Sineas Benni Setiawan Ungkap Rahasia: Peningkatan Layar Cerminan Kualitas Film Indonesia yang Mampu Saingi Hollywood?

Sutradara Benni Setiawan menilai peningkatan jumlah layar bioskop untuk film lokal adalah bukti nyata Kualitas Film Indonesia yang kian membaik, bahkan berpotensi saingi Hollywood.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Sineas Benni Setiawan Ungkap Rahasia: Peningkatan Layar Cerminan Kualitas Film Indonesia yang Mampu Saingi Hollywood?
Sutradara Benni Setiawan menilai peningkatan jumlah layar bioskop untuk film lokal adalah bukti nyata Kualitas Film Indonesia yang kian membaik, bahkan berpotensi saingi Hollywood. (Merdeka.com)

Sutradara dan penulis skenario ternama, Benni Setiawan, baru-baru ini menyoroti perkembangan positif dalam industri perfilman nasional. Ia menyatakan bahwa peningkatan jumlah layar bioskop yang dialokasikan untuk film-film Indonesia merupakan indikasi jelas dari kualitas produksi lokal yang semakin membaik. Pernyataan ini disampaikan Benni di Jakarta pada Rabu (17/9) malam, saat menghadiri acara gala perdana film terbarunya yang berjudul "Dilanjutkan Salah, Disudahi Perih".

Menurut Benni, jaringan bioskop besar seperti 21 Cineplex kini menunjukkan kepercayaan lebih terhadap karya sineas Tanah Air. Kepercayaan ini terwujud dalam penambahan alokasi layar, bahkan beberapa film lokal berpotensi mengungguli film-film Hollywood. Fenomena ini menjadi bukti bahwa Kualitas Film Indonesia telah mencapai standar yang lebih tinggi, menarik minat penonton dan distributor.

Peningkatan alokasi layar ini diharapkan dapat menjangkau audiens yang lebih luas di seluruh Indonesia. Benni Setiawan menekankan pentingnya bagi para sineas untuk terus menjaga kepercayaan ini. Caranya adalah dengan konsisten menghasilkan karya-karya bermutu tinggi yang mampu bersaing di kancah nasional maupun internasional.

Kepercayaan Bioskop dan Tantangan Sineas

Benni Setiawan membandingkan kondisi saat ini dengan periode 2010-2014, di mana alokasi layar untuk film domestik jauh lebih terbatas. Kini, ia melihat adanya keseimbangan dan keadilan yang lebih baik dalam distribusi layar, meskipun harapan untuk penambahan layar lebih banyak tetap ada. "Kualitas film-film dari rekan-rekan sineas kita saat ini telah mendapatkan kepercayaan dari 21 untuk menambah jumlah layar," ujar Benni.

Kepercayaan dari jaringan bioskop ini merupakan angin segar bagi industri. Hal ini menunjukkan bahwa Kualitas Film Indonesia semakin diakui, tidak hanya oleh penonton tetapi juga oleh pihak distributor. Beberapa film bahkan disebut Benni berpotensi besar untuk bersaing ketat dengan produksi Hollywood, seperti contohnya film 'Sore: Istri dari Masa Depan'.

Namun, di balik optimisme ini, Benni juga menyoroti tantangan yang masih dihadapi para sineas. Salah satu kendala utama adalah kesulitan mendapatkan izin lokasi syuting, terutama untuk fasilitas yang dimiliki oleh pemerintah. Proses perizinan yang rumit seringkali menghambat kelancaran produksi film, menambah beban kerja dan biaya.

Meskipun demikian, Benni Setiawan menegaskan bahwa kepercayaan yang telah diberikan oleh bioskop harus dijaga. Ini berarti sineas harus terus berinovasi dan meningkatkan standar produksi. Dengan begitu, Kualitas Film Indonesia dapat terus berkembang dan mendapatkan tempat yang lebih layak di hati masyarakat.

Potensi Pasar dan Harapan Dukungan Pemerintah

Meskipun jumlah penonton film Indonesia terus meningkat, Benni Setiawan menilai capaian ini masih belum optimal jika dibandingkan dengan potensi pasar yang sangat besar. Dengan populasi lebih dari 281 juta jiwa, angka 10 juta penonton masih tergolong kecil. Potensi pasar yang luas ini seharusnya dapat dimanfaatkan lebih maksimal untuk pertumbuhan industri film.

Benni berharap adanya dukungan yang lebih besar dari pemerintah, mencontoh pendekatan negara seperti Korea Selatan. Di Korea Selatan, film diperlakukan sebagai produk budaya nasional yang mendapatkan perhatian dan dukungan penuh dari pemerintah. Dukungan semacam ini sangat krusial untuk mendorong Kualitas Film Indonesia agar semakin maju dan berdaya saing.

Dukungan pemerintah tidak hanya sebatas pada kemudahan perizinan, tetapi juga dalam bentuk kebijakan yang pro-industri. Misalnya, insentif pajak atau bantuan dana untuk produksi film berkualitas. Dengan adanya dukungan yang komprehensif, industri film nasional dapat berkembang lebih pesat dan mencapai audiens yang lebih luas.

Optimalisasi potensi pasar dan dukungan pemerintah akan sangat membantu dalam meningkatkan jumlah penonton. Hal ini juga akan mendorong para sineas untuk terus berkarya tanpa terbebani hambatan birokrasi. Kualitas Film Indonesia akan semakin dikenal dan dicintai oleh masyarakatnya sendiri.

Strategi Pengembangan Industri Film Nasional

Untuk mendorong pertumbuhan industri film nasional, Benni Setiawan juga menganjurkan langkah-langkah strategis, salah satunya adalah menjalin kerja sama produksi bersama (co-production) dengan pihak luar. Perluasan jejaring untuk koproduksi internasional sangat diperlukan untuk memperkaya perspektif dan standar produksi film lokal. Ini adalah langkah penting untuk meningkatkan Kualitas Film Indonesia secara global.

Kerja sama internasional tidak hanya membuka peluang pendanaan baru, tetapi juga memungkinkan transfer pengetahuan dan teknologi. Sineas Indonesia dapat belajar dari praktik terbaik di negara lain, sementara sineas asing dapat menemukan cerita dan budaya unik yang ditawarkan Indonesia. Kolaborasi semacam ini dapat mengangkat standar produksi dan distribusi film.

Selain itu, Benni juga menyoroti pentingnya menjaga kepercayaan yang telah diberikan oleh bioskop dan penonton. Dengan terus menghasilkan karya yang bermutu tinggi, film-film Indonesia akan semakin mendapatkan tempat di hati masyarakat. Ini adalah kunci untuk membangun industri film yang berkelanjutan dan mandiri.

Pemerintah, sineas, dan seluruh pemangku kepentingan harus bersinergi untuk mencapai tujuan ini. Dengan dukungan yang tepat dan strategi yang terarah, Kualitas Film Indonesia memiliki potensi besar untuk tidak hanya berjaya di kancah domestik, tetapi juga di panggung internasional. Industri film nasional adalah aset budaya yang harus terus dikembangkan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi