Sejarah pelukis Sokaraja yang mulai dimakan zaman
Merdeka.com - Di atas tumpukan-tumpukan baju di dinding ruang belakang yang memanjang berbentuk lorong, dia menggantung beberapa lukisan. Satu di antaranya lukisan berjudul 'Panorama Kota Lama Sokaraja' (oil on canvas, 75 x 90 cm) yang dia buat tahun 2005.
Lukisan itu bersuasana sepi didominasi warna kecoklatan. Mengekspresikan kegundahan perasaan tentang situasi seni rupa di Sokaraja yang dianggapnya mengalami stagnasi.
Namanya Hadiwijaya. Usianya 63 tahun. Ia pelukis dan mantan guru seni budaya di sejumlah sekolah menengah atas di Kabupaten Banyumas.
Riwayat hidup Hadiwijaya, memang pernah dekat dengan geliat seni rupa di Sokaraja. Di masa remaja, ia kerap mendatangi galeri-galeri di pinggiran Jalan Raya Sokajara untuk memandangi berbagai lukisan serta mengobrol dengan para pelukis. Pekerjaan sebagai guru seni budaya juga pertama kali ia jalani di SMA Negeri Sokaraja pada tahun 1982 sampai 1984.

Hadiwijaya mulai bercerita, lukisan Sokaraja memang tersohor khas pemandangan alam. Tapi sejauh pengamatannya tak berkembang bahkan cenderung mekanis. "Jiwa para pelukisnya hilang. Prinsip berkarya sing penting payu (laku dijual), ngasil (mendapat uang)," kata Hadiwijaya saat ditemui merdeka.com di kediamannya.
Lukisan Sokaraja, sebenarnya punya sejarah lebih panjang ketimbang sejarah republik Indonesia. Inspirasi kreativitasnya terkait kedatangan sejumlah pelukis-pelukis dari Belanda di awal tahun 1930-an ke sejumlah daerah di Nusantara.
Di wilayah Jawa Tengah, pelukis-pelukis itu mendatangi perbukitan Gunung Slamet di Banyumas, juga melukis di Wonosobo, Magelang dan Salatiga. Mereka melukis pemandangan dan keseharian masyarakat atas permintaan Kerajaan Belanda.
Uniknya, lanjut Hadi, cikal bakal pelukis Sokaraja tak bersentuhan langsung dengan para pelukis asing tersebut. Tapi lukisan yang mengandung satu arti, Moii-Indie, justru didapati pengetahuannya oleh pelukis Sokaraja di kota Bandung. Ketika itu, banyak warga Sokaraja yang bekerja di pabrik-pabrik Roti di Bandung lantas mendapati gairah seni rupa di jalanan dan tertarik mempelajari.
"Beberapa di antara mereka lantas belajar segi teknik melukis. Salah satu yang paling berbakat Ismail. Dia lantas pulang mengembangkan seni lukis di Sokaraja, berawal dari dia lalu muncul Gesang Arobbi, Ahmad Sarbini Biis dan lainnya," ujar Hadiwijaya.

Mengembangkan lukisan pemandangan secara otodidak, para pelukis pemandangan di Sokaraja memiliki gaya berbeda dengan Moii-Indie karya pelukis Belanda. Lukisan Sokaraja hanya mengenal dua bidang, gunung di kolong langit dan hamparan sawah. Sedang gaya Belanda tiga bidang, yakni paling jauh gunung, lantas sawah dan ditambah gundukan bukit pada bidang paling bawah.
Kecenderungan lukisan Sokaraja yang lebih sederhana tak lepas dari lingkungan geografis tempat para pelukis Sokaraja tinggal yakni di wilayah datar. Keunikan yang lain, mereka punya gaya pemasaran yang kompleks.
Mengenal sistem ngider, ada penjual berjualan keliling lukisan diangkut dalam gerobak dari satu kampung ke kampung lain di wilayah Purbalingga, Banyumas sampai Cilacap. Selain itu, para pelukis membuka kios-kios atau galeri di pinggiran jalan utama Sokaraja.
Sayangnya, semakin tumbuh berkembang, para pelukis Sokaraja, pada akhirnya terjebak lebih mengejar kuantitas dibanding kualitas. Mereka dianggap termakan pasar saat mulai mengenal pemborong. Ada satu masa, para pelukis Sokaraja asyik melukis repro karya para maestro. Lukisan paling digemari 'Kebakaran Hutan' karya Raden Saleh dan 'Pertarungan Hidup' karya Basoeki Abdullah yang disebut warga Sokaraja sebagai lukisan Alas Obong.
"Mereka punya talenta kuat tapi tak menempa diri. Ketika selera pembeli berubah ke lukisan kontemporer, pelukis Sokaraja lamban merespon. Terlalu sibuk dengan bisnis," kata Hadiwijaya.
Kritik Hadiwijaya ini, memang bukan hal baru terkait masa maraknya lukisan-lukisan pemandangan (landschappen). S Sudjono, juru bicara Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi) dalam bukunya Seni Lukis, Kesenian dan Seniman (1946) pernah menyinggung pelukis-pelukis pemandangan hanya mencari uang belaka dan tak memiliki kekuatan sendiri yang cukup untuk mencipta.
Iklim kesenian tak sehat
Salah satu kolektor lukisan di perkotaan Purwokerto Kabupaten Banyumas, Handoyo punya sudut pandang lain. Menurutnya tak berkembangnya para pelukis Sokaraja disebabkan iklim kesenian di Banyumas yang kurang sehat. Pengamatannya, para pelukis yang ada di Banyumas asyik dengan kelompok-kelompok masing-masing.
"Pelukis yang tua, merasa mapan, meninggalkan yang muda. Tidak terjadi transfer pengetahuan. Para pelukis Sokaraja yang otodidak mentok capaian artistiknya karena tidak dirangkul," ujarnya saat ditemui merdeka.com.
Sepanjang yang diketahui Handoyo, di Sokaraja sebenarnya muncul golongan muda salah satunya Alex Andiwijaya. Menurutnya Alex, mengembangkan teknik pisau pallet, membedakan diri dengan lazimnya para pelukis Sokaraja yang menggunakan kuas semata. Cat yang timbul dan menyeruak di lukisan Alex jadi kekuatan tersendiri tapi memang corak warna belum terlalu berani.
Lukisan pemandangan Sokaraja, juga menginspirasi para pelukis dari luar Sokaraja. Handoyo menyebut nama Setyo Kusmanto dari Sumbang, Banyumas dan Pardoli dari Cilacap. Di tangan dua pelukis ini, lukisan pemandangan ia katakan mendapat sentuhan berbeda terutama dalam corak warna.
"Kesamaan yang muncul tetap sama, kiblat pemandangannnya Gunung Slamet," ujar Handoyo yang banyak mengoleksi lukisan kaca Toto Sunu ini.
Lukisan pemandangan Sokaraja, dijelaskan Handoyo, identik dengan makna-makna kehidupan tentang harapan-harapan manusia. Gunung punya makna pencapaian terhadap cita-cita. Sedang sungai menjadi harapan rezeki yang mengalir tidak putus-putus. Biasanya juga ada rumpun bambu yang mengartikan harapan panjang umur.
"Tiga unsur yang ada dalam lukisan itu dianggap bisa membawa peruntungan. Maka tidak mengherankan, lukisan-lukisan pemandangan dulu mudah ditemui di rumah-rumah warga," kata Handoyo.
Peruntungan nasib baik, kini memang tengah menjauh dari para pelukis Sokaraja dan karya-karyanya khasnya lukisan pemandangan. Kisah lukisan Sokaraja memang terangkai dari lintasan kemurungan juga kebahagiaan yang saling berkelok. Tak ada yang tahu pasti apakah lukisan Sokaraja tetap akan terpuruk atau mendapat kesempatan kedua untuk bangkit kembali.
(mdk/gil)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya