Seruan Perdamaian untuk Masyarakat Papua

Minggu, 25 Agustus 2019 23:54 Reporter : Muhamad Agil Aliansyah
Seruan Perdamaian untuk Masyarakat Papua Mahasiswa Papua di Makassar serukan persatuan. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Demonstrasi yang terjadi di sejumlah daerah di Papua dan Papua Barat dinilai dapat memicu perpecahan, ketidakpercayaan terhadap pemerintah dan konflik sosial. Ujungnya dapat memecah belah persatuan bangsa.

Untuk itu seruan perdamaian bagi Papua kian gencar digaungkan. Mulai dari Ketua Umum Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu'ti hingga Sekretaris Umum PGI Pendeta Gomar Gulto.

Mereka berpendapat sama yakni kekerasan, diskriminasi, bukan jati diri asli bangsa Indonesia. Semuanya, sekadar buntut dari kesemrawutan informasi yang kian menantang dalam kehidupan berbangsa yang dimanfaatkan pihak ketiga.

Penyelesaiannya juga tidak sebatas langkah hukum, pendekatan kultural dari segenap lapisan masyarakat, terutama masyarakat di luar Papua. Hanya dengan demikian masyarakat Papua dapat merasakan bahwa mereka adalah bagian integral dari masyarakat dan bangsa Indonesia.

Tak hanya tokoh dan pemuka agama, di linimasa, lebih dari 160 ribu cuitan memuat pesan cinta damai menyemburat di media sosial Twitter. Kebanyakan warganet mendorong agar segala persoalan bisa disudahi melalui semangat perdamaian dan persatuan.

"Semoga Indonesia bisa kembali damai. Mari kawan-kawan kita doakan supaya Papua kembali damai #PapuaUntukNKRI," tulis salah seorang netizen, dikutip, Minggu (25/8).

"Kita semua bersaudara, setop rasis warna kulit #Papua," cuit yang lain.

"Dan Tolong bantu saya dgn me-retweet pesan ini dan memviralkan tagar #Damai_Papua," demikian akun netizen lainnya.

Selain seruan via cuitan teks, aneka video bernuansa cinta Tanah Air juga bermunculan. Salah satunya, video menarik yang diunggah akun @sittizaadia.

Di sana tampak seorang warga Fakfak, Papua Barat membawa bendera merah putih. Pria itu juga berada di tengah jalan dan berteriak menyatakan tekad dan keberaniannya membela Tanah Air.

"Merah putih saya akan berkorban! Saya tidak takut!" tegasnya. "Saya tidak takut mati demi merah putih!" teriaknya lagi.

Meski tak diterakan konteks lengkap pada unggahan video tersebut, paling tidak, kehadirannya bisa menjadi simbol perlawanan terhadap isu-isu yang dinilai bisa mengancam keutuhan NKRI.

Melalui ragam ungkapan cinta Tanah Air, masyarakat Papua menunjukkan jiwa yang tak gampang diadu domba. Semuanya berujung pada semangat perdamaian. Kegigihan melawan hoaks adalah bagian di dalamnya.

Hoaks Mengusik Perdamaian

Ketua Ikatan Keluarga Besar Papua Surabaya (IKBPS) Peter Frans Rumaseb menilai untuk yang kesekian kalinya berita hoaks, telah mengusik perdamaian kehidupan berbangsa.

Ia juga kaget demonstrasi di sejumlah wilayah di Papua dan Papua Barat dilatarbelakangi isu diskriminasi mahasiswa Papua di timur Pulau Jawa menjadi yang merupakan informasi sumir.

"Kami berharap mama dong semua di Papua, papa dong semua di Papua, saudara-saudara kita di Papua, bahwa kita di Surabaya aman. Anak-anak kuliah di sini aman, tidak ada masalah. Tidak usah khawatir, tidak perlu khawatir yang berlebihan. Jangan cepat terprovokasi dengan informasi yang muncul di media sosial," ujar Peter dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (24/8). [gil]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini