Semburan Awan Panas Merapi Disebabkan Gas yang Terakumulasi

Sabtu, 9 November 2019 22:32 Reporter : Ya'cob Billiocta
Semburan Awan Panas Merapi Disebabkan Gas yang Terakumulasi Gunung Merapi berstatus waspada. ©Liputan6.com/Gholib

Merdeka.com - Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Hanik Humaida menyatakan fenomena awan panas letusan Gunung Merapi dipicu tekanan akumulasi gas vulkanik dari dalam gunung. Hal ini sama dengan letusan yang terjadi pada 14 Oktober 2019.

"Masih sama penyebabnya, adanya akumulasi gas," kata Hanik, Sabtu (9/11). Dikutip dari Antara.

Meski demikian, menurut Hanik, tekanan akumulasi gas yang memicu semburan awan panas setinggi 1.500 meter lebih rendah dibandingkan sebelumnya. Pada 14 Oktober, awan panas letusan Merapi memiliki tinggi kolom 3.000 meter.

Sebelumnya, Hanik menjelaskan bahwa tekanan akumulasi gas muncul seiring berlangsungnya suplai magma Gunung Merapi yang diproduksi secara terus terusan. Gas yang terakumulasi di bawah kubah lava dan terlepas secara tiba-tiba, mendobrak kubah lava sehingga runtuh menjadi awan panas.

Diketahui, usai kejadian tanggal 14 Oktober, volume kubah lava susut hingga 397 meter kubik dari 483 meter kubik. Artinya, berkurang hingga 90 meter kubik.

Terkait adanya perubahan morfologi maupun deformasi akibat awan panas letusan pada Sabtu (9/11) pagi, belum bisa dipastikan. Termasuk perubahan volume kubah lava usai terjadinya awan panas letusan.

Menurut Hanik, proses pendataan pascaawan panas letusan masih dilakukan oleh BPPTKG.

"Kalau baru meletus begini, kita tidak bisa secara eksak memberi info. Yang jelas itu letusan kecil yang kemungkinan tidak berpengaruh terhadap volume," kata dia.

Sebelumnya, BPPTKG menyebutkan Gunung Merapi mengeluarkan awan panas dengan tinggi kolom 1.500 meter pada Sabtu (9/11) pagi. Awan panas letusan yang terekam di seismogram pada pukul 06.21 WIB itu memiliki durasi 160 detik dengan amplitudo 65 mm. [cob]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini