Soal bendera HTI, Said Aqil sebut ada upaya provokasi saat Hari Santri di Tasikmalaya

Rabu, 24 Oktober 2018 18:37 Reporter : Hari Ariyanti
Soal bendera HTI, Said Aqil sebut ada upaya provokasi saat Hari Santri di Tasikmalaya PBNU dan Bulog luncurkan Rumah Pangan Santri. ©2018 Merdeka.com/Iqbal S. Nugroho

Merdeka.com - Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siradj mengaku melihat sendiri ada bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di Tasikmalaya, Jawa Barat saat peringatan Hari Santri Nasional beberapa waktu lalu. Tak hanya dia, Said Aqil mengaku Menko Polhukam Wiranto juga melihat bendera yang sama. Demikian disampaikan Said Aqil saat konferensi pers pernyataan sikap PBNU atas pembakaran bendera berkalimat tauhid oleh anggota Banser.

Said Aqil menyampaikan berdasarkan penelusuran tim pencari fakta yang diterjunkan PBNU, pengibaran dan pemasangan bendera HTI di lokasi apel Hari Santri Nasional 2018 terjadi di hampir seluruh wilayah Jawa Barat, seperti Sumedang, Kuningan, Ciamis, Banjar, Bandung dan Tasikmalaya.

"Di Tasikmalaya saya menyaksikan sendiri termasuk Pak Wiranto yang menjadi irup (inspektur upacara) kemarin. Itu artinya ada upaya sistematis untuk melakukan infiltrasi (penyusupan) dan provokasi terhadap pelaksanaan apel Hari Santri Nasional 2018," jelasnya di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Rabu (24/10).

Bendera HTI yang ditemukan di beberapa wilayah tersebut kemudian diserahkan tim pencari fakta ke aparat keamanan sesuai SOP. Anggota Banser di Garut itu menurutnya menjadi korban provokasi dan infiltrasi dengan melakukan pembakaran bendera HTI di luar SOP yang sudah ditentukan.

"PBNU menyayangkan peristiwa pembakaran bendera yang dimaksud. Atas dasar itu PP GP Ansor telah mengambil tindakan yang benar sesuai ketentuan dan mekanisme organisasi. PBNU juga menyampaikan terima kasih kepada PP GP Ansor, Banser dalam hal ini yang tidak terprovokasi dengan melakukan tindakan kekerasan terhadap pengibaran bendera HTI, baik secara verbal maupun fisik dengan mempersekusi misalnya," jelasnya.

Ditemui usai membacakan pernyataan sikap, Said Aqil kembali menerangkan bahwa yang dilihatnya adalah bendera HTI. Dia pun saat itu mengaku heran ada bendera tersebut di tengah acara perayaan Hari Santri Nasional.

"Kita lihat, oh ada bendera itu. Kok ada yang bawa bendera itu. Tapi kita belum sejauh itu mengartikan bahwa itu makar. Saya kira masih euforia saja," jelasnya.

"Ternyata habis kita amati ya begitu kejadian tanggal 22 (Oktober) pembakaran tadi, besoknya sudah terbentang bendera 30 meter lebih ya di Solo. Tulisannya 'Laailahaillallah Muhammadarrasulullah' itu sepanjang 36 meter. Berarti sudah dipersiapkan dong? Langsung ada spanduk 36 meter tulisannya Laailahaillallah," jelasnya.

Said menegaskan, yang dipersoalkan bukan kalimat di atas bendera tersebut. Melainkan ormas terlarang HTI yang telah dibubarkan.

"Sekali lagi bukan lambang tauhidnya, lambang ormas yang sudah dilarang di negeri kita ini. Artinya sikap PBNU, aparat harus tegas," pungkasnya. [cob]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini