Sungai Rindu dan Kemandirian Wisata Warga Bekasi

Sabtu, 14 September 2019 17:00 Reporter : Yunita Amalia
Sungai Rindu dan Kemandirian Wisata Warga Bekasi Sungai rindu di Bekasi. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Semilir angin laut berhembus menerbangkan partikel debu sepanjang jalan menuju pesisir pantai utara di Desa Samudra Jaya, Tarumajaya, Kabupaten Bekasi. Pantai itu menjadi pintu masuk bagi pengunjung yang hendak ke Sungai Rindu. Ekoturisme baru bagi warga Kabupaten Bekasi.

Terletak di paling ujung Bekasi Utara, nyatanya jalan akses menuju lokasi tidak bergelombang apalagi rusak. Lokasi pantai juga berdekatan dengan Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Muara Tawar.

Untuk masuk ke area pantai, penduduk setempat memasang tarif bervariasi Rp 5.000 untuk motor dan Rp 10.000 untuk mobil. Kadang tarif tiket berubah, menyesuaikan banyaknya jumlah pengunjung. Perlu diketahui juga bahwa harga tiket tidak termasuk harga parkir kendaraan.

Di sana juga tidak ada lokasi parkir khusus. Beberapa warga memanfaatkan lahan rumah mereka sebagai pemasukan tambahan dari biaya parkir.

Saat merdeka.com bersama Riyanti, warga Kebalen, Babelan, tiba di lokasi pada Senin pukul 13.30 Wib, tidak ada kegiatan warga. Cukup sepi. Hanya terlihat beberapa warga sedang tidur-tiduran mengipasi dirinya di atas balai kayu, ada pula yang menyiapkan jaring untuk dibawa berlayar menjaring ikan.

Maklum, hari Senin memang bukan waktu lazim untuk berwisata, terlebih lagi dilakukan siang hari ke pantai. Sepinya pengunjung bisa terlihat dari puluhan kapal dengan terpal, bertuliskan di sisinya CSR PT PJB bersandar, tanpa adanya nakhoda.

©2019 Merdeka.com

Sepanjang mata memandang terlihat beberapa patok tambak para warga di lepas pantai, dan jejeran mangrove. Hingga satu bapak menghampiri. "Mau ke Sungai Rindu yah?" tanya bapak bernama Usman itu. Sambil berkaus oblong ia menjelaskan, untuk sampai ke Sungai Rindu harus menggunakan kapal, terlebih dulu pengunjung akan melewati Jembatan Cinta.

Jembatan kayu dengan undakan anak tangga berwarna-warni berdiri kokoh cukup tinggi, kisarnya dua meter. Keberadaannya populer terdengar sebagian warga Kabupaten Bekasi. Harapan orang-orang, hubungan asmara mereka terus langgeng saat melewati jembatan itu. Ataupun, bagi para pengunjung yang belum memiliki pasangan bisa segera dipertemukan jodohnya. Amin.

Usai melewati Jembatan Cinta, satu nakhoda kapal yang sedang bermain ponsel langsung menawarkan kapal lain saat merdeka.com mulai berjalan mendekat. "Mau ke Sungai Rindu kan? naik kapal bapak ini saja," ujar si nakhoda.

Pria paruh baya yang direkomendasikan si nakhoda itu dengan sigap melepas tali-temali yang ia sangkutkan ke kapal lain selama bersandar. Harga jasa kapal terjangkau Rp 15.000 untuk pulang pergi. Deru mesin terdengar keras menggerakan baling kapal berlayar menuju Sungai Rindu. Tidak ada penumpang lain kecuali kami berdua.

"Tidak ada pengunjung hari ini?" tanya merdeka.com.

"Ada. Tapi tidak seramai Jumat, Sabtu, Minggu. Kalau hari biasa (hari kerja) jarang yang datang, paling juga biasanya datang sore," jawab Sunyoto, sang nakhoda, sembari menghisap rokok. Sepanjang perjalanan, kami bercakap-cakap, ia mengatakan semenjak ada wisata alam berupa hutan mangrove, ada pendapatan tabahan ke kantongnya.

Ditambah lagi setelah dibangunnya wisata Sungai Rindu. Dalam satu hari di akhir pekan, ia bisa tiga hingga lima kali bolak-balik ke Sungai Rindu dengan muatan Kapal menampung 20 orang. Panen pundi-pundi rupiah masuk ke kantung Sunyoto.

Tidak lama kapal berlayar, sekitar 15 menit, gapura ucapan selamat datang di Ekowisata Sungai Rindu terlihat. Kapal kemudian menepi di sisi kiri.

Udara di sana sejuk, berkat banyaknya tanaman mangrove yang sudah tumbuh lebat sepanjang Sungai Rindu. Guguran daun, dan tenangnya air menambah suasana di Sungai Rindu. Sungai tapi berada di laut? Ya. Sungai Rindu memang bukan sungai sebenarnya, itu merupakan laut pantai utara. Letaknya juga bukan lagi berada di Desa Samudra Jaya, melainkan di Kampung Sembilangan.

Mumus, selaku ketua karang taruna kampung itu menjelaskan alasan dinamakan Sungai Rindu sebagai gambaran bahwa pengunjung akan meninggalkan rasa rindu usai berwisata ke sana.

"Naik Kapal kayak di sungai aja, lokasinya juga kan adem yah jadi bikin rindu saja deh sepulang dari sini," kata Mumus seraya bergegas pergi menggunakan perahunya, ingin ke tambak.

Sejarah Sungai Rindu diteruskan oleh Napih, ayah dari Mumus. Napih menuturkan, alasan membangun Sungai Rindu karena melihat adanya potensi wisata dari hutan mangrove di sepanjang pantai pesisir utara. Dengan adanya tempat wisata alam seperti itu, secara otomatis akan ada pengunjung yang datang bersamaan dengan menghasilkan pendapatan warga sekitar.

Namun berwisata tanpa duduk-duduk santai tidak akan menarik pengunjung berwisata, hingga tercetuslah oleh para anggota karang taruna mendirikan warung-warung sepanjang beberapa ratus meter sebagai tempat wisata. Warga Kampung Sembilangan setuju dibangunnya Sungai Rindu.

Membangun Sungai Rindu menggunakan uang pribadi Napih sebagai dana talangan warga yang akan membangun warung. Hingga pada 20 September 2018, warung-warung di Sungai Rindu beroperasi. Total ada 10 warung milik warga Kampung Sembilangan, satu di antaranya warung makan milik Napih.

"Nantinya dicicil tiap bulan berapa, Alhamdulillah balik tuh modal bangun ini," kata Napih di sela-sela mengerjakan jembatan baru.

Tidak dipungkiri bapak yang kesehariannya bergelut di tambak bandeng itu mengakui pemasukan dari warung makannya di Sungai Rindu cukup besar. Warung makannya menjual makan besar seperti ikan bandeng bakar, udang saus pedas manis, cumi bakar dan makanan lainnya khas laut.

Warung Napih juga menjual camilan seperti pisang goreng, roti bakar, kopi panas, es teh manis. Semuanya dikerjakan bersama sang istri, dan satu orang yang membantu. Dari menu tersebut, dalam kurun sehari saja ia bisa mendapat untung bersih Rp 2 juta atau lebih dari modal Rp 5 juta. Itu berlaku saat akhir pekan, jika di hari-hari kerja pendapatan bersihnya Rp 1 juta, terkadang hanya Rp 600.000.

Ia bercerita, kebanyakan pengunjung datang saat siang menjelang sore hari secara rombongan. Sering kali yang datang ke sana adalah rombongan guru dan remaja. Mereka saling bercengkerama sembari menikmati kesejukan udara, dan berjalan-jalan di jembatan bambu, mencari objek terbaik untuk berfoto-foto. Rata-rata, pengunjung menghabiskan waktu mereka di sana selama 2 jam.

"Wah penuh banget sejalan ini kalau Sabtu Minggu," kata Napih.

Tidak hanya warung makan saja yang ramai, warung karaoke juga laris manis disinggahi pengunjung. Satu lagu dipatok harga berkisar Rp 5.000.

Selama satu tahun beroperasi, Sungai Rindu dikelola secara mandiri oleh warga. Tidak ada campur tangan pemerintah kabupaten di sana. Warung yang ada juga dimiliki oleh warga Kampung Sembilangan saja. Ini bertujuan agar pemanfaatan ekoturisme seperti ini benar-benar dirasakan oleh warga setempat.

Ia juga mengatakan meski lokasinya berbatasan langsung dengan Desa Samudra Jaya, tidak diperkenankan warganya mendirikan warung di Sungai Rindu. Sebaliknya, Kampung Sembilangan dilarang mengangkut pengunjung. Kedua desa sama-sama menghargai wilayah ekonomi mereka.

"Pernah ada mau tawarin dana untuk mengelola ini, kita enggak mau. Kalau mereka yang mengelola, apa manfaatnya untuk warga? kita mau mandiri. Bantuan dari pemerintah pun kita terima dengan pelaksanaannya kita sendiri. Nanti jembatan bambu ini dipelur, dananya dari Bumbdes enggak tahu kapan. Tapi tetep prosesnya kita yang jalanin sendiri, dananya saja yang dibantu," kata Napih.

Bincang-bincang dengan Napih tak terasa sudah satu jam, kami berdua kembali pulang. Kapal yang disewa masih bersandar. Saat hendak masuk ke kapal, pria yang berjaga di samping kapal memberikan dua tiket bertuliskan Rp 2.000.

"Uang ini untuk tambahan biaya pembangunan sini. Jadi kita saling gotong royong," ujarnya. [rhm]

Topik berita Terkait:
  1. Objek Wisata
  2. Wisata Alam
  3. Bekasi
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini