HS (24) mendatangi Mapolsek Kersana, Kamis (15/10) malam, dan mengaku telah membunuh ayah kandungnya, Waslam (50), sekitar empat bulan sebelumnya. Pengakuan ini membuka penyelidikan dugaan mutilasi di Desa Kemukten, Kecamatan Kersana, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.
Selama empat bulan terakhir, keluarga dan tetangga mengira Waslam merantau untuk berjualan siomai di Kota Tegal menggunakan sepeda motor. Kabar itu membuat hilangnya Waslam tidak langsung menimbulkan kecurigaan.
Menindaklanjuti pengakuan HS, tim Inafis Satreskrim Polres Brebes melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) pada Sabtu (17/10) di dua rumah di Desa Kemukten. Lokasi pertama adalah rumah keluarga yang diduga menjadi tempat pembunuhan sekaligus mutilasi, sedangkan lokasi kedua berada di sebuah kompleks perumahan yang diduga terkait penanganan jasad setelah dimutilasi.
Kapolsek Kersana AKP Teguh Adi Winarko menyebut penyelidikan bermula saat seorang pemuda datang dan mengaku membunuh ayah kandungnya. Setelah itu, penyidik memeriksa HS, mengumpulkan keterangan sejumlah pihak di Polres Brebes, serta mencocokkan temuan lapangan dengan pengakuan tersebut.
"Masih dalam penyelidikan. Tadi olah TKP untuk hasilnya yang lebih tau Inafis," kata Teguh melalui pesan singkat, Senin (19/10).
Advertisement
Empat Bulan Disangka Merantau ke Tegal
Salah satu alasan kasus ini tidak terungkap berbulan-bulan adalah keterangan mengenai kepergian Waslam. HS disebut menyampaikan kepada keluarga dan tetangga bahwa ayahnya merantau untuk berjualan siomai di Kota Tegal dengan sepeda motor.
Keterangan tersebut membuat orang-orang di sekitarnya tidak segera mencurigai adanya tindak pidana. Ina, kerabat yang juga tetangga HS, mengaku pihak keluarga tidak merasa curiga karena HS menyebut Waslam sedang merantau.
Menurut Ina, HS juga menyampaikan bahwa ia akan menanggung kebutuhan finansial keluarga selama ayahnya tidak berada di rumah.
HS diketahui bekerja di sebuah pabrik sepatu usai lulus SMA. Ia tinggal bersama ibu dan dua adiknya yang masih bersekolah.
Di lingkungan tempat tinggal, HS dikenal pendiam dan penurut. Penilaian tersebut menggambarkan kesehariannya dan bukan dasar untuk menyimpulkan motif atas dugaan tindak pidana.
Advertisement
Pengakuan Soal 10 Potongan Jasad
Dari keterangan HS kepada polisi, Waslam diduga dibunuh dengan cara digorok sebelum jasadnya dipotong-potong. Dalam perkembangan penyelidikan, jasad korban disebut dipotong menjadi 10 bagian.
Potongan jasad itu diduga direbus selama dua hari, sementara tulang-belulangnya dibakar selama dua hari berikutnya. Sisa jasad kemudian disebut dibuang ke dua sungai berbeda.
Rangkaian tindakan tersebut kini diuji dalam penyelidikan Polres Brebes melalui olah TKP, pemeriksaan saksi, serta penelusuran barang bukti untuk memastikan kronologi kejadian.
Sejauh ini belum ada keterangan resmi yang memastikan seluruh bagian jasad Waslam telah ditemukan. Motif dugaan pembunuhan terhadap ayah kandung ini masih didalami.
Penyidik terus memeriksa HS dan meminta keterangan sejumlah pihak yang mengetahui kehidupan keluarga tersebut. Ibu HS turut dimintai keterangan untuk mengurai peristiwa sebelum dan sesudah Waslam menghilang.
Setiap keterangan dicocokkan dengan bukti yang ditemukan agar kronologi kejadian dapat disusun secara utuh dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4317527/original/089080600_1675844711-fortuner-tabrak-ojol-milik-sipil-polisi-usut-penggunaan-pelat-palsu-dinas-strobo.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9377275/original/064439700_1792423673-20150908wantimpres_13.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9377269/original/011302100_1792422552-1001384769.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9377262/original/013495800_1792421180-IMG_20261019_160044.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9377242/original/040251900_1792418779-IMG-20240603-WA0003.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9377227/original/011341300_1792415687-1001128098.jpg)