Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Temuan praktik prostitusi bukti koordinasi pengelola & penghuni apartemen

Temuan praktik prostitusi bukti koordinasi pengelola & penghuni apartemen apartemen kalibata city. ©photobucket.com

Merdeka.com - Praktik prostitusi kerap terjadi di apartemen maupun rumah susun baik secara konvensional atau online. Namun, hal itu tak serta merta dibebankan kepada pihak pengelola.

Sosiolog Musni Umar menilai sesuai aturan, pengelola apartemen bekerja di area publik, sehingga tidak dapat mengakses langsung sampai kepada level unit karena menyangkut privasi pemilik.

Oleh karenanya, diperlukan kepedulian penghuni untuk proaktif melaporkan hal-hal yang mencurigakan di lingkungannya kepada pengelola.

Peran pengelola, lanjut Musni, yakni bekerjasama dengan penghuni serta aparat kepolisian untuk memutus mata rantai praktik prostitusi tersebut.

Dia menjelaskan, sebenarnya temuan berbagai kasus prostitusi dan narkoba di apartemen bisa dilihat dari sisi positif karena menunjukkan koordinasi antara pengelola, penghuni dan polisi sebagai penegak hukum berjalan baik.

"Banyak kasus prostitusi dan narkoba di apartemen yang tidak terungkap karena para penghuni dan pengelolanya tidak peduli terhadap pelanggaran yang terjadi," ujar Musni di Jakarta, Rabu (9/5).

Menurut Musni, kasus prostitusi tidak hanya terjadi di Apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan seperti yang diungkap polisi baru-baru ini. Beberapa bulan lalu, polisi juga mengungkap kasus prostitusi di sejumlah apartemen di wilayah Jakarta Barat, Kawasan Jalan Gajah Mada, dan Taman Sari.

"Di tengah meningkatnya jumlah kelas menengah, ini menjadi bisnis atau pasar prostitusi itu sendiri. Sehingga banyak muncul kasus-kasus seperti ini," ujarnya.

Ia menjelaskan, prostitusi umumnya terjadi pada para penghuni baru yang belum dikenal oleh penghuni lain. Untuk mengantisipasinya, penghuni dapat membentuk komunitas-komunitas seperti di bidang olahraga, seni, dan keagamaan agar para penghuni dapat mengenal satu sama lain.

Nantinya, pengelola bisa menjadi fasilitator dalam pengembangan komunitas tersebut. "Pengembangan community care ini sangat penting di tengah masyarakat urban yang sangat dinamis," katanya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pembina P3SRS Kalibata City, Musdalifah sebelumnya, mengatakan kasus prostitusi disebabkan karena banyak agen properti nakal yang menyewakan unit apartemen secara harian. Menurutnya selain tanggung jawab yang dimiliki petugas keamanan dan badan pengelola, pihak penghuni juga memiliki petugas mandiri untuk mengawasi lingkungan di setiap tower Apartemen Kalibata City.

"Ada tenaga Tenant Safety Officer (TSO) yang diusulkan ditambah dari dua menjadi lima orang. Mereka adalah para penghuni apartemen itu sendiri karena mereka yang paling memahami keamanan lingkungan mereka," tambahnya.

P3SRS juga selalu berkoordinasi dengan polisi dan pengelola manakala terdapat hal-hal yang mencurigakan, termasuk melaporkan jika diduga ada praktik prostitusi atau narkoba. (mdk/rhm)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP