Anak-anak di pedalaman Papua Pegunungan sering kali memulai hari sekolah hanya dengan mengonsumsi umbi-umbian, seperti singkong, betatas, dan keladi, bahkan tak jarang tanpa sarapan sama sekali.
Kondisi ini berpotensi memengaruhi tingkat konsentrasi mereka dalam menerima pelajaran di sekolah, baik di jenjang SD, SMP, maupun SMA, dibandingkan dengan teman sebaya di luar Papua.
Untuk mengatasi masalah gizi ini, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hadir sebagai harapan baru, menyediakan asupan gizi lengkap yang esensial bagi tumbuh kembang optimal anak-anak di delapan kabupaten wilayah tersebut.
Advertisement
Advertisement
Pentingnya Gizi untuk Masa Depan Papua Pegunungan
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Papua Pegunungan dirancang untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak pedalaman dengan menyediakan satu porsi makanan lengkap. Makanan tersebut mencakup karbohidrat, protein hewani dan nabati, sayuran, serta buah-buahan.
Komposisi gizi yang disediakan meliputi:
Wakil Gubernur Papua Pegunungan, Ones Pahabol, yang ditunjuk oleh Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua (KEPPOKP), menegaskan bahwa MBG adalah fondasi penting. Program ini bertujuan meletakkan masa depan kepemimpinan daerah bagi anak-anak asli di delapan kabupaten, yaitu:
Advertisement
Pemberian MBG sejak dini sangat krusial untuk memastikan anak-anak tumbuh sehat, memiliki kecerdasan yang baik, dan siap menjadi pemimpin di masa depan. Selain gizi, layanan pendidikan yang berkualitas dari TK hingga perguruan tinggi juga harus dipersiapkan.
Advertisement
Tantangan dan Implementasi Program MBG
Mewujudkan Program MBG secara optimal di Provinsi Papua Pegunungan tidaklah mudah, berbeda dengan daerah lain di Indonesia. Terdapat berbagai tantangan, termasuk penolakan dari beberapa kelompok masyarakat terhadap program nasional ini.
Pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten, terus berupaya mendorong dan membuka cakrawala pemikiran masyarakat. Tujuannya agar mereka dapat menerima MBG sebagai metode mempercepat pertumbuhan fisik, mental, dan kecerdasan secara optimal.
Saat ini, terdapat 13 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Papua Pegunungan, dengan lima di antaranya berlokasi di Kabupaten Jayawijaya dan sisanya tersebar di tujuh kabupaten lain. Setiap SPPG melayani antara 3.500 hingga 7.000 penerima manfaat, baik anak sekolah, ibu hamil, maupun ibu menyusui.
Advertisement
Koordinator Regional Badan Gizi Nasional (BGN) Papua Pegunungan, Wahyu Adi Pratama, menjelaskan bahwa fokus MBG adalah anak-anak sekolah dari PAUD hingga SMK, serta ibu hamil dan ibu menyusui. Program ini mendukung 1.000 hari pertama kehidupan, mulai dari kehamilan hingga anak bersekolah.
Advertisement
Dukungan dan Pengawasan MBG
Untuk memastikan Program MBG berjalan efektif, anggota Komisi XIII DPR RI, Yan Permenas Mandenas, melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Jayawijaya. Kunjungan ini bertujuan melihat langsung implementasi program dan berdialog dengan guru serta siswa.
Yan Permenas Mandenas menekankan pentingnya porsi MBG yang disesuaikan dengan tingkatan satuan pendidikan. "Porsi anak PAUD-TK dan SD jangan disamakan dengan siswa SMP dan SMA, harus dibedakan," ujarnya, untuk memastikan kecukupan gizi sesuai usia.
Selain meninjau distribusi, anggota parlemen juga mengamati proses pengolahan MBG di salah satu SPPG. Hasilnya, proses pengolahan dinilai telah sesuai standar BGN, mengutamakan kualitas dan kebersihan makanan yang akan dibagikan.
Advertisement
Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua (KEPPOKP) juga memberikan perhatian serius terhadap MBG. Ketua KEPPOKP, Velix V Wanggai, bahkan mengunjungi Papua Pegunungan untuk berkoordinasi dengan Wakil Gubernur Ones Pahabol, Koordinator Regional MBG Wahyu Adi Pratama, dan perwakilan BGN pusat.
KEPPOKP memandang MBG sebagai program kunci dalam mendorong percepatan pembangunan manusia Papua Pegunungan. Program ini diharapkan mampu mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045 dengan memastikan kecukupan gizi anak-anak, khususnya di wilayah Provinsi Papua Pegunungan.
Advertisement
Inovasi Lokal: Program Sarapan Sehat Tolikara
Jauh sebelum MBG diluncurkan secara nasional, Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan, telah memiliki program serupa bernama Sarapan Sehat untuk Anak Sekolah (Sarasehans). Program ini digagas oleh pemerintah kabupaten sejak tahun 2013-2014.
Sarasehans bertujuan meningkatkan gizi dan mengatasi stunting pada anak-anak di Tolikara, yang kala itu masih bagian dari Provinsi Papua. Program ini terus berjalan selama kepemimpinan Bupati Usman Wanimbo selama 10 tahun.
Keberlanjutan program Sarasehans diteruskan oleh Bupati dan Wakil Bupati Tolikara saat ini, Willem Wandi-Yotam Wonda. Berkat inovasi ini, Kabupaten Tolikara berhasil meraih penghargaan nasional "Indonesia People's Choice Awards 2026".
Advertisement
Penghargaan tersebut merupakan bentuk apresiasi dari media nasional atas inovasi daerah dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat, khususnya melalui program Sarasehans di Kabupaten Tolikara.
Sumber: AntaraNews