Sekda NTB Sentil Kebiasaan Buang Sampah ke Sungai, Peringatkan Dampak Kerusakan Lingkungan

Sekretaris Daerah NTB, Abul Chair, menyoroti serius kebiasaan buang sampah ke sungai yang masih dilakukan warga, mengingatkan bahaya kebiasaan buang sampah ke sungai ini terhadap lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Sekda NTB Sentil Kebiasaan Buang Sampah ke Sungai, Peringatkan Dampak Kerusakan Lingkungan
Sekretaris Daerah NTB, Abul Chair, menyoroti serius kebiasaan buang sampah ke sungai yang masih dilakukan warga, mengingatkan bahaya kebiasaan buang sampah ke sungai ini terhadap lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. (AntaraNews)

Sekretaris Daerah Nusa Tenggara Barat (NTB), Abul Chair, melontarkan kritik keras terhadap kebiasaan sebagian warga yang masih membuang sampah ke sungai. Ia menyoroti pola pikir keliru yang berharap sampah akan terbawa arus hingga ke tempat pemrosesan akhir (TPA).

Menurut Abul Chair, cara pandang seperti itu justru menjadi pemicu utama kerusakan lingkungan yang semakin parah. Pernyataan ini disampaikan dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di Mataram.

Selain masalah pembuangan sampah, Abul Chair juga mengkritisi praktik eksploitasi lingkungan yang seringkali dibungkus dengan narasi pembangunan. Ia menegaskan bahwa pembangunan seharusnya tidak mengorbankan kelestarian alam demi kepentingan sesaat.

Dampak Buruk Kebiasaan Buang Sampah ke Sungai

Abul Chair secara tegas menyatakan bahwa membuang sampah ke sungai bukanlah solusi yang bertanggung jawab. Praktik ini secara langsung berkontribusi pada pencemaran air, merusak ekosistem sungai, dan mengancam keberlangsungan hidup biota air.

Harapan agar sampah terbawa arus ke TPA adalah pandangan yang keliru dan berbahaya. Sebaliknya, sampah-sampah tersebut seringkali menumpuk di area lain, menyebabkan banjir, dan mencemari lingkungan di sepanjang aliran sungai.

Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk mengubah kebiasaan buruk ini dan mencari alternatif pengelolaan sampah yang lebih ramah lingkungan. Kesadaran kolektif sangat dibutuhkan untuk menjaga kebersihan dan kesehatan sungai di NTB.

Pembangunan Berkelanjutan Tanpa Eksploitasi Lingkungan

Sekda NTB juga menyoroti bahaya eksploitasi lingkungan yang seringkali terjadi atas nama pembangunan. Ia menekankan bahwa pembangunan yang sejati haruslah berkelanjutan dan tidak merusak alam.

Abul Chair memberikan contoh konkret, seperti tindakan menebang pohon tanpa upaya pemulihan atau menggantinya dengan bangunan beton. Ia menegaskan bahwa praktik semacam itu bukanlah bentuk pembangunan yang bertanggung jawab.

Pembangunan harus selalu mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap lingkungan dan generasi mendatang. Keseimbangan antara kemajuan ekonomi dan pelestarian alam adalah kunci untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan.

Krisis Lingkungan Menuntut Tindakan Nyata dan Segera

Dalam kesempatan tersebut, Abul Chair mengingatkan bahwa krisis lingkungan yang terjadi saat ini menuntut tindakan nyata dan segera. Ia menekankan bahwa tidak ada waktu untuk menunda upaya penyelamatan lingkungan.

Menurutnya, lingkungan tidak memberikan kesempatan untuk terlambat, karena keterlambatan dapat menyebabkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki. Dampak dari kerusakan lingkungan bisa sangat fatal dan merugikan seluruh lapisan masyarakat.

Abul Chair mengajak seluruh pemangku kepentingan, komunitas lingkungan, masyarakat adat, dan warga NTB untuk terus menjaga kelestarian alam. Semangat menjaga lingkungan harus dirawat demi masa depan NTB yang lebih baik dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi