Sumbar Ajukan Pembangunan Pusat Kebudayaan Ranah Minang Senilai Rp382 Miliar untuk Dorong Ekonomi Kreatif

Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mengajukan proposal pembangunan Pusat Kebudayaan Ranah Minang senilai Rp382,65 miliar, bertujuan menjadi sentra pengembangan seni dan ekonomi kreatif serta pelestarian budaya.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Sumbar Ajukan Pembangunan Pusat Kebudayaan Ranah Minang Senilai Rp382 Miliar untuk Dorong Ekonomi Kreatif
Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mengajukan proposal pembangunan Pusat Kebudayaan Ranah Minang senilai Rp382,65 miliar, bertujuan menjadi sentra pengembangan seni dan ekonomi kreatif serta pelestarian budaya. (AntaraNews)

Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) secara resmi mengajukan proposal pembangunan Pusat Kebudayaan Ranah Minang. Pengajuan ini ditujukan kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Inisiatif ini menandai langkah strategis Sumbar dalam memperkuat sektor kebudayaan dan ekonomi kreatif.

Gubernur Sumbar, Mahyeldi, menyerahkan langsung proposal tersebut kepada Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, di Padang pada hari Sabtu. Proyek ambisius ini diusulkan dengan total anggaran mencapai Rp382,65 miliar. Harapannya, pusat kebudayaan ini dapat segera terealisasi.

Pembangunan kawasan kebudayaan ini dirancang sebagai pusat terpadu. Tujuannya adalah untuk pengembangan seni, tradisi, serta ekonomi kreatif di seluruh wilayah Sumatera Barat. Proyek ini diharapkan menjadi motor penggerak pelestarian budaya Minangkabau.

Memperkuat Infrastruktur dan Pelestarian Budaya

Gubernur Mahyeldi menegaskan bahwa pembangunan Pusat Kebudayaan Ranah Minang ini memiliki misi ganda. Proyek ini bertujuan untuk memperkuat infrastruktur kebudayaan di Sumatera Barat secara signifikan. Selain itu, fasilitas ini akan menyediakan ruang terpadu bagi berbagai aktivitas seni.

Inisiatif ini juga berfokus pada pelestarian tradisi Minangkabau yang kaya dan beragam. Dengan adanya pusat kebudayaan, diharapkan generasi muda dapat lebih mengenal warisan leluhur. Fasilitas yang memadai akan mendukung kegiatan pelestarian.

Mahyeldi mengungkapkan harapannya agar Kementerian Kebudayaan dapat memberikan dukungan penuh. Realisasi pembangunan pusat kebudayaan ini menjadi prioritas utama. Dukungan pusat sangat krusial untuk keberlanjutan proyek ini.

Konsep Tiga Zona Terintegrasi

Kawasan Pusat Kebudayaan Ranah Minang dirancang dengan konsep tiga zona utama yang saling terintegrasi. Setiap zona memiliki fungsi spesifik untuk mendukung ekosistem seni dan budaya. Desain ini memastikan kelengkapan fasilitas.

Zona A akan difokuskan pada pembangunan sarana dasar kawasan. Ini meliputi jalan kawasan, kantor UPTD Taman Budaya, lounge, galeri seni, serta amfiteater terbuka. Amfiteater ini akan menjadi ruang pertunjukan budaya utama.

Zona B dirancang sebagai pusat aktivitas seni dan kreativitas. Zona ini akan dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang. Terdapat kios seni, lapau budaya, musala, ruang workshop seni lukis dan patung, serta studio tari.

Selain itu, Zona B juga akan memiliki aula kegiatan, ruang pelestarian tradisi pasambahan dan makan bajamba, hingga gudang karya seni. Fasilitas lainnya mencakup perpustakaan budaya, laboratorium sastra lisan, studio fotografi, studio film, ruang podcast, ruang multimedia, serta teater utama.

Sementara itu, Zona C akan menyediakan fasilitas pendukung kawasan. Zona ini meliputi teater kecil, kantor Dinas Kebudayaan, area pelayanan hotel, restoran, ballroom, serta kamar hotel. Akomodasi ini penting untuk mendukung penyelenggaraan event budaya berskala besar.

Revitalisasi dan Kolaborasi Strategis

Selain proposal pembangunan pusat kebudayaan, Gubernur Mahyeldi juga mengusulkan revitalisasi eks kantor Pemerintah Gubernur Wilayah. Lokasinya berada di Jalan Setia Budi, Parak Kopi, Kelurahan Kayu Kubu, Kecamatan Guguk Panjang, Kota Bukittinggi. Kawasan ini memiliki nilai sejarah yang penting.

Kawasan bersejarah tersebut berpotensi besar untuk dikembangkan. Tujuannya adalah menjadikannya bagian dari destinasi wisata budaya unggulan di Sumatera Barat. Revitalisasi ini akan menambah daya tarik pariwisata daerah.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyarankan agar pengembangan kawasan kebudayaan melibatkan kolaborasi strategis. Kolaborasi ini dapat dilakukan dengan Hotel Indonesia Natour (HIN). HIN merupakan BUMN pengelola jaringan hotel milik negara.

Fadli Zon menekankan bahwa sinergi dengan HIN akan sangat menguntungkan. Kegiatan seni dan budaya dapat didukung oleh fasilitas akomodasi yang memadai. Ini akan memastikan kenyamanan bagi pengunjung dan peserta acara.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi