Bagi Juliana, kebakaran di Kampung Muka, Ancol, Jakarta Utara, Minggu (27/9) pagi, bukan sekadar kehilangan bangunan. Rumah kontrakan dibangun dan disewakannya sejak 2005 kini harus dibangun kembali dari awal. Keinginan untuk segera membangun sebenarnya ada. Namun, biaya menjadi persoalan lain.
"Penginnya langsung. Cuma biayanya banyak banget," ujar Juliana saat ditemui merdeka.com di sekitar lokasi kebakaran, Selasa (29/9).
Material bangunan, ongkos tukang hingga kebutuhan pembangunan kembali menjadi beban harus dipikirkan Juliana. Dia memilih menunggu sampai memiliki biaya yang cukup sebelum mulai membangun kembali kontrakannya.
Advertisement
Panik Cari Penghuni Kontrakan
Saat mengetahui kebakaran, Juliana langsung menuju lokasi. Dari tempat tinggalnya di blok berbeda, ia melihat kobaran api sudah membesar.
Hal pertama yang dipikirkannya bukan bangunan, melainkan para penghuni kontrakan.
Juliana tahu sebagian besar penghuni memiliki anak kecil, bahkan bayi. Ia pun menghubungi satu per satu untuk memastikan mereka sudah keluar dari rumah.
"Saya nyariin mereka, sudah pada di mana, keluar semua apa enggak. Karena kan saya tahu di rumah itu pada punya bayi, pada punya anak kecil," katanya.
Para penghuni akhirnya berkumpul di sekitar rel. Juliana memastikan satu per satu bahwa mereka berhasil menyelamatkan diri.
Sebagian besar penghuni hanya sempat membawa barang yang melekat di tubuh. Ada pula yang masih sempat mengambil surat-surat penting.
"Yang penting anaknya selamat semua," ujar Juliana.
Kontrakan milik Juliana terdiri dari enam petak yang dihuni enam keluarga. Total terdapat sekitar 22 jiwa di bangunan tersebut.
Advertisement
Penghuni Cari Kontrakan Baru
Setelah kebakaran, Juliana meminta para penghuni mulai mencari tempat tinggal lain. Ia tidak ingin mereka menunggu terlalu lama sementara belum ada kepastian kapan bangunan miliknya dapat kembali berdiri.
"Mereka udah pada, saya suruh nyari kontrakan aja. Kalau nunggu saya lagi, ya nggak tahu kapan," tuturnya.
Sebagian penghuni sudah mulai mendapatkan tempat baru. Namun, ada pula yang masih bertahan sementara di sekitar lokasi karena bantuan masih disalurkan di sana.
Menurut Juliana, kondisi tersebut juga memudahkan warga terdampak mendapatkan bantuan yang datang ke lokasi.
Di tengah kehilangan itu, kebutuhan dasar warga mulai tercukupi. Bantuan berupa pakaian, makanan matang, minuman, perlengkapan mandi, selimut hingga kebutuhan balita telah diterima.
Namun, bantuan untuk membangun kembali rumah menjadi kebutuhan yang berbeda.
Advertisement
Bangunan Lama Jadi Tantangan
Juliana mengatakan kawasan tersebut memang merupakan permukiman yang cukup padat. Di sekitar bangunan yang terbakar juga terdapat sejumlah warung dan bangunan lama yang menggunakan material kayu.
Kondisi itu membuat api lebih cepat menghanguskan bangunan.
Meski begitu, ia bersyukur api tidak merembet lebih jauh. Warga sekitar juga ikut berupaya memadamkan api menggunakan peralatan seadanya sebelum kondisi semakin parah.
Kebakaran ini bukan pengalaman pertama bagi Juliana. Ia mengaku sudah empat kali merasakan kejadian serupa di lokasi berbeda.
Namun, kali ini kehilangan tetap terasa berat.
"Kalau nangis ya pasti," katanya.
Juliana kini hanya berharap kondisi keluarganya, para penghuni kontrakan, dan warga sekitar tetap aman. Sementara untuk bangunan yang terbakar, ia masih harus mengumpulkan biaya sebelum bisa kembali membangun.
Di lokasi yang sebelumnya dipenuhi aktivitas warga dan penghuni kontrakan, Juliana kini menghadapi satu pekerjaan besar yaitu mengubah kembali puing-puing menjadi tempat tinggal yang layak.