Kebakaran yang melanda permukiman padat di Kampung Muka, Ancol, Pademangan, Jakarta Utara, Minggu (27/9) pagi, berlangsung cepat. Bagi Nita (28), beberapa menit sejak mendengar teriakan warga menjadi waktu yang menentukan untuk menyelamatkan keluarganya.
Saat itu Nita masih tertidur bersama anaknya. Teriakan warga membangunkannya.
"Bangun-bangun, kebakaran. Kebakaran, besar," ujar Nita saat ditemui merdeka.com di lokasi pengungsian.
Begitu membuka pintu, api sudah terlihat membesar di bagian belakang rumah. Bangunan di sekitar lokasi yang banyak menggunakan material kayu membuat api cepat menjalar.
Nita tak banyak berpikir. Ia langsung menggendong anaknya keluar rumah. Kendaraan yang terparkir di depan rumah juga segera dipindahkan ke tempat aman.
Namun, dia tak bisa kembali untuk mengambil pakaian, dokumen, maupun barang-barang lainnya.
Bagian belakang rumah sudah terkena api. Di lokasi itu juga terdapat kompor dan gas sehingga Nita khawatir terjadi ledakan jika memaksakan diri masuk kembali.
"Langsung gendong anak. Mau masuk lagi takut karena bawahnya ada kompor, ada gas," kata Nita.
Advertisement
Barang Anak Ikut Ludes
Kebakaran tidak hanya menghanguskan tempat tinggal Nita. Pakaian anak, perlengkapan sekolah, hingga barang sehari-hari ikut hilang.
Yang tersisa dari bangunan kontrakannya hanya bagian tembok. Atap rumah sudah habis terbakar.
Melihat barang-barang anaknya tak terselamatkan menjadi salah satu hal yang paling berat bagi Nita.
"Apalagi pas ngelihat barang kebakaran, baju anak kebawa, barang-barang nggak ada yang kebawa. Sedih aja," tutur dia.
Nita tinggal di kontrakan tersebut bersama suami, ayah, dan dua anaknya. Ia sudah menempati rumah itu kurang dari setahun.
Kebakaran juga sempat membuat salah satu anaknya tidak masuk sekolah karena seragam dan perlengkapan sekolah ikut terbakar. Setelah mendapat bantuan pakaian sekolah, anaknya sudah kembali bersekolah.
Advertisement
Mencari Kebutuhan Anak
Di tengah bantuan yang mulai berdatangan, Nita masih membutuhkan sejumlah kebutuhan untuk anak-anaknya, terutama susu dan perlengkapan sehari-hari.
Untuk pakaian, ia mengaku baru mendapat bantuan pakaian anak. Sementara untuk dirinya sendiri, pakaian yang dikenakan saat ditemui merupakan salah satu yang tersedia setelah kebakaran.
"Ya paling pakaian, susu, pampers, kebutuhan anak aja sih," kata Nita.
Nita bersama keluarganya untuk sementara masih berada di pos pengungsian di sekitar lokasi kebakaran. Ia mempertimbangkan mencari kontrakan lain karena kondisi di lokasi pengungsian cukup ramai, terlebih dengan membawa anak-anak.
Namun, ia tetap berharap bisa mendapatkan tempat tinggal yang tidak terlalu jauh dari lokasi sebelumnya. Salah satu pertimbangannya adalah sekolah anak-anak yang berada di sekitar Kampung Muka.
Selain kehilangan barang, kebakaran juga meninggalkan rasa waswas bagi Nita. Ia mengaku masih takut ketika mengingat kembali momen bangun tidur dan melihat api di belakang rumah.
"Ada sih, ngelihat api bangun tidur gitu di belakang rumah, takut juga kalau tidur suka was-was," ujar dia.
Bagi Nita, yang tersisa setelah kebakaran bukan hanya dinding rumah. Ada kebutuhan keluarga yang harus kembali dikumpulkan satu per satu, sementara kehidupan sehari-hari tetap harus berjalan.