AHY Tekankan Dua Kunci untuk Majukan Indonesia

Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan AHY menekankan pentingnya pembangunan sumber daya manusia yang didukung infrastruktur tepat sasaran untuk mengurangi ketimpangan antarwilayah di Indonesia.

Febika Indriyani
Oleh Febika Indriyani - Reporter
AHY Tekankan Dua Kunci untuk Majukan Indonesia
Wakil Gubernur URI, Yos Sunitiyoso; Komandan P3MD, Marsekal Pertama TNI Dr. Anton Pallaguna; serta Direktur Danantara Corporate University, Handi Kurniawan. Acara Program Presiden Pemimpin Masa Depan (P3MD). Jakarta Barat (14/10/2026)

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menekankan pentingnya pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang didukung infrastruktur tepat sasaran untuk mengurangi ketimpangan antarwilayah di Indonesia.

Hal itu disampaikan AHY saat memberikan pembekalan dalam Program Presiden Pemimpin Masa Depan (P3MD) di Gedung Nawasena Corporate Mandiri University, Daan Mogot, Jakarta, Rabu (14/10).

“Infrastruktur dan konektivitas menjadi tulang punggung pembangunan bangsa, yang harus kita kawal sebaik mungkin,” ujar AHY.

Menurut AHY, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang besar. Namun, kualitas manusia menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan pembangunan nasional.

Dia menilai pembangunan SDM perlu berjalan beriringan dengan pembangunan infrastruktur agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat di berbagai wilayah.

“Bapak Presiden Prabowo Subianto menaruh perhatian besar dalam pembangunan human capital ini, tentu harus didukung oleh pembangunan infrastruktur yang tepat sasaran agar tidak terjadi ketimpangan antarwilayah,” ucapnya.

AHY juga menekankan pentingnya kolaborasi dalam menjalankan agenda pembangunan nasional. Menurut dia, tidak ada satu entitas yang dapat bekerja sendiri untuk mewujudkan seluruh agenda pembangunan bangsa.

“Tidak ada satu entitas yang bisa berdiri sendirian dalam mengusahakan segala agenda pembangunan bangsa,” katanya.

P3MD Diikuti 384 Peserta Terpilih

Dalam kesempatan tersebut, AHY menyebut P3MD diikuti sekitar 384 peserta yang terpilih dari lebih dari 10.000 calon. Para peserta berasal dari berbagai latar belakang profesi, keilmuan, dan keahlian.

AHY mengapresiasi upaya penyelenggara dalam mempersiapkan calon pemimpin dan pengelola Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pada masa depan. Dia berharap program tersebut menjadi wadah kolaborasi untuk mendukung pembangunan nasional.

Direktur Danantara Corporate University, Handi Kurniawan, menjelaskan P3MD dirancang berlangsung selama 11 bulan yang terbagi dalam tiga tahap.

Tahap pertama berlangsung selama tiga bulan, tahap kedua selama empat bulan, sedangkan tahap ketiga berlangsung selama empat bulan dengan memberikan kesempatan kepada peserta untuk berkontribusi melalui pelaksanaan tugas.

Menurut Handi, program tersebut mencakup pembentukan dan penguatan karakter serta pembekalan kemampuan manajerial dan kepemimpinan.

“Pada akhirnya mereka menjadi pemimpin BUMN yang memiliki integritas, yang memiliki kemampuan kompetensi yang baik, untuk mengembangkan BUMN menjadi lebih maju lagi dan juga menghasilkan kontribusi yang terbaik untuk bangsa,” tandas Handi pada saat doorstop.

AHY Ingatkan Pentingnya Infrastruktur Tahan Bencana

AHY juga mengingatkan pemerintah agar tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga memperkuat ketahanan terhadap bencana dan perubahan iklim.

AHY menilai pembangunan yang hanya mengejar jumlah tanpa memperhatikan kualitas dan daya tahan berisiko menimbulkan kerugian ketika bencana terjadi. Menurut dia, infrastruktur perlu dirancang agar mampu menghadapi berbagai risiko yang semakin besar akibat cuaca ekstrem.

"Kalau membangun asal membangun lebih banyak, tapi tidak lebih baik, tidak lebih punya daya tahan, maka suatu saat itu akan mudah hancur kembali atau rusak kembali akibat bencana," ujar AHY.

Dia mencontohkan dampak bencana yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, termasuk Aceh Tamiang. Bencana tersebut mengakibatkan kerusakan rumah, jembatan, dan jalan, serta membuat sejumlah wilayah terisolasi.

Dampaknya juga merembet ke kehidupan masyarakat. Gangguan terhadap akses air bersih, listrik, pendidikan, dan layanan kesehatan menjadi persoalan yang perlu diperhatikan dalam upaya pemulihan pascabencana.

AHY menegaskan, Indonesia menghadapi risiko bencana sekaligus semakin rentan terhadap cuaca ekstrem. Karena itu, pembangunan infrastruktur perlu berjalan beriringan dengan penguatan resiliensi atau daya tahan.

"Krisis iklim ini tentunya harus kita waspadai. Jangan sampai kita asyik membangun, tapi tidak berkoneksi pada resiliensi," katanya.

Menurut AHY, pendekatan tersebut penting agar pembangunan tidak sekadar menghasilkan infrastruktur baru, tetapi juga mampu melindungi masyarakat dan menjaga keberlanjutan manfaatnya ketika bencana terjadi.

Rekomendasi