Simping, si gurih dan renyah khas Purwakarta

Jumat, 5 Februari 2016 16:17 Reporter : Bram Salam
Simping, si gurih dan renyah khas Purwakarta Kue Simping. ©2016 merdeka.com/bram salam

Merdeka.com - Saat berkunjung ke Purwakarta, Jawa Barat, tak lengkap rasanya jika tidak menjadikan simping sebagai buah tangan, karena camilan yang satu ini merupakan kudap khas dan kebanggan dari daerah itu.

Simping merupakan kudap yang terbuat dari tepung tapioka, terigu ditambah bumbu penyedap serta aneka rasa dari rempah dan buah buahan. Bentuknya berupa lembaran pipih, bundar tipis.

Simping memiliki rasa yang gurih, nikmat dan kelezatan tiada tara bagi para penikmatnya. Terlebih kini ada varian rasa simping dibuat. Mulai dari rasa kencur, bawang, pandan, nanas, durian, dan stroberi hingga nangka. Harga perbungkus dibanderol Rp 8.000 dan Rp 11.000 untuk simping jenis wanayasa.

Kue Simping 2016 merdeka.com/bram salam



Simping juga merupakan makanan yang bebas kolesterol, karena proses pembuatannya tidak menggunakan minyak, melainkan dengan cara dipanggang sehingga aman dikonsumsi.

Simping sangat mudah di jumpai di Purwakarta, terutama ketika memasuki daerah yang menjadi sentra pembuatan dan penjualan yaitu Kampung Kaum, Jalan Baing Marzuki, Kelurahan Cipaisan, Kecamatan Purwakarta Kota. Atau berjarak beberapa ratus meter saja dari alun-alun Kota Purwakarta.

Salah satu produksi simping yang terbilang populer adalah Simping Kaum Sartika. Usaha milik Yulia Rahmawardani (33).

Dikatakan Yulia, usahanya itu sebagai warisan karena selama hampir 35 tahun sebelumnya dijalankan ibu mertuanya.

"Kalau usaha simping ini adalah warisan dari ibu mertua saya, untuk kemudian oleh kami keluarga dikelola hingga saat ini," kata Yulia.

Simping selalu dijadikan sebagai oleh-oleh baik warga Purwakarta yang berangkat ke luar daerah, atau ke luar negeri. ada juga dari masyarakat luar yang datang ke Purwakarta.

"Kalau simping saya ini Allhamdulillah sudah dikenal di hampir seluruh Indonesia, bahkan sampai luar negeri mulai dari Asia hingga Eropa," ujar Yulia.

Kue Simping 2016 merdeka.com/bram salam



Selain dijual di kios miliknya, simping produksi Yulia, juga dipasarkan disejumlah outlet di Purwakarta. Sehingga kini usahanya dirasa semakin berkembang hingga bisa meraih omset cukup besar dalam setiap bulannya.

"Rinciannya perhari saya bisa mendapat satu koma tiga juta, dan kalau ditotal omset perbulan bisa sampai empat puluh juta Rupiah," terang Yulia.

Simping sendiri dalam sejarahnya sudah ada sejak zaman dahulu kala, dan merupakan kudapan para bangsawan masa kerajaan, dari kerajaan Sunda. Untuk kemudian dikembangkan oleh salah seorang pembuatnya yang berdomisili di Kampung Kaum.

"Dulunya orang disini mendapat resep untuk membuat simping yaitu dari Almarhum Haji Engkun, yang notabene orang pertama dari keluarga ningrat yang mengembangkan usaha Simping ini," ungkap Yulia.

Namun di tengah nama simping yang kini banyak dikenal di berbagai daerah sebagai makanan khas Purwakarta. Justru usaha simping semakin sulit untuk dipertahankan. Itu terjadi tak lepas dari mahalnya harga bahan baku seperti tepung tapioka yang semula hanya Rp 70.000 per lima puluh kilogram, kini sudah di atas Rp 400.000. belum lagi bahan lain seperti rempah dan buah-buahan karena perasa dalam simping menggunakan bahan alami tanpa perasa buatan.

"Di sini sekarang kira-kira adalah tiga ratus perajin dan penjual mah, soalnya banyak yang tutup juga tidak sanggup bertahan," imbuh Yulia.

Yulia berharap dengan dibantu dua orang pekerjanya, bisa menjadikan simping sebagai makanan tradisional yang go internasional. [cob]

Topik berita Terkait:
  1. Jalan Jajan
  2. Seputar Kuliner
  3. Purwakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini