Sekolah akan datangkan psikolog bimbing siswi yang ngaku diculik
Merdeka.com - PIS, siswi kelas IV SD di Tanjung Duren sempat mengaku menjadi korban penculikan di depan sekolahnya hingga akhirnya berhasil kabur, beberapa waktu lalu. Namun, polisi menutup kasus tersebut karena tak ada peristiwa penculikan usai menyaksikan CCTV di kawasan sekolah tersebut.
"Tuh, tuh dari CCTV enggak ada anak yang disekap, ada emang kakek-kakek yang tadi. Itu yang dia cerita itu ternyata enggak ada digigit disekap. Setelah saya tahu ini (menunjuk hasil CCTV) saya coba ngomong sama dia (PIS). Kamu sayang enggak sama bapak? Saya bilang sama dia, kalau saya nanti bisa dipenjara. Setelah saya tanya segala macam dengan baik, akhirnya dia meluk saya, sudah selesai akhirnya ngaku dia cuma melebih-lebihkan saja," ujar Mulyadi, kepala sekolah PIS di ruangannya, Jumat (15/9).
Saat ditanya mengenai siapa orang yang merekam video yang sempat menjadi viral tersebut, Mulyadi mengaku yang merekam merupakan seorang peneliti.
"Yang videoin itu siapa kan namanya orang ramai, tapi saya sudah kasih tahu polisi mungkin lagi diselidiki kali ya karena menyangkut orang banyak jadi agak susah. Awalnya dia tergerak sebagai seorang peneliti tapi sudah di BAP sama polisi," tuturnya.
Mulyadi mengaku sudah lelah menanggapi pemberitaan tentang kasus yang sudah ditutup ini. Ia khawatir jika nantinya PIS malu dan mengakibatkan mentalnya akan terganggu.
"Saat ini ya ingin menciptakan suasana kondusif seolah-olah enggak ada apa-apa. Terus takutnya PIS malu dan berpengaruh sama mentalnya. Kasihan anaknya capek habis di-BAP sampai malem, saya juga di-BAP," ucap Mulyadi.
Ditanya mengenai keseharian PIS di sekolah, Mulyadi menuturkan bahwa PIS anak yang ceria, tidak ada sesuatu yang menonjol apapun dan terbilang biasa-biasa saja di sekolah.
"Kalo ketemu saya juga suka saya panggil pitik karna kan orangnya kecil. Anaknya juga ceria aja maksudnya ya kalo ketemu saya dia suka meluk.Anaknya di sekolah biasa-biasa aja ga ada sesuatu yg menonjol," tuturnya.
Namun saat ditanya mengenai kedua orangtua PIS, Mulyadi baru mengetahui keadaan orangtuanya saat setelah kejadian ini terjadi.
"Kalau saya memang baru tahu kondisi keluarganya setelah kejadian ini. Jadi orangtuanya sudah berpisah, sekarang dia tinggal sama uwanya," Kata Mulyadi.
Pihak sekolah dan juga Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) akan segera memanggil psikolog untuk memulihkan kondisi metal PIS agar dapat kembali seperti biasanya dan mencoba menghilangkan sugesti buruk yang tertempel dalam pikirannya.
"Kalau saya mungkin masih bisa, tapi kan anak-anak beda ya. Makanya kita lagi berupaya memulihkan. Memang ini menyimpang dari kejadian, tapi kita ambil sisi positifnya bagi anak mungkin sebagai antisipasi penculikan. Kita berupaya menghilangkan sugesti dikepalanya yang diculik,diculik," terang Mulyono. (mdk/ded)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya