Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, secara proaktif terus menggalakkan sosialisasi pentingnya Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Sosialisasi ini menyasar kantor kecamatan dan desa atau kelurahan di seluruh wilayah Bantul. Upaya ini bertujuan meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana kebakaran.
Meskipun kantor kecamatan dan kelurahan belum menjadi objek inspeksi utama BPBD Bantul tahun ini, imbauan dan edukasi intensif tetap diberikan. Hal ini dilakukan pada setiap kesempatan untuk memastikan informasi mengenai Pentingnya APAR di Kantor tersampaikan dengan baik. Inisiatif ini merupakan bagian integral dari strategi pencegahan kebakaran yang komprehensif.
Menurut Kepala Bidang Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) BPBD Bantul, Irawan Kurnianto, APAR adalah alat portabel krusial untuk memadamkan api kecil. Penempatan APAR di lokasi yang mudah diakses dan di setiap ruangan sangat vital. Ini memungkinkan penanganan awal yang cepat dan efektif saat terjadi insiden kebakaran.
Advertisement
Advertisement
Pencegahan Dini: Investasi Penting untuk Keamanan Kantor
Irawan Kurnianto menekankan filosofi bahwa mencegah selalu lebih baik daripada mengobati, terutama dalam konteks kebakaran. Ia mengilustrasikan bahwa investasi dalam membeli APAR jauh lebih ringan secara finansial. Ini dibandingkan dengan kerugian dan biaya perbaikan yang harus ditanggung jika sebuah ruangan atau gedung beserta isinya hangus terbakar.
Urgensi kepemilikan APAR di instansi pemerintahan semakin nyata setelah kejadian kebakaran akibat korsleting listrik di Kecamatan Kasihan. Peristiwa tersebut menjadi pengingat penting akan risiko yang selalu ada. Oleh karena itu, ketersediaan APAR di kantor kecamatan dan kelurahan menjadi kebutuhan mendesak.
Pemasangan APAR tidak hanya sekadar formalitas, melainkan tindakan preventif yang strategis. Dengan APAR yang mudah dijangkau, setiap orang dapat bertindak cepat. Respons awal ini krusial untuk mengendalikan api sebelum membesar dan menyebabkan kerusakan lebih lanjut.
Advertisement
Edukasi mengenai cara penggunaan APAR yang benar juga menjadi bagian tak terpisahkan dari sosialisasi ini. Pengetahuan yang memadai akan memastikan bahwa alat tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal. Dengan demikian, potensi kerugian dapat diminimalisir secara signifikan.
Advertisement
Membangun Ketahanan Komunitas Melalui Relawan dan Data Kebakaran
Selain sosialisasi langsung, BPBD Bantul juga aktif dalam membentuk relawan pemadam kebakaran (Redkar) di tingkat kelurahan. Kelurahan yang telah mendapatkan sosialisasi juga diberikan pelatihan komprehensif mengenai penanganan kebakaran. Inisiatif ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas komunitas dalam merespons insiden kebakaran secara mandiri.
Hingga saat ini, sebanyak 37 kelurahan di Kabupaten Bantul telah berhasil membentuk Redkar. BPBD Bantul berkomitmen untuk melanjutkan program ini secara bertahap. Targetnya adalah mencapai seluruh 75 kelurahan agar memiliki tim Redkar yang terlatih. Ini menunjukkan upaya serius dalam membangun ketahanan bencana di seluruh wilayah.
Data dari Damkarmat BPBD Bantul menunjukkan adanya 140 kejadian kebakaran yang ditangani hingga pertengahan September 2025. Insiden kebakaran ini memiliki objek yang beragam. Mulai dari rumah tinggal, jaringan listrik, tempat usaha, pabrik, kendaraan, lahan, hingga kandang dan rumpun bambu.
Advertisement
Penyebab utama kebakaran sebagian besar diidentifikasi sebagai korsleting listrik, diikuti oleh faktor kelalaian manusia. Selain itu, aktivitas pembakaran sampah dan barang bekas, serta kebocoran gas, juga turut berkontribusi. Beberapa kasus masih dalam penyelidikan untuk menentukan penyebab pastinya, termasuk kejadian terakhir di kantor Kecamatan Kasihan.
Sumber: AntaraNews