Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyoroti paradoks dunia di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan semakin terhubungnya masyarakat global. Menurut dia, kemajuan tersebut belum sepenuhnya menghapus ketimpangan, bahkan ketika rivalitas geopolitik dan geoekonomi terus menjadi tantangan bagi kerja sama internasional.
Hal tersebut disampaikan AHY saat mengisi materi kepemimpinan dalam pelaksanaan Program Presiden Pemimpin Masa Depan (P3MD) di gedung Nawasena Corporate Mandiri University, Daan Mogot, Jakarta, Rabu (14/10).
AHY mengatakan, dunia saat ini menghadapi situasi ketika kemajuan teknologi yang seharusnya mendekatkan manusia justru berjalan beriringan dengan kesenjangan. Salah satunya terlihat dari perbedaan kemampuan masyarakat dalam mengakses dan menguasai teknologi digital.
“Seharusnya, kemajuan teknologi yang semakin pesat ini bisa membawa manusia bersama. Namun, yang terjadi justru ketimpangan antarmanusia,” ujar AHY.
AHY menjelaskan, kesenjangan digital atau digital divide memisahkan kelompok yang mampu menguasai teknologi dari kelompok yang belum memiliki akses memadai terhadap teknologi dan ruang digital.
“Digital divide telah memisahkan antara mereka yang menguasai teknologi menjadi kelompok yang sangat kuat, sangat dominan, dengan mereka yang tidak memiliki akses terhadap teknologi dan ruang digital ini,” kata AHY.
Advertisement
Rivalitas Geopolitik dan Konflik Global
AHY juga menyoroti paradoks lain dalam tatanan internasional. Menurut dia, keterhubungan antarnegara yang semakin erat belum tentu membuat dunia menjadi lebih damai. Sebaliknya, persaingan geopolitik dan geoekonomi masih memicu ketegangan di berbagai kawasan.
Dia menilai, dunia saat ini juga menghadapi persoalan kepercayaan terhadap institusi internasional. Ketika konflik dan perselisihan terjadi, upaya membangun konsensus untuk menyelesaikan masalah bersama tidak selalu berjalan mudah.
Di sisi lain, perkembangan teknologi digital belum dinikmati secara merata. Data International Telecommunication Union (ITU) dalam laporan Facts and Figures 2025 mencatat sekitar 2,2 miliar orang di dunia masih belum terhubung ke internet. Sebagian besar dari mereka berada di negara berpendapatan rendah dan menengah.
Kesenjangan tersebut menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak hanya berkaitan dengan inovasi, tetapi juga dengan pemerataan akses agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
AHY mengatakan, perubahan tatanan global membuat setiap negara perlu memahami dinamika geopolitik sekaligus memperkuat kapasitas nasional. Menurut dia, negara juga harus mampu menangkap peluang di tengah berbagai tantangan internasional.
“Jangan berharap ada yang membantu kita ketika kita sulit. Jangan berharap ada negara yang ingin Indonesia membesar ketika mereka juga ingin negaranya membesar,” ujar AHY.
Dia menekankan, pemahaman terhadap perubahan global menjadi penting bagi calon pemimpin agar mampu menentukan prioritas dan mengambil keputusan yang mendukung kemajuan bangsa di tengah ketidakpastian dunia.