Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Siswa MTs di Malang Ciptakan Beras Buatan dari Ganyong dan Bayam

Siswa MTs di Malang Ciptakan Beras Buatan dari Ganyong dan Bayam Beras Dari Ganyong dan Bayam Inovasi Siswa MTs di Malang. ©2019 Merdeka.com/Darmadi Sasongko

Merdeka.com - Dania Wijayanti dan Rizqina Faizana, Siswi Madarasah Tsanawiyah (MTs) Negeri 1 Kota Malang membuat inovasi beras buatan yang diberi nama Logan Rice (Low Glycemic and High Nutrition Analog Rice). Inovasi beras analog tersebut terbuat dari tanaman umbi ganyong, singkong dan bayam.

"Rasanya tidak beda jauh dari beras biasa, bisa dikonsumsi langsung tanpa lauk atau bisa dijadikan nasi goreng. Dimakan dengan susu seperti sereals juga enak," kata Dania Wijayanti dalam Anugerah Inovasi Teknologi (Inotek) 2019 di Hotel Savana Kota Malang, Kamis (29/8).

Kata Dania, inovasi tersebut berawal dari kegelisahan tentang kosumsi beras penduduk Indonesia yang dinilai sudah tinggi. Kondisi tersebut dianggap berbahaya bagi ketahanan pangan nasional. Karya itu menjadi alternatif bagi penyediaan bahan pangan non beras, dengan bersumber dari alam Indonesia yang belum termanfaatkan.

Secara bentuk, Logan Rice mirip dengan beras, memiliki nutrisi tinggi dan lebih sehat. Proteinnya lebih tinggi dari beras biasa dan memiliki serat yang tinggi. Seratnya itu berbanding terbalik dengan kadar glycemicnya. Sehingga glycemic yang rendah, sangat cocok bagi penderita diabetes.

"Cocok banget untuk penderita diabetes, karena rendah glycemic dan cocok untuk orang yang lagi diet," kata Rizqina.

Proses pembuatannya sendiri cukup mudah dan tidak membutuhkan waktu lama. Bahan-bahan pun bisa didapatkan di pasaran dengan cukup mudah.

"Pertama tepung ganyong dan bahan lainnya dicambur dan diuleni. Kemudian dicetak seperti buliran beras, sebelum kemudian dioven selama 1 jam 50 menit dengan suhu 100 derajat celsius," katanya.

Setelah diperoleh bentuk menyerupai beras, tinggal dimasak seperti menanak nasi dengan rice cooker seperti biasa. Hanya saja waktu menanaknya lebih cepat dari nasi biasa.

"Ini lebih cepat, kalau beras biasa satu cup 15 menit, ini 8-10 menit," tegasnya.

Kata Nadia, bahan-bahan yang dibutuhkan dapat diperoleh dengan mudah di pasaran dalam bentuk tepung ganyong. Sehingga masyarakat bisa memproduksi sendiri untuk dengan diet dengan lebih murah.

"Harga untuk skala laboratorium sekitar Rp35.000 per kilogram, kalau industri bisa lebih murah lagi," tegasnya.

Inovasi Dania dan Rizqina tersebut berhasil menyabet Juara I Kategori Inovasi Teknologi Bidang Agrobisnis dalam lomba Inovasi Teknologi (Inotek) 2019 Kota Malang. Keduanya berhak atas hadiah Rp9 juta dan piagam penghargaan.

(mdk/gil)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP