Total jumlah korban tewas akibat tabrakan tersebut sebanyak empat orang.
Polisi masih melakukan evakuasi satu korban meninggal dunia terkait tabrakan kereta KA Turangga jurusan Surabaya-Gubeng-Bandung dengan KA lokal Padalarang-Cicalengka.
Tabrakan di di jalur petak Stasiun Cicalengka Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat terjadi sekitar pukul 06.30 WIB.
"1 korban meninggal dunia masih belum bisa dievakuasi. Karena terkendala posisi korban yang tertutup oleh material gerbong, sehingga saat ini masih berlangsung upaya evakuasi terhadap korban meninggal di TKP," kata Kabid Humas Polda Jawa Barat, Kombes Ibrahim Tompo dalam keterangannya, Jumat (5/1).
Advertisement
Ibrahim menjelaskan, cara petugas melakukan evakuasi korban adalah dengan cara menarik gerbong dari belakang. "Dengan menarik gerbong dari belakang sebagai upaya merenggangkan," jelasnya.
Total jumlah korban tewas akibat tabrakan tersebut sebanyak empat orang. Korban luka berat sebanyak dua orang dalam kecelakaan ini. Sedangkan, korban luka-luka lainnya sebanyak 42 orang.
"Korban luka-luka 42 orang dievakuasi ke RSUD Cicalengka, AMC, Edelweis, Sentosa , PKM (Puskesmas)," papar Ibrahim.
"Korban luka sebagian sudah kembali dan yang masih di RS sebanyak 10, RSUD 6, AMC 2, Edelweis 2," pungkasnya.
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) juga mulai menginvestigasi kecelakaan kereta api di Cicalengka. Di sisi lain, proses evakuasi bangkai kereta dan gerbong yang anjlok menggunakan crane dari Solo, Cirebon dan Kota Bandung.
Advertisement
Direktur Utama PT KAI Didiek Hartantyo mengatakan kereta yang menyilang di rel akan diangkat. Sedangkan gerbong yang tidak terdampak sudah mulai dibawa dari lokasi kejadian.
"Kita sekarang melakukan pengangkatan kereta baik itu kereta dari Turangga maupun KRD, semoga dalam waktu yang mungkin nanti kita akan sampaikan ya," kata dia.
"Ini akan memakan waktu karena cukup banyak kereta yang anjlok, namun kita masih upayakan secepatnya dengan mendatangkan crane baik dari Bandung maupun dari solo dan juga dari Cirebon,"
jelas dia lagi.
Advertisement
merdeka.com
Satu crane dari solo masih perjalanan. Dalam proses evakuasi, pihaknya menggunakan dua crane 120 ton, masing-masing dari Bandung dan Solo.
Proses investigasi mengenai dugaan kelalaian atau kesalahan sistem akan dilakukan oleh KNKT. Meski demikian, ia enggan memberikan keterangan lebih lanjut mengenai dugaan kecelakaan tersebut.
"Kita sedang melakukan investigasi, ini pak dirjen datang kesini, pak ketua KNKT dijadwalkan juga hadir dan timnya sudah datang, jadi tim dari PJKA dan tim dari kami dan tim dari Basarnas dan KNKT sudah bekerja untuk nanti kita akan melihat secara detil data yang bisa kita kumpulkan untuk mengevaluasi kejadian ini," ucap dia.
"Kita jangan berasumsi, kita cek dulu bersama karena kewenangan kami mengoperasikan, pak dirjen sebagai regulator yang memantapkan regulasinya dan KNKT yang akan menginvestigasi," terang dia lagi.
Advertisement
Disinggung mengenai layanan kereta jarak jauh, Didiek mengakui akan ada keterlambatan. Namun, semua sedang dalam proses penyesuaian.
"kita akan evaluasi lagi ya, karena ini kan crane (sebagian) sudah datang, moga-moga nanti bisa kita selesaikan secepatnya," jelas dia.
Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Mohammad Risal Wasal menambahkan semua penyebab dan kemungkinan kecelakaan kereta api akan diteliti.
"kita sepakat tadi KNKT yang akan investigasi. Nanti kita akan cek semuanya," ucap dia.