SD Palebon Semarang Ambruk, Siswa Terpaksa Belajar Bergantian
Merdeka.com - Atap bangunan SD Negeri Palebon 01 Semarang Jalan Panda Nomor 5, Pedurungan, Semarang, Jawa Tengah, roboh, pada Selasa (7/1) pukul 03.30 WIB. Belum diketahui penyebab robohnya atap bangunan yang menyandang sekolah ramah anak (SRA) itu, namun ada dugaan rangka baja ringan yang tidak kuat menahan beban saat kondisi hujan deras.
Kepala sekolah SD Negeri Palebon 01 Semarang, Rudi Haryanto mengaku mengetahui robohnya atap dikabari oleh pihak penjaga sekolahan kalau atap roboh. Mengetahui kabar itu, lanjut dia mendatangi lokasi sekolah.
"Saya cek lokasi sekolah memang benar atap empat ruang kelas ambruk yakni kelas 5A 5B, 6A, dan 6B. Langsung saya laporkan ke Dinas Pendidikan Kota Semarang," kata Rudi Haryanto, Selasa (7/1).
Dia mengungkapkan gedung sekolah tersebut dibangun tahun 2015 saat itu, kata dia, belum menjabat sebagai kepala sekolah. Ia pun tidak tahu menahu tentang bangunan tersebut.
"Bangunan ini baru saja, saya jadi kepala sekolah 2016 akhir. Soal bangunan itu, tidak tahu," jelasnya.
Robohnya atap bangunan tidak mengganggu proses belajar mengajar. Dia meminta siswa yang kelasnya roboh untuk gantian masuk siang.
"Tidak ada gangguan proses belajar mengajar. Siswa tetap bisa belajar, tapi yang biasanya masuk pagi kita ganti masuk siang," jelasnya.
Terkait sekolah SD Negeri Palebon 01 Semarang memang sendiri sudah menyandang predikat ramah anak. Dari informasi deklarasi sekolah ramah anak tersebut dilakukan pada tanggal 20 April 2019.
"Ada 20 sekolah ramah anak di kecamatan Pedurungan. Termasuk sekolah SD negeri Palebon ini," ungkapnya.
Sedangkan, Rudi belum mengetahui secara pasti soal anggaran untuk memperbaiki bangunan sekolah yang roboh.
"Kami masih menunggu anggaran dari Diknas. Dari DPRD Kota Komisi D juga segera mungkin untuk diperbaiki," tuturnya
Namun sampai saat ini, kepolisian masih menyelidiki penyebab robohnya Atap bangunan ruang kelas yang roboh. Petugas Inafis juga masih melakukan pemeriksaan di lokasi.
"Tadi petugas Inafis cek lokasi sama bawa sampel barang seperti genteng," tutup Rudi.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang Gunawan Saptogiri mengaku rangka atap baja ringan itu berkaitan satu dengan rangka lainnya. Jika satu bengkok, rangka lainnya akan ikut.
"Baja ringan harus ada baja konvensionalnya untuk kekuatannya, apalagi hujan terus-menerus. Ini mungkin memang tidak langsung 'bruk'. Mungkin ada yang satu bebannya tidak kuat, lalu merambat ke lainnya," kata Gunawan.
Gunawan saat ini fokus pada perbaikan bangunan gedung sekolah. Sebab bangunan ini bukan termasuk bangunan baru.
"Ini sudah lima tahun, akan kita langsung perbaiki," ujarnya.
Disdik akan mengevaluasi sekolah-sekolah di Kota Semarang yang hanya menggunakan baja ringan untuk rangka atap.
"Sekolah-sekolah tersebut akan diberi penguatan pada atapnya. Supaya kejadian tidak terulang lagi," tutup Gunawan.
(mdk/gil)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya