ngawih, sakali aksara, sakali nyusun, sakali keprok, sakali kotret, sakali ulin, sakali wayang mitekar, sakali refleksi, dan sakali pamingkal," ujarnya, Sabtu (12/10).

Dalam 12 konsep pembelajaran tersebut, dikatakan Heri Untuk mengembangkan tiga potensi manusia yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Kelebihannya, Masagi memiliki spirit budaya lokal. Tujuannya sendiri adalah menjadikan budaya lokal menyelesaikan persoalan-persoalan di lapangan.

"Konsep masagi ini memang sistem literasi berbasis budaya, sehingga istilah yang kita gunakannya adalah istilah kesundaan. Yang paling penting masagi adalah follow up dari hasil riset yang melibatkan 5.793 responden di salah satu kecamatan di Garut yang hasilnya 43,34 persen buta aksara tahun 2014," ceritanya.

Usai mendapatkan hasil tersebut, selama lima tahun dilakukan berbagai gerakan untuk memberantas buta aksara di wilayah tersebut, mulai dengan pembentukan kelompok literasi sampai pembentukan konsep Masagi. Di tahun 2018, kemudian dilakukan uji konsep dengan melibatkan empat perguruan tinggi di Garut dan melibatkan dosen-dosen lintas ormas Islam.

"12 konsep pembelajaran ini hasilnya Alhamdulillah cukup signifikan, di mana setelah dilakukan uji coba di laboratorium terdapat kecenderungan kenaikan kemampuan membaca masyarakat. Ke depannya kita mencoba dengan sistem Masagi diadopsi menjadi semangat baru terhadap sistem literasi berbasis keormasan Islam," jelasnya.

Sementara itu Ketua LPPM STAIPI Garut, Pepen Irpan Fauzan menyebut bahwa konsep Masagi menjadi salah satu cara untuk mengenalkan literasi sejak dini namun menyenangkan.

"Selama ini guru kan kaku ketika mengajar siswa sehingga yang terjadi para siswa ini bosan. Dengan metode ini tentu akan menjadikan lebih menyenangkan karena mengajar sambil bermain sehingga lebih efektif. Dan meski konsep yang digunakan budaya sunda, tapi bisa direplikasi dengan budaya di tempat lain dan ini bermakna bahwa basis budaya bisa mengajarkan literasi lebih efektif," gamblangnya.

1 dari 1 halaman

Gerakan Literasi Berbasis Ormas untuk Lawan Radikalisme dan Hoaks

Banyaknya masyarakat yang terjebak dalam radikalisme dan hoaks, disebut Pepen akibat rendahnya budaya literasi. Menyikapi hal tersebut, STAIPI Garut menginisiasi gerakan literasi berbasis Ormas Islam.

Pepen menyebut bahwa gerakan literasi tersebut menjadikan yang berperan utama dalam literasi bukanlah pemerintah, tetapi juga ormas Islam. "Kalau di pemerintah ada GLS atau gerakan literasi sekolah, maka kami menggagas GLJ atau gerakan literasi jamiyah," ujarnya.

Ia mengatakan bahwa dengan kemajuan zaman, khususnya ketika munculnya gawai terjadi penurunan yang tajam akan literasi. Tidak jarang kemudian yang terjadi adalah minat baca dan menulis yang kurang diminati kaum pelajar.

"Ini yang harus disikapi oleh ormas. Jangan sampai ke depan anak-anak kita itu betul-betul tidak lagi mau membaca. Sekarang itu dampak nyata hilanganya kemampuan membaca anak-anak atau menjadi rendah. Walau buta huruf sudah terberantas dengan baik, tapi kekuatan literasi dan pemahamannya jadi rendah, karya tulis di kalangan siswa juga semakin ke sini semakin rendah, baik secara kualitatif maupun kuantitatif," ujar Pepen.

Jika melihat sejarah, kekuatan literasi di lembaga pendidikan Islam, baik sekolah, madrasah maupun pesantren sangat kuat. Namun kini yang terjadi sebaliknya, terjadi penurunan budaya tersebut.

Dampak nyatanya akibat minimnya literasi, lanjut Pepen, mudahnya masyarakat termakan hoaks. Hal tersebut pun kemudian juga berlaku mereka yang terpapar radikalisme. "Ini karena hanya melihat isi dan dimakan seadanya tanpa dipahami akbat kurang literasi," ungkapnya.

Ia berharap agar tercipta jaringan literasi antar ormas Islam, seperti antara Persis, NU, Muhammadiyah dan lainnya dengan basis sekolah dan perpustakaan. Pepen menyebut bahwa pusat dari gerakan tersebut adalah perpustakaan.

Pepen mengaku sangat berharap kemudian terbangun jaringan perpustakaan yang ada di lembaga-lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan ormas Islam.

"Yang kita harapkan adalah perpustakaan yang tadinya bergerak sendiri-sendiri diharapkan terkoneksi dengan yang lainnya," ungkapnya.

[cob]
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini