Sesar Lembang, sebuah jalur patahan yang membentang sekitar 29 kilometer di utara Kota Bandung, kini diketahui bukanlah struktur tunggal dengan risiko yang homogen. Penyelidikan terbaru yang dilakukan oleh Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah mengungkapkan kompleksitas sesar ini. Studi tersebut menunjukkan bahwa Sesar Lembang terbagi menjadi tiga segmen, masing-masing dengan karakteristik geologi, tingkat aktivitas, dan potensi gempa yang berbeda secara signifikan.
Pembagian menjadi tiga segmen ini secara langsung menuntut pendekatan mitigasi bencana yang lebih spesifik dan terukur, tidak bisa lagi menggunakan strategi tunggal. Sukahar Eka Adi Saputra, Penyelidik Bumi Ahli Madya Badan Geologi, menjelaskan bahwa setiap segmentasi tersebut memiliki hubungan erat dengan sistem vulkanik di wilayah Bandung.
Secara keseluruhan, Sesar Lembang merupakan sesar aktif dengan segmentasi yang jelas dan memiliki hubungan erat dengan sistem vulkanik di wilayah Bandung. Arah tegasan dominan membentang dari timur laut hingga barat daya, dengan potensi gempa maksimum diperkirakan mencapai magnitudo 6,5 hingga 7 apabila seluruh segmen bergerak bersamaan.
Advertisement
Advertisement
Segmen Barat: Karakteristik dan Aktivitas Bawah Tanah
Segmen barat Sesar Lembang, yang membentang dari Sungai Cimeta hingga Ngamprah dan Cibaligo, menunjukkan pola kekar pada lava, kontak lava-breksi, serta manifestasi mata air panas. Hidayat, Penyelidik Bumi Ahli Muda Badan Geologi, menjelaskan bahwa penampang barat terlihat konsisten dengan distribusi gempa mikro. Hal ini mengindikasikan adanya variasi karakter struktur yang masih aktif secara geologis.
Peneliti menggunakan alat Ground Penetrating Radar (GPR) untuk memindai lapisan tanah di bawah permukaan dan menemukan lapisan yang tampak bergeser atau tidak sejajar (offset). Selain itu, survei magnetik yang telah diolah menunjukkan bahwa bagian utara sesar memiliki anomali magnetik rendah, menandakan perbedaan kondisi batuan di wilayah tersebut.
Analisis lanjutan menggunakan First Horizontal Derivative (FHD) dan Second Vertical Derivative (SVD) membantu peneliti mengidentifikasi arah dan pola struktur batuan di bawah permukaan tanah. Sementara itu, metode 3D Euler Deconvolution digunakan untuk memperkirakan kedalaman sumber anomali, seperti kedalaman patahan atau batas perbedaan batuan.
Advertisement
Hasil survei gravitasi juga menunjukkan anomali Bouguer offset, pola gerak yang mirip dengan Sesar Cimandiri segmen Rajamandala, serta anomali densitas tinggi yang konsisten dengan keberadaan sesar bawah permukaan. Hidayat menambahkan bahwa segmen barat memiliki karakter yang relatif stabil di permukaan tetapi jelas aktif di bawah tanah.
Advertisement
Segmen Tengah: Potensi Aktif Meski Tampak Stabil
Segmen tengah Sesar Lembang, yang membentang dari Maribaya hingga Gunung Batu, menunjukkan reflektor relatif tegak hingga kedalaman 2.000 meter. Survei GPR di area ini juga menemukan adanya offset yang mengindikasikan aktivitas sesar yang relatif muda.
Hidayat menegaskan, “Meski tegak, segmen tengah tetap aktif. Survei geofisika menunjukkan reflektor yang dipotong sesar, indikasi aktivitas relatif muda.” Karakter tegak ini berbeda dengan segmen barat yang lebih offset.
Meskipun permukaannya mungkin tampak stabil, potensi pelepasan energi gempa tetap ada di segmen ini. Kondisi ini menuntut perhatian khusus dalam perencanaan dan pembangunan infrastruktur di wilayah sekitar.
Advertisement
Advertisement
Segmen Timur: Pengaruh Vulkanik dan Sejarah Aktivitas
Segmen timur Sesar Lembang, yang meliputi area dari Gunung Batu hingga Tebing Keraton, menunjukkan bukti aktivitas sesar yang relatif muda. Bukti tersebut termasuk fault scarp (tebing atau lereng curam akibat pergeseran patahan), pergeseran Sungai Cikapundung, dan cermin sesar.
Hidayat menjelaskan, “Segmen timur menunjukkan bukti sesar yang relatif muda, termasuk cermin sesar, menunjukkan sejarah aktivitas signifikan.” Wilayah ini sangat dipengaruhi oleh aktivitas vulkanik dari Gunung Sunda Purba, Gunung Tangkuban Parahu, dan Gunung Burangrang.
Aktivitas vulkanik ini berperan penting dalam pembentukan dan reaktivasi segmen timur, yang pada gilirannya menambah kompleksitas risiko gempa lokal. Pemahaman akan interaksi antara sesar dan aktivitas vulkanik menjadi krusial untuk mitigasi di area ini.
Advertisement
Advertisement
Pelajaran dari Sejarah Gempa Merusak
Supartoyo, Penyelidik Bumi Utama Badan Geologi, menekankan pentingnya mitigasi berbasis data historis untuk mencegah kerusakan akibat gempa bumi. Data menunjukkan bahwa sejak tahun 2000 hingga 2025, kejadian gempa bumi merusak berkisar antara lima hingga 41 per tahun, dengan puncak tertinggi pada tahun 2025. Pada tahun 2026, tercatat enam kejadian gempa merusak.
Gempa Yogyakarta pada tahun 2006 menyebabkan kerugian mencapai Rp29,2 triliun, sementara gempa Aceh 2004 sekitar Rp13,4 triliun. Gempa Palu 2018 mengakibatkan kerugian Rp8,5 triliun, dan gempa Cianjur 2022 mencapai Rp4 triliun. Nilai kerugian ini hampir setara dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi atau Kota Bandung.
Badan Geologi juga menekankan bahwa gempa berpotensi merusak umumnya memiliki intensitas IV–V MMI. Namun, gempa Cianjur 2022 dengan magnitudo 5,6 mencapai intensitas VIII MMI. Supartoyo menambahkan bahwa dampak akan lebih besar jika bangunan tidak tahan gempa.
Advertisement
Advertisement
Tiga Dimensi Bahaya Gempa Bumi
Supartoyo menjelaskan bahwa bahaya gempa terbagi menjadi tiga dimensi utama: guncangan permukaan, sesar permukaan, dan bahaya ikutan. Bahaya ikutan ini meliputi penurunan tanah dan likuifaksi, seperti yang terjadi pada gempa Palu 2018.
Gempa Palu 2018 menimbulkan pergeseran permukaan hingga 580 cm, menjadikannya salah satu yang terbesar di dunia. Mitigasi bencana gempa harus dilakukan sesuai Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, melalui pendekatan struktural dan non-struktural.
Supartoyo menegaskan, “Gempa tidak bisa dicegah, tapi risikonya dapat ditekan jika kesiapsiagaan dan standar konstruksi diterapkan secara konsisten.” Ini berarti bahwa meskipun gempa adalah fenomena alam, dampaknya dapat diminimalisir dengan persiapan yang matang.
Advertisement
Advertisement
Strategi Mitigasi Sesar Lembang yang Tepat Sasaran
Sesar Lembang adalah sistem kompleks dengan tiga karakter segmen yang berbeda, dan Sukahar menegaskan bahwa setiap segmen punya karakter sendiri. Memahami konsep segmentasi ini adalah kunci untuk merancang mitigasi yang efektif, bukan hanya berfokus pada angka magnitudo gempa.
Segmentasi barat, tengah, dan timur Sesar Lembang membantu dalam menyusun zonasi risiko yang lebih presisi. Misalnya, bangunan vital sebaiknya dijauhkan dari jalur sesar, sementara daerah dengan potensi guncangan tinggi wajib menerapkan standar konstruksi tahan gempa.
Supartoyo menambahkan bahwa dengan segmentasi sesar, pihak terkait memiliki peta risiko yang lebih tajam untuk melindungi Bandung Raya. Kesiapsiagaan dan implementasi standar bangunan harus konsisten agar risiko korban jiwa dan kerugian ekonomi dapat diminimalkan. Analisis segmentasi, integrasi data geofisika, serta pemahaman geologi lokal menjadi dasar strategi mitigasi yang tepat sasaran.
Advertisement
Sumber: AntaraNews