Satu warga di Sleman meninggal dunia karena Leptopirosis
Merdeka.com - Penyakit Leptospirosis terjadi di sejumlah wilayah di Kabupaten Sleman, DIY. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Sleman, dalam 3 bulan di tahun 2018 ada 10 warga yang dinyatakan positif terkena Lepotopirosis. Dari 10 warga itu satu orang dinyatakan meninggal dunia karena Leptopirosis.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Sleman, Novita Krisnaini, mengatakan 10 kasus Lestopirosis terjadi di 7 kecamatan di wilayah Sleman. Novita merinci Leptopirosis terjadi di Kecamatan Moyudan dua kasus, Gamping dua kasus, Berbah satu kasus, Turi satu kasus, Tempel satu kasus, Prambanan dua kasus, dan Godean satu kasus.
"Pada 2018 (hingga 23 Maret 2018) ada 10 kasus. Ada dua orang yang meninggal, satu positif dan satu suspect (diduga terkena leptospirosis)," ujar Novita, Jumat (23/3).
Novita mengatakan, dua orang yang meninggal dunia itu adalah warga Desa Sidokarto, Kecamatan Godean di hari yang sama yaitu Selasa (20/3) yang lalu. Dari hasil pemeriksaan, diketahui satu diantaranya positif Leptopirosis sedangkan satunya lagi suspect atau diduga karena Leptopirosis.
Novita mengungkapkan kasus Leptopirosis di Sleman memiliki jumlah yang bervariasi setiap tahunnya. Di 2015 ada enam orang yang terjangkit Leptopirosis dan tidak ada yang meninggal dunia. Pada 2016 hanya dua orang yang terkena penyakit serupa dan tanpa korban jiwa. Sedangkan di tahun 2017 ada 48 kasus dengan jumlah korban meninggal dunia 10 orang.
"Leptospirosis penyakit yang berpotensial mewabah. Sehingga puskesmas rutin melaporkan. Gejala terkena Leptopirosis yaitu panas, lemas, nyeri betis, mual, muntah, badan kuning, dan gagal ginjal. Itu harus segera ditangani. Leptopirosis biasanya menularnya lewat air kencing tikus," terang Novita.
"Mencegah jumlah kasus semakin banyak, kami (Dinkes Sleman) telah mengeluarkan surat edaran kepada Puskesmas maupun rumah sakit. Surat edaran tersebut di antaranya berisi peningkatan edukasi kepada masyarakat, peningkatan sistem kewaspadaan dini, meningkatkan sistem pelayanan dan deteksi dini dengan alat Leptotek. Selain itu juga meminta agar koordinasi antar instansi ditingkatkan lagi," tutup Novita.
(mdk/lia)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya