Tim Kuasa Hukum Tuding Polisi Lamban Usut Kasus Novel Sampai Masuk Angin

Sabtu, 9 November 2019 20:03 Reporter : Yunita Amalia
Tim Kuasa Hukum Tuding Polisi Lamban Usut Kasus Novel Sampai Masuk Angin Novel Baswedan diperiksa tim pencari fakta. ©2019 Merdeka.com/Dwi Narwoko

Merdeka.com - Kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan tak kunjung menemukan titik terang selama lebih dari dua tahun. Pengusutan kasus subuh mencekam itu terlunta-lunta di kepolisian.

Anggota tim kuasa hukum Novel, Haris Azhar mengaku tidak kaget dengan sikap negara seperti itu. Bahkan, saking 'lambannya' proses pengungkapan kasus kriminal tersebut mengakibatkan masuk angin yakni adanya laporan politisi PDIP Dewi Tanjung.

"Ini kan ibarat masuk angin ketika kasus Novel enggak diselesaikan, enggak dituntaskan, tidak ditangani dengan baik, akhirnya situasi ini diisi oleh orang yang menurut saya itu mengaburkan persoalan yang sebenarnya," ujar Haris, Jakarta, Sabtu (9/11).

Pegiat hak asasi manusia itu menuding negara cuci tangan atas apa yang menimpa Novel sebagai penyidik KPK dengan mengulur waktu dan melempar tanggung jawab penuntasan kasus pejabat lain di polisi.

Penguluran penuntasan kasus, kata Haris, semakin membuktikan secara jelas kepada masyarakat bahwa tidak ada kemajuan apa pun dari pengungkapan kasus 11 April 2017 silam. Haris menegaskan negara dalam posisi ini diam.

"Ini semua karena negara diam, negara tidak bekerja, negara selalu lempar janji dari satu tim ke tim yang lain ke satu jagal deadline ke satu jagal deadline yang lain tapi sebetulnya enggak ada yang bergerak maju dari satu kasus Novel itu sendiri," ujarnya.

Kasus teror air keras terhadap Novel bermula Selasa 11 April 2017 sekitar pukul 05.10 WIB, Novel Baswedan keluar dari Masjid Al Ihsan, Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Dia baru saja menyelesaikan salat subuh berjamaah di masjid yang berjarak empat rumah dari kediamannya. Saat hendak kembali ke rumahnya, tiba-tiba ada dua pengendara sepeda motor yang mendekat. Novel diserang dengan menyiramkan air keras ke arahnya.

Air keras tersebut mengenai wajah Novel. Kejadian yang terlalu cepat membuat Novel tak sempat melihat siapa pelakunya. Akibat paparan cairan itu, Novel langsung dilarikan ke Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading.

Di hari yang sama, Kapolri Jenderal Tito Karnavian langsung bergerak cepat membentuk tim khusus untuk menangani kasus itu. Tim tersebut merupakan gabungan dari tim Polres Jakarta Utara, Polda Metro Jaya, dan Mabes Polri.

Sore harinya, Novel Baswedan dirujuk ke RS Jakarta Eye Center, Menteng, Jakarta Pusat. Didiagnosa mengalami luka serius di mata akibat terpapar air keras, Novel kemudian dirujuk ke rumah sakit Singapura pada esok harinya, Rabu 12 April 2017.

Di hari yang sama, 12 April 2017, mantan Ketua KPK Busyro Muqoddas sempat meminta kepada Presiden Joko Widodo alias Jokowi untuk segera membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) independen yang berada langsung di bawah naungan Presiden.

Namun permintaan tersebut tak ditanggapi. Koalisi masyarakat sipil peduli KPK dan Wadah Pegawai KPK menyuarakan dan mendesak Presiden Jokowi segera membentuk TGPF. Koalisi mensinyalisasi adanya keterlibatan petinggi Polri dalam teror tersebut. [rhm]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini