KNKT Sebut Masinis Argo Bromo Anggrek Belum Dilatih Skenario Emergency Brake

KNKT merilis temuan awal kecelakaan Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur. Ada catatan soal pelatihan emergency brake dan detail kecepatan kereta.

Yacob Billiocta
Oleh Yacob Billiocta - Reporter
KNKT Sebut Masinis Argo Bromo Anggrek Belum Dilatih Skenario Emergency Brake
Para pekerja dan petugas penyelamat memeriksa kondisi salah satu gerbong Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line yang mengalami kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa 28 April 2026. (AP Photo/Tatan Syuflana)

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) membeberkan temuan penting dari investigasi Kecelakaan Argo Bromo Anggrek di Jalur I Stasiun Bekasi Timur, Daop 1 Jakarta, pada 27 April 2026. Masinis KA 4B disebut belum pernah dilatih menghadapi skenario pengereman darurat. Peristiwa tabrakan dengan KA 5568A Commuter Line menewaskan 16 orang dan melukai 91 orang.

KNKT mencatat kecepatan operasi KA 4B sesaat sebelum benturan sebesar 114 km/jam, dengan batas maksimum 120 km/jam pada lintas Stasiun Jatinegara–Stasiun Cikarang. Tabrakan terjadi sekitar pukul 20.52 WIB saat rangkaian berada di area Stasiun Bekasi Timur.

"Kejadian tabrakan antara KA 4B dan KA 5568A di Stasiun Bekasi Timur terjadi di pukul 20.52 WIB, yaitu saat akselerometer lokomotif mencatatkan data kosong/tidak terbaca \"---\" yang merupakan efek dari G-Force akibat tabrakan seketika yang melebihi batas ukur (threshold) sensor akselerometer. Kecepatan operasi KA 4B adalah 114 km/jam dan kecepatan maksimum 120 km/jam pada lintas Stasiun Jatinegara – Stasiun Cikarang," tulis KNKT.

Menurut KNKT, dari pendidikan, pelatihan, dan pengalaman sebagai awak sarana perkeretaapian (ASP), masinis KA 4B memahami perilaku persinyalan bahwa aspek merah yang mengindikasikan berhenti selalu didahului aspek kuning yang mengindikasikan berjalan hati-hati. KNKT juga menyebut tidak ada prosedur pengereman darurat pada kecepatan tinggi di jalan rel lengkung. Adapun masinis telah mengikuti pelatihan refreshing ASP muda berpenggerak non listrik pada 27 Maret 2024, sementara asisten masinis lulus pelatihan ASP pertama berpenggerak non listrik pada 5 Juni 2024.

"Masinis KA 4B belum pernah mendapatkan pelatihan terkait skenario kondisi yang membutuhkan pengereman darurat serta pola atau taktis pengereman darurat (emergency brake)," tulis KNKT dalam laporan investigasi kecelakaan perkeretaapian tabrakan antara KA 4B Argo Bromo Anggrek dan KA 5568A Commuter Line di jalur 1 Stasiun Bekasi Timur.

Data logger lokomotif menunjukkan pengereman dilakukan menggunakan rem udara (pneumatic brake) atau rem gesek (friction brake). Pengereman diterapkan bertahap, dimulai dari service brake pada tingkat minimum reduction hingga full service, kemudian dilanjutkan dengan emergency brake. Masinis mulai melakukan minimum reduction pada kecepatan 108 km/jam setelah menerima informasi adanya tabrakan di jalur hilir JPL Bekasi Timur.

Fase service brake berlangsung 37 detik, dimulai pukul 20.51 WIB saat kereta berada sekitar 1.341 meter dari titik berhenti pascatabrakan di km 28+941 atau 1.315 meter dari titik tabrakan di km 28+915. Fase emergency brake berlangsung 25 detik pada rentang 20.51–20.52 WIB.

Emergency brake diaktifkan pada km 28+588, sekitar 275 meter sebelum KA 4B menabrak KA 5568A di km 28+915. Saat tuas emergency brake diaktifkan, kecepatan telah turun menjadi 78 km/jam. Setelah benturan, KA 4B masih bergerak sejauh 26 meter dan akhirnya berhenti di km 28+941.

"Menurut pemahaman Masinis KA 4B, penerapan emergency brake pada kecepatantinggi serta posisi rangkaian KA yang masih berada di jalan rel lengkung berpotensi menimbulkan risiko berupa jackknife derailment atau tergulingnya rangkaian yang sedang dioperasikan," tulis KNKT.
Rekomendasi