Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) secara aktif mendorong transformasi tata kelola penempatan pekerja migran Indonesia. Upaya ini bertujuan agar proses penempatan menjadi lebih terarah dan sesuai dengan kebutuhan pasar kerja global yang terus berkembang.
Direktur Jenderal Promosi dan Pemanfaatan Peluang Kerja Luar Negeri (P3KLN) KP2MI, Dwi Setiawan Susanto, mengungkapkan bahwa permintaan pekerja migran di banyak negara sangat tinggi. Ia mencontohkan, di Jepang saja terdapat sekitar 850 ribu peluang kerja dalam lima tahun ke depan, sebuah potensi besar yang harus dioptimalkan.
Meskipun demikian, Indonesia baru mampu menempatkan sekitar 297 ribu pekerja migran Indonesia pada tahun 2024. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan signifikan antara ketersediaan dan kebutuhan, serta perlunya integrasi sistem dan pemetaan sektor agar pasokan tenaga kerja Indonesia dapat memenuhi permintaan yang ada di pasar global.
Advertisement
Advertisement
Peluang Besar di Pasar Global dan Tantangan Penempatan Saat Ini
Dwi Setiawan Susanto menyampaikan bahwa tantangan utama saat ini adalah kesesuaian (matching) antara kebutuhan tenaga kerja (demand) dan ketersediaan tenaga kerja Indonesia (supply). "Ini menunjukkan perlunya integrasi sistem dan pemetaan sektor agar supply kita bisa menjawab demand yang ada," ujar Dwi dalam Forum Roundtable Decision di Jakarta, Kamis (19/9).
Hingga saat ini, penempatan pekerja migran Indonesia masih didominasi oleh sektor domestik, mencakup sekitar 80 persen dari total penempatan. Kondisi ini menjadi perhatian, mengingat Indonesia memiliki potensi besar di sektor formal.
Padahal, pekerja migran Indonesia memiliki keunggulan kompetitif di sejumlah sektor formal yang membutuhkan keterampilan lebih tinggi. Sektor-sektor tersebut meliputi kesehatan, manufaktur, konstruksi, pertanian, hingga hospitality. Perawat Indonesia, misalnya, dikenal memiliki empati dan keterampilan yang baik, sehingga mulai membentuk 'brand hospitality' di mata dunia.
Advertisement
Potensi ini menjadi modal penting bagi Indonesia untuk lebih banyak menempatkan pekerja migran ke sektor-sektor formal dengan level keterampilan yang lebih tinggi, meningkatkan nilai tambah dan perlindungan bagi mereka.
Advertisement
Strategi KP2MI untuk Pekerja Migran Berdaya Saing
Untuk mengatasi tantangan dan mengoptimalkan potensi, KP2MI telah menyiapkan strategi transformasi komprehensif. Strategi ini meliputi penguatan market intelligence, yaitu kemampuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis kebutuhan pasar kerja global secara mendalam.
Selain itu, KP2MI juga fokus pada pemetaan sektor per negara tujuan, sehingga penempatan dapat lebih tepat sasaran sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan. Peningkatan keterampilan berbasis standar internasional juga menjadi prioritas, memastikan pekerja migran Indonesia memiliki kompetensi yang diakui secara global.
Peran Atase Ketenagakerjaan RI di luar negeri juga akan diperkuat untuk mengidentifikasi kebutuhan langsung dari pengguna di sektor manufaktur, kesehatan, maupun industri lain. "Kuncinya adalah membangun database yang solid, lalu mencocokkan dengan supply tenaga kerja dari Indonesia yang juga harus berbasis potensi geografis dan karakteristik daerah," jelas Dwi.
Advertisement
Pendekatan ini diharapkan dapat menciptakan sistem penempatan yang lebih efisien dan efektif, menghubungkan potensi tenaga kerja Indonesia dengan peluang di pasar global secara lebih strategis.
Advertisement
Optimalisasi Bonus Demografi dan Rebranding Pekerja Migran
Dwi Setiawan Susanto menambahkan bahwa bonus demografi yang dimiliki Indonesia harus dioptimalkan untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja global. Terutama di negara-negara dengan populasi menua (ageing population) yang membutuhkan banyak tenaga kerja produktif untuk mendukung perekonomian mereka.
"Di sinilah pentingnya link and match antara pendidikan vokasi, pelatihan, sertifikasi, dan kebutuhan kompetensi di negara tujuan," katanya. Integrasi antara sistem pendidikan dan pelatihan dengan tuntutan pasar kerja global menjadi krusial untuk menghasilkan pekerja migran yang siap bersaing.
Beberapa negara atau kawasan tujuan pekerja migran Indonesia masih didominasi oleh Taiwan, Malaysia, Jepang, Korea, dan Hongkong. Namun, peluang penempatan di negara-negara lain terus terbuka, seperti Jerman dan Kanada, yang menawarkan kesempatan lebih luas bagi skilled worker.
Advertisement
KP2MI bertekad untuk melakukan rebranding citra pekerja migran Indonesia. "Ini saatnya kita melakukan rebranding bahwa Pekerja Migran Indonesia adalah skilled worker dengan kompetensi terukur dan sertifikasi internasional. Transformasi ini kunci agar perlindungan meningkat, dan PMI kita mampu bersaing di pasar kerja global," pungkas Dwi.
Sumber: AntaraNews