SMRC Sebut Demokrasi di Indonesia Menurun Akibat Diskriminasi Terhadap Minoritas

Minggu, 4 Agustus 2019 20:31 Reporter : Ahda Bayhaqi
SMRC Sebut Demokrasi di Indonesia Menurun Akibat Diskriminasi Terhadap Minoritas Saiful Mujani . Merdeka.com/Imam Buhori

Merdeka.com - Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menyebut demokrasi di Indonesia mengalami penurunan dalam tujuh tahun terakhir. Penurunan kinerja demokrasi diakibatkan turunnya pemenuhan kebebasan sipil.

Peneliti utama SMRC, Saiful Mujani, menilai faktor penurunan demokrasi karena kuatnya diskriminasi terhadap minoritas. Apakah itu dalam bentuk kekerasan atau pengusiran terhadap minoritas berbeda agama, dalam satu agama, paham politik, sampai orientasi seksual.

Saiful mengatakan, diskriminasi tersebut terjadi karena tidak ada perlindungan dari negara. "Sejauh ini negara kurang hadir untuk melindungi kelompok minoritas tersebut," ujarnya dalam diskusi bertajuk 'Meredupnya Demokrasi di Indonesia di kawasan Menteng, Jakarta, Minggu (4/8).

Dia menilai kurangnya perlindungan negara terhadap minoritas disebabkan rekrutmen elite politik yang dihambat perbedaan identitas kultural maupun agama atau kedaerahan. Hal itu menghambat lahirnya pemimpin yang lebih kompeten dan memiliki integritas.

Menurut Saiful, hanya mitos belaka kekuatan politik besar lahir dari orang tidak toleran yang melakukan diskriminasi. "Karena dalam kenyataannya tiap pemilu kelompok itu tidak pernah menjadi kekuatan besar," ujarnya.

Solusinya, kata Saiful pemimpin di tingkat nasional maupun daerah harus memiliki komitmen kesetaraan di antara warga negara. Saiful menambahkan, pada 2005-2012 Indonesia, dalam penilaian lembaga internasional, Freedom House disebut telah mencapai indeks kebebasan 'sepenuhnya bebas'.

Hal itu diartikan sebagai kualitas demokrasi di Indonesia adalah yang terbaik di ASEAN dan berada satu grup dengan negara-negara demokratis lainnya di Asia, seperti India, Jepang, dan Korea Selatan.

"Namun sejak 2013 skor indeks kebebasan di Indonesia terus menurun sehingga sekarang dinilai hanya ‘sebagian bebas‘," kata dia.

Saiful membedakan dua dimensi hak dan kebebasan dalam demokrasi yaitu hak sipil (civil rights) dan kebebasan sipil (civil liberty). Untuk hak sipil, kondisi di Indonesia masih dianggap baik, meski masih ada banyak hal yang harus dibenahi. Sedangkan pemenuhan kebebasan sipil di Indonesia menunjukkan penurunan yang serius.

"Pemenuhan hak sipil masih relatif baik karena saat ini di Indonesia, hak-hak politik untuk berpartisipasi dalam politik masih terjamin, misalnya kebebasan untuk ikut dalam pemilu, kebebasan memperebutkan jabatan publik strategis, dan lain sebagainya," ucapnya.

Di sisi lain, yang menyebabkan kinerja demokrasi di Indonesia dianggap terus menurun adalah yang terkait dengan dimensi kebebasan sipil, termasuk dalam.

Penurunan kinerja demokrasi itu dilihat dari hasil penilaian lembaga Freedom House. Tren kebebasan Indonesia mengalami penurunan pada 2013. Padahal pada 2005-2012 Indonesia mencapai indeks kebebasan sepenuhnya bebas.

Dari skor 2 alias bebas, menjadi angka 3 atau setengah bebas karena permasalahan kebebasan sipil yang menurun. Kebebasan sipil itu meliputi kebebasan berbicara, kebebasan akademik, kebebasan berorganisasi serta kebebasan menjalankan dan menyatakan keyakinan agama atau bahkan tidak percaya pada agama secara terbuka.

"Masih banyak warga yang mengalami diskriminasi, tidak diterima oleh warga yang lain dengan paksa dan kekerasan dan negara tak melindungi hak-hak mereka sebagai warga negara," pungkas Saiful. [ray]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini