Sakit Hati Persoalan Keluarga Berbuah Penculikan Keponakan oleh Paman dan Bibi

Minggu, 28 Maret 2021 04:01 Reporter : Erwin Yohanes
Sakit Hati Persoalan Keluarga Berbuah Penculikan Keponakan oleh Paman dan Bibi Paman dan tante culik keponakan. ©Istimewa

Merdeka.com - Merasa sakit hati karena persoalan keluarga, sepasang suami istri nekat membawa lari keponakannya sendiri. Alhasil, hal tersebut sempat membuat orangtuanya kelabakan, lantaran sang buah hati menghilang selama 4 hari.

Adalah Nessa Allanna Karaissa atau biasa dipanggil Ara sudah menghilang selama 4 hari dari tempatnya terakhir bermain di Surabaya. Gadis berumur 7 tahun tersebut diketahui menghilang tanpa jejak sejak Selasa (23/3) lalu.

Namun, pada Sabtu (27/3) dinihari, keberadaan Ara mulai terendus polisi. Ia diketahui di kawasan Pasuruan.

Kapolrestabes Surabaya, Kombes Jhonny Eddizon Isir mengatakan, kasus penculikan ini dilakukan oleh dua orang tersangka. Kedua tersangka ini, rupanya masih terhitung sebagai kerabat atau tepatnya tante dan paman korban.

Kedua orang yang ditetapkan sebagai tersangka itu diketahui bernama Oke Ary Aprilianto (34) dan Hamidah (35), warga Karanggayam, Surabaya.

"Tersangka adalah paman dan tante Ara," kata Isir, Sabtu (27/3).

Dalam kasus ini, tersangka Hamidah diketahui membujuk korban agar mau ikut dengannya. Saat itu, tersangka mengetahui korban sedang bermain sendirian di taman.

Karena korban mengenal tersangka, maka ia pun bersedia ikut. Sedangkan Oke, si suami Hamidah, menyediakan lokasi sebagai tempat persembunyian di Pasuruan.

"Jadi, ananda Ara ketika diajak kemudian mau karena bukan orang lain," jelas dia.

Meski para tersangka masih keluarga, tetapi proses hukum tetap berjalan karena korban dibawa tanpa persetujuan ayah ibunya.

Sementara itu, Kanit Reskrim Polrestabes Surabaya, Iptu Arief Ryzki Wicaksana mengatakan sebelum korban dibawa menuju Pasuruan sempat diajak berkeliling Surabaya.

Bahkan, rambut Ara dipotong agar tidak mudah dikenali. Gadis kecil itu sulit ditemukan karena penampilannya sudah berubah dari ciri-ciri terakhir yang disebarkan.

"Korban dipanggil dan mau ikut karena masih bukan orang asing," ujarnya.

Kedua pelaku yang tinggal satu atap bersama Ara itu kemudian mengajak korban membeli jajanan. Ia juga diajak potong rambut dengan maksud menyamarkan penampilan sang bocah.

"Rambut korban dipotong sangat pendek sehingga tidak dikenali apalagi ketika memakai masker," imbuh dia.

Setelah itu, Ara dibawa ke rumah Oke di Pasuruan menggunakan motor. Di sana Ara disembunyikan dan tidak boleh menghubungi orang tuanya.

Terpisah, Oke, salah satu tersangka menyebut jika penculikan itu memang didasari oleh rasa sakit hati pada orangtua korban. Meski demikian, selama masa penculikan, Ara diakuinya diperlakukan dengan baik.

"Kami tidak berniat apa-apa karena menganggap Ara seperti putri kami sendiri. Tapi kami sakit hati kepada orangtuanya," ungkapnya.

Tersangka Hamidah juga mengakui sakit hati karena perlakuan kedua orangtua Ara yang sering memfitnah dan membentak keluarganya saat berada di rumah yang mereka tinggali bersama.

"Saya sangat sakit hati. Anak saya dicaci maki," ungkapnya.

Dalam kasus ini, kedua pelaku pun harus terancam Pasal 83 Jo 76F Undang-undang No 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak. Dengan ancaman hukuman minimal 3 tahun dan maksimal 15 tahun. [rhm]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Penculikan Anak
  3. Pasuruan
  4. Surabaya
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini